
Arsena yang tengah berada di dalam kelas dikejutkan dengan sinyal pertanda bahaya yang menyala di jam tanganya, ia pun meminta izin pada gurunya untuk pergi ke kamar kecil .
Setelah berhasil mendapat ijin dan keluar dari kelas, arsena mencari tempat yang sepi dan juga aman dari kamera pengawasan, ia menghubungi lion, namun lion terus menolak panggilan itu, dan akhirnya arsena memilih untuk mengirim pesan.
A2l
Bagus sekali paman!
Setelah mengirim sinyal paman terus menolak panggilanku
^^^Lion^^^
^^^Maaf guru^^^
^^^Ada tuan dev di sekat saya^^^
A2l
Ada masalah apa?
^^^Lion^^^
^^^Amih iren^^^
A2l
Amih kenapa?
Hai paman
Balas cepat
Jangan membuatku khawatir
p
p
p
^^^Lion^^^
^^^Maaf guru^^^
^^^Saya mengirim pesan diam-diam jadi tidak bisa membalas pesan dengan cepat, saya takut tuan dev curiga^^^
A2l
Hmmm...
Sekarang katakan ada apa dengan amih?
^^^Lion^^^
^^^Tuan dev membawa amih guru ke markas dalam keadaan terluka^^^
^^^Saya tidak tahu harus berbuat apa, jadi silahkan berikan perintah guru^^^
A2l
Bagaimana keadaan amih sekarang?
__ADS_1
^^^Lion^^^
^^^Amih guru sedang di periksa dokter^^^
^^^Tidak perlu khawatir guru^^^
^^^Dokter yang mengobati amih guru adalah dokter terbaik^^^
A2l
Jaga amih baik-baik dan kabari terus perkembangannya padaku.
Satu hal lagi
Hubungi aku melalui vidio call jika ada kesempatan
^^^Lion^^^
^^^Siap guru^^^
^^^Guru tenang saja^^^
^^^Bagi kami guru yang utama^^^
A2l
Good
Setelah berkirim pesan dengan lion, arsena pergi ke kamar asramanya, ia mengambil uang yang ia sembunyikan dari pengurus, kemudian pergi meninggalkan sekolah.
Arsena pergi menuju ke kediaman roby dengan menggunakan taksi, begitu arsena sampai, anak itu langsung turun dari mobil lalu berlari melewati gerbang.
" hei sena! Kembali kau kemari, berani sekali kau kabur dari sekolah, gurumu sampai menelpon papi karna mencemaskan mu, jangan suka tiba-tiba menghilang begitu, sena! Kau harus kembali ke sekolah sekarang, kau dengar papi tidak"
Arsena terus berlari dengan mengabaikan ucap aditya, yang juga terus mengikuti langkah kakinya.
Roby bergegas mendahului aditya, ia menutup pintu kamarnya setelah arsena masuk ke dalam sana.
" Roby apa yang kau lakukan? " tanya aditya kesal saat melihat roby mengunci pintu kamarnya dari luar
" Harusnya aku yang bertanya aditya, apa yang mau kau lakukan? " roby malah bertanya balik
" Roby! Aku harus bicara pada putraku, cepat buka pintunya, kau juga melihat dia masuk ke kamarmu kan!" ucap aditya dengan nada tegas
" Sadarlah aditya! Di dalam sana ada istriku, yang mungkin saja belum memakai baju, kau pikir aku rela memperlihatkan tubuh istriku padamu" ucap roby sambil berkacak pinggang
" ah... benar juga! Ya sudah, ayo kita pergi saja" ucap aditya
" kemana? " tanya roby
" Mencari istriku lah? " jawab aditya cepat
" Kau sudah gila? Kau tidak lihat aku cuma pakai handuk begini" ucap roby kesal
" Ada bajuku di mobil, kau bisa memakainya, ukuran baju kita kan sama" ucap aditya, ia menarik roby untuk ikut bersamanya.
Perdebatan dua sahabat itu sampai terdengar ke dalam kamar, arsena dan maria sampai terkekeh mendengarnya.
" Apa papi dan suami kakak selalu begitu arsen? " tanya maria yang tengah sibuk mengenakan seragamnya.
" Mungkin!" seru arsena seraya mengangkat bahunya,
__ADS_1
Arsena hendak keluar dari kamar, namun tidak bisa karna sepertinya roby lupa untuk membuka kembali pintunya.
Maria mempersiapkan tali dengan cepat, lalu berseru " Sudah siap kan! Ayo pergi arsen"
Maria dan arsena terpaksa keluar dari kamar itu melalui jendela. Setelah keluar dari gerbang, keduanya menaiki taksi yang tadi arsena naiki, taksi itu masih menunggu di dekat gerbang karna arsena memang sengaja belum membayar ongkosnya.
