Anak Genius Dewa Kebersihan

Anak Genius Dewa Kebersihan
Pulpennya jatuh


__ADS_3

Aditya tersenyum saat tidak sengaja melihat belahan dada naya, bukan karna tertarik dengan tubuh sekretarisnya itu, melainkan karna sebuah ide yang melintas di kepalanya.


Aditya menarik pulpen dari tempatnya sesaat setelah naya berdiri tegak di hadapannya, senyuman yang aditya perlihatkan membuat naya salah faham, terlebih saat wanita itu melihat aditya dengan sengaja menjatuhkan pulpennya.


" Ops... pulpennya jatuh! Sepertinya kau harus menunggu lebih lama" ucap aditya seraya tersenyum jahil.


Naya menggigit sebagian bibirnya untuk semakin menggoda aditya, tapi sayangnya aditya tengah sibuk membayangkan bagaimana rencananya berjalan.


Naya kemudian memegangi roknya dan siap dengan rencana untuk menyingkap rok itu, ia ingin aditya melihat kaki jenjangnya yang mulus dari kolong meja saat nanti pria itu mengambil pulpen.


Naya yang masih berpikir aditya menjalin hubungan dengan roby itu berharap, aditya akan jadi lurus dan tertarik ke padanya.


Bukanya mengambil bolpoin yang jatuh, aditya malah menekan bel untuk memanggil iren, pria itu kemudian bersandar di kursinya dengan begitu santai, ia menunggu asisten sekaligus istrinya itu dengan senyuman dan tatapan mata yang liar.


Karenanya naya tampak kebingungan dengan tingkah aditya, batinya berkata " kenapa pak adit malah memanggil iren? Senyuman dan tatapan penuh napsu itu, sebenarnya apa yang tengah ia rencanakan? "


Sementara itu.


Di ruangan roby, iren baru saja bisa memfokuskan diri pada pekerjaaan, setelah sebelumnya terus memikirkan tindakan aditya yang tak terduga.

__ADS_1


Bunyi alarm panggilan mengalihkan perhatian iren, ia langsung bangkit dari duduknya kemudian bergegas pergi memenuhi panggilan itu, dengan sebuah harapan ' semoga aditya memanggilku karna masalah pekerjaan, bukan karna hal lain'


Naya tampak tengah berdiri di hadapan aditya saat iren masuk ke ruangan ceo, iren berjalan mendekat lalu berdiri tegak di samping naya.


Iren melirik naya sesaat untuk melempar senyum sapa, lalu ia tidak sengaja melihat kancing baju naya yang terbuka.


Iren memiringkan sedikit tubuhnya untuk berbisik pada naya " nay kancing atas bajumu terbuka"


Naya menundukan kepala lalu pura-pura terkejut, menampakan dirinya yang seolah tidak tahu menau tentang hal itu, namun di dalam hati ia merasa dongkol pada iren.


Iren mengabaikan naya yang berbalik membelakangi aditya untuk membenahi pakaiannya, kemudian menatap lurus ke arah pria yang tersenyum dengan sangat lebar itu.


“ bolpoin ku jatuh, bisa tolong ambilkan”


'WHAT?'


Pertanyaan besar itu tidah hanya ada dalam hati iren, tapi juga naya, sekretaris itu langsung kembali berbalik lalu melayangkan tatapan kesal pada iren.


' kenapa pak adit memanggil iren untuk hal sepele, aku ada disini, dia bisa memintaku untuk melakukan itu, kenapa harus iren?' batin naya menjerit takala ia merasa keberadaanya tidak di anggap disana.

__ADS_1


Iren sendiri tampak kesal mendengar aditya memberi perintah sepele yang tidak ada konteksnya dengan pekerjaan, ia juga melirik naya yang berdiri di sampingnya, sehingga keduanya saling beradu pandang, iren bisa membaca raut wajah naya yang terlihat tidak senang.


" jangan lupa bahwa tugas asisten adalah membantu bosnya! " seru aditya yang mengalihkan pandangan kedua wanita di depanya.


Bersama dengan helaan nafas yang berat iren melangkah mendekati kursi aditya, hatinya berharap ' semoga saja aditya tidak sedang merencanakan sesuatu'


Iren langsung merunduk begitu ia sampai di samping aditya, ia mengambil pulpen yang ada di dekat kaki bosnya itu, sebuah serangan tiba-tiba yang iren rasakan membuat iren inging menjerit, namun ia tahan sekuat tenaga.


Iren terus menutup mulutnya rapat-rapat agar tidak mengeluarkan suara, namun semakin lama gejolak yang ia rasakan dalan dirinya semakin kuat, gelenyar yang ia rasakan sampai membuat tubuhnya lemas tak bertenaga, hati iren sampai membatin.


' Apa ini? kenapa rasanya aku kehilangan kendali atas diriku sendiri'


Aditya berhenti meremas dan memainkan buah dada iren, saat hasrat di dalam dirinya ikut membuncah, ia lalu berkata " kenapa kau membuang waktuku iren? Apa tanganmu begitu pendek sampai kesulitan meraih pulpen ku" dengan ekspresi datar.


Iren meraih kasar pulpen yang kembali ia jatuhkan karna ulah aditya, ia melempar tatapan kesal pada suaminya itu, lalu mencengkram kuat paha aditya saat hendak beranjak bangun, sampai membuat mata aditya membulat karna menahan rasa sakit.


" maafkan ketidak cekatan saya bos" ucap iren seraya menyodorkan pulpen kepada pemiliknya.


Aditya mencengkeram tangan iren saat hendak mengambil pulpen dari tangan iren, ia bahkan tidak melepaskan tangan iren begitu saja saat iren berusaha menariknya.

__ADS_1


kejadian itu memperkuat dugaan naya, bahwa hubungan diantara suami istri itu memang tidak baik.


__ADS_2