Anak Genius Dewa Kebersihan

Anak Genius Dewa Kebersihan
Seperti hantu


__ADS_3

Nia membawa mama maya yang mengeluh bosan untuk duduk di ruang keluarga, dari ruangan itu bisa terlihat aditya, stevan, roby dan arsena tengah menyantap makan malam mereka dengan tenang.


“ loh.. Stevan masih di sini? Bibi kira kamu udah pulang” ucap maya setelah mudaratkan tubuhnya untuk duduk di sofa.


“tadi sena ngajak main bi, karena stevan kebetulan lagi libur jadi stevan turutin deh” jawab stevan.


“ sena gak ngerepotin kamu kan van? “ tanya maya lagi


“ engga ko bi, stevan malah senang main sama sena” jawab stevan sambil tersenyum


“syukur deh kalau kamu senang main sama sena, di lanjut aja van, makan yang banyak van, jangan malu-malu” seru mama maya saat melihat stevan berhenti makan hanya untuk menjawab pertanyaannya.


“ stevan ga pernah malu-malu ko ma, kalau malu-malu in si iya” ucap aditya meledek


“ malu-malu in mana sama kakak yang bawa cewek ke rumah, tapi di peluk aja masih gumoh,,, eaaa...“ ucap stevan balas meledek aditya.


Semua orang ikut menertawai aditya, bahkan para pelayan yang ada di sekitarnya pun ikut tertawa kecil, kecuali nia, pelayan satu itu justru malah sibuk dengan pikirannya, hatinya mendadak tak karuan mendengar kata ‘di peluk'.

__ADS_1


“ kamu masih gumoh di peluk cewek adi? “ tanya mama maya,


Wanita tua itu berpikir penyakit psikis aditya sudah sembuh, karna sejauh pengamatannya, putranya itu sudah banyak berubah, aditya tidak lagi berlebihan dalam hal kebersihan, ia bahkan mandi lebih cepat dari biasanya, terlebih sikapnya pada iren yang selalu seperti singa kelaparan sentuhan.


Nia juga melirik ke arah aditya, menunggu jawaban dari pria itu, namun aditya hanya mengangguk karna mulutnya masih terisi penuh dengan makanan.


Tidak ada lagi pembicaraan lain setelah itu, maya membiarkan mereka menghabiskan makan malam dengan tenang, yang terdengar menggema di ruangan itu hanya suara televisi yang tengah maya tonton.


Aditya, dan stevan duduk bergabung dengan mama maya, di susul oleh arsena yang mendudukkan diri di samping nia, sementara roby pamit sebelum malam semakin larut.


“ stevan boleh menginap di sini gak bi?” tanya stevan


“ paman tidur sama sena ya!” seru arsena yang mendapat anggukan stevan


Arsena tiba-tiba menggeser duduknya, anak itu langsung membaringkan diri dengan menjadikan kaki nia sebagai bantal saat menyadari nia berniat pergi.


Anak yang genius itu menyadari bahwa nia selalu menghindar dari aditya, dan arsena sangat tidak suka melihat hal itu, ia berpikir akan jauh lebih baik jika aditya mengetahui siapa nia sebenarnya, tapi demi menghargai keinginan amihnya, ia tetap bungkam.

__ADS_1


“ tante naya tidak terlihat dari siang” ucap arsena


Stevan kemudian menceritakan bualan yang mereka katakan pada naya, suara gelak tawa di ruangan itu terdengar begitu kencang setelah stevan selesai bercerita, tapi sayang iren yang sedang menyamar sebagai nia itu hanya bisa menahan diri untuk tidak ikut tertawa lepas.


Mereka membubarkan diri saat malam semakin larut, nia mengantar maya kembali ke kamar dulu, aditya, arsena dan stevan naik menuju lantai atas, tujuannya sama, merek juga hendak masuk ke dalam kamar untuk istirahat.


Sama seperti malam-malam sebelumnya, aditya akan berdiri di balkon, menatap gelapnya langit malam, bicara pada angin yang berembus, berharap rindunya dapat tersampaikan pada sang istri yang sudah tidak lagi ada disampingnya.


Namun ada satu perbedaan yang terjadi malam ini, naya juga masih terjaga, wanita itu terus saja mondar-mandir di dalam kamarnya, ia gelisah karna satu persatu antek-anteknya lepas dari genggaman, indah tiba-tiba pulang kampung dan ayu, naya melihat kepala wanita itu siang tadi.


Wanita itu benar-benar telah kehilangan para pendukungnya, otak yang biasanya ia pakai untuk membuat rencana itu kini mendadak buntu, berjuta kerumitan di kepalanya membuat wanita itu tidak bisa tidur.


Angin yang kencang membuat jendela kamar itu bergerak, dengan langkah ragu naya mendekati jendela itu, walau rasa takut masih menyelimuti dirinya, ia tidak bisa terus membiarkan jendela kamarnya terus terbuka.


Naya mendadak terdiam ketika pandangannya menangkap sesosok wanita yang berdiri di bawah pohon maple, dress warna putih serta rambut panjanya yang tergerai membuat penampilan terlihat seperti hantu.


Saat sosok itu berbalik, naya menggumamkan satu nama sebelum akhirnya jatuh pingsan, nama itu juga terucap dari bibir aditya yang saat itu mengalihkan pandangannya, menunduk melihat ke arah pohon maple yang sama.

__ADS_1


“ iren! “


__ADS_2