Mobil itu kembali melaju mengikuti arahan arsena hingga tiba di sebuah warung kopi sederhana, keduanya turun secara bersamaan, taksi itu lalu pergi setelah menerima bayaranya.
Maria memberi hormat pada pedagang kopi yang menghampirinya, namu kemudian ia di tarik masuk kedalam gubuk, dan arsena mengikuti dari belakang dengan langkah santai, anak itu bahkan mencari tempat yang bisa ia duduki dengan nyaman.
" Siapa kau?" tanya wanita itu yang tidak lain adalah ria, agen CBI yang pernah memberikan informasi tentang david pada iren.
" Maria, agen CBI dari yaman" ucap maria seraya menunjukan kartu Identitas nya
" Kenapa kau memberi hormat padaku? " tanya ria
" kakak sedang dalam tugas untuk membawa tante kembali" sahut arsena
" hei anak kecil! Jangan ikut campur dalam pembicaraan orang dewasa, itu tidak sopan" ucap ria menasihati
" jangan panggil aku anak kecil tante, tante tidak tahu ya! Aku memiliki andil besar untuk membantu tugas kakak dalam mencari tante" keluh arsena seraya berkacak pinggan
Maria tersenyum melihat tingkah arsena, ia menghembuskan nafas panjang sebelum bercerita pada ria.
Maria memberi tahu bahwa anggota CBI lain sudah tahu tentang kejahatan david, namun mereka kesulitan untuk mendakwa david karna tidak adanya bukti.
Maria ditugaskan untuk mencari ria, dan membawanya kembali masuk dalam organisasi untuk membantu mengatasi david, ria awalnya menolak, namun saat arsena memberi tahu tentang amihnya, ria pun setuju.
Ria menutup warung itu lalu pergi mengantar arsena pulang ke kediamanya, mereka lalu melanjutkan perjalanan menuju ke markas CBI untuk menyusun rencana.
Arsena masuk ke dalam rumah dengan santainya, ia menapaki anak tangga seraya menghela nafas panjang, anak itu merasa sangat kelelahan.
" Sena! kau pulang? " maya nampak terkejut melihat cucunya
Arsena berbalik badan dan melihat sang nenek yang sepertinya juga baru pulang, ia menatap neneknya lekat lalu memulai aktingnya.
" Nenek..... Papi memarahiku karna aku kabur dari sekolah, padahal aku kabur karna rindu pada amih dan papi" ucap arsena sambil terisak
Maya mendekati cucunya dengan langkah cepat, ia menggendong cucunya yang tengah menangis itu, mmembawanya untuk duduk di sofa, maya mengusap air mata cucunya sambil berkata " sudah jangan menagis, nanti biar nenek marahi papimu, malam ini kau menginap di sini ya! Nanti nenek akan hubungi pihak sekolah juga untuk minta izin, mereka pasti cemas karna kau pergi tanpa izin"
Arsena kembali memeluk sang nenek sambil mengucapkan terimakasih, anak itu merasa senang memikirkan dirinya akan terbebas dari kemarahan papinya, setidaknya satu masalah telah selesai, pikirnya.
" Sudah-sudah" maya melepaskan pelukan diantara mereka
" sena susah makan? " Arsena menggeleng pelan
" Ya sudah! Kita makan dulu, sena mau makan apa? " tanya maya, ia kembali menggendong cucu kesayangannya itu, membawanya ke ruang makan
" Sena mau makan pizza sama minum cola, boleh kan nek? " Sena memasang wajah memelasnya
" Jika amihmu tahu nenek bisa dimarahi, tapi karna amihmu tidak pulang ke rumah nenek, jadi nenek akan turuti keinginanmu" ucap maya yang kemudian mencubit hidung sena
" yeyyy.... makan pizza, terimakasih nenek, nenek yang terbaik" seru arsena dengan riang.
Di saat aditya pusing memikirkan masalah yang dibuat anaknya, dan memikirkan istrinya yang tiba-tiba menghilang, arsena malah tengah menikmati makan malamnya dengan lahap.
Karna tadi aditya meninggalkan arsena di rumah roby, ia pun menelpon pihak sekolah untuk menanyakan apakah putranya sudah kembali ke sana atau belum, namun mereka memberitahu aditya bahwa arsena pulang ke rumah neneknya.
Hal itu membuat aditya sedikit bernafas lega, setidaknya arsena lebih aman di rumah ibunya, karna sebelumnya ia sudah meminta petugas keamanan rumah untuk memperketat penjagaan.
Aditya sekarang bisa fokus mencari iren.
__ADS_1