Anak Genius Dewa Kebersihan

Anak Genius Dewa Kebersihan
Drama dan air mata


__ADS_3

" Baiklah! Tidak masalah jika kau tidak mau bicara padaku, aku akan menghapus vidio itu sampai tidak ada jejak, polisi akan membebaskan dea karna tidak ada lagi bukti untuk menahannya"


" issshhh.... Arsenaaaa.... Apa kau tidak bisa pura-pura tidak tahu saja nak!"


Penyamaran iren yang sempurna terbongkar oleh sang putra, ia mendengus kesal seraya membanting tubuhnya untuk duduk diatas kasur, iren menatap arsena lalu memukul bokong sang putra seraya mengancam untuk tidak memberitahukan kebenaran pada siapapun.


" Kau ....


Belum sempat arsena bicara iren sudah mengeluh " kau? Apa aku mengajarimu untuk bicara tidak sopan seperti itu? "


" Amihku tidak pernah mengajariku untuk bicara tidak sopan, masalahnya kau bukan amihku, benarkan kakak cantik!" ucap arsena seraya duduk di samping iren


" dasar anak pintar" ucap iren seraya mengacak rambut arsena

__ADS_1


" jadi kenapa dan untuk apa drama ini?" tanya arsena


" Sebaiknya kau diam dan tidak usah ikut campur sena, aku ingin menyelesaikan masalahku sendiri" ucap iren, ia membuka kacamata tebalnya di hadapan sang putra


Arsena menghela napas kasar, ia memasang raut wajah kecewa sambil mengeluh " Amih membuat drama tanpa memikirkan perasaanku, padahal beberapa hari yang lalu aku jadi galau gara-gara drama itu, aku sampai berpikir bahwa aku adalah anak yang durhaka, di saat tubuh wanita yang melahirkan ku terbujur kaku di hadapanku aku justru malah merasa lega, dan sekarang aku galau lagi karna amih tidak mau cerita"


Kini giliran iren yang menghela napas kasar, ia tidak habis pikir pada dirinya sendiri, bisa-bisanya ia luluh dengan begitu mudahnya setelah mendengar keluhan sang putra.


" aku ingin mengusir lalat-lalat yang menempel pada papimu sena" ucap iren kemudian


" tidak sena! Biarkan amih yang bertarung nak! Seperti papi mu yang melenyapkan kebenciannya pada keluarga candra demi untuk bersama amih, amih juga harus menjadi kuat nak, sena mau bantu amih kan! " Arsena mengangguk lalu memeluk iren dengan sangat erat.


Suara pintu yang dibuka mengalihkan pandangan keduanya, maya masuk ke dalam kamar dengan air mata yang terus mengalir tanpa bisa dihentikan, ia memeluk iren saat iren berdiri dari duduknya.

__ADS_1


" Seperti sena yang galau saat melihat jenazah mu, seperti itu pula perasaan mama iren, mama merasa asing padamu saat itu, syukurlah kau baik-baik saja nak" ucap maya di tengah isakannya.


" Maafin iren ma, iren tidak bermaksud membohongi mama, hanya saja....


Maya melepas pelukannya lalu memotong perkataan iren " sudah tidak usah di jelaskan iren, mama sudah mendengar semuanya, kau harus tahu nak, mama di sini mendukung dirimu"


" Terimakasih sudah mau mengerti ma" ucap iren yang kembali memeluk mama mertuanya itu, ia juga mengajak arsena untuk bergabung dalam pelukan hangat itu.


Arsena menyeka air mata di pipi iren dan maya bergantian, lalu berkata " Kalian para orang tua masih saja cengeng seperti anak kecil"


Iren dan maya jadi tertawa dengan tingkah lucunya itu, arsena yang cerdas mempertanyakan sesuatu pada neneknya itu " Aku sudah memasang dinding kedap suara dan mengunci pintu kamar, bagaimana nenek bisa masuk dan mendengar semuanya?"


" Cucuku yang pintar ini sepertinya lupa bahwa nenek adalah nyonya besar di rumah ini, semua kendali rumah ada di ponsel pintar nenek, dan semua kunci selalu menggantung di pinggang nenek" ucap maya menjelaskan, namun iren jadi khawatir setelah mendengar ucapannya.

__ADS_1


" tenang saja iren, selain aku tidak ada lagi yang mendengarkan percakapan kalian, saat aku naik semua pelayan tengah berkumpul di paviliun, aditya mencurigai vidio tentang dea itu di buat oleh pelayan kita, jadi adi meminta pak eka untuk memeriksa semua pelayan, sementara aditya, roby dan naya ikut bersama polisi untuk dimintai keterangan" tutur maya, kepekaan wanita yang sudah tidak muda lagi itu sungguh luar biasa.


__ADS_2