
Aditya menyandarkan tubuh di kursinya, lalu melempar berkas yang baru saja selesai ia baca ke atas meja, ia mendengus kesal karna rasa rindu yang melanda hatinya begitu menyiksa.
Ingin bertemu tapi tidak bisa karna iren sedang pergi, ingin menelpon tapi ia tahu istri yang ia rindukan itu pasti tengah menyetir, yang bisa ia lakukan saat ini hanya menghela nafas panjang.
Dan di saat aditya hendak memeriksa berkas lain, kris tiba-tiba menyelonong masuk begitu saja, pria itu langsung duduk di sofa dengan santainya, tidak ada sapaan ataupun perkataan basa basi yang keluar dari mulut pria itu, yang terdengar darinya pun hanya helaan nafas frustasi yang sama.
Aditya menghampiri kris dan ikut duduk bersamanya, ia tersenyum melihat wajah kusut kris, setidaknya ia tidak galau sendirian, pikirnya.
" pusing ya! Terkadang memang ada aja kejadian yang di luar dugaan, tapi tenang saja, semua pasti beres" ucap aditya seraya menepuk pundak kris
Kris menatap aditya dengan tatapan heran, lalu bertanya" dari mana kau tahu masalahku? "
" istriku yang kini merangkap sebagai asistenku yang memberi tahu" jawab aditya
Kris menatap aditya dengan tatapan penuh tanya, pria itu menggaruk kepalanya karna setahunya istrinya dan istri aditya tidak saling kenal, ia mengabaikan pakta itu karna sangat malas berpikir.
" ini bukan kejadian di luar dugaan adi, sebenarnya dokter udah bilang, tadi gue tetep aja kaget, maklum lah anak pertama" ucap kris
Aditya menyadari perbincangan mereka tidak sejalan, apa yang aditya katakan dan apa yang kris katakan sama sekali tidak ada hubungannya.
Kris yang melihat tatapan aditya bisa menyadari hal yang sama, karna itu ia bertanya " kita lagi ngomongin apa emang? "
" kris! Aku ngomongin buaya di danau" ucap aditya menjelaskan
" Gue pikir kita lagi ngomongin soal emosi istri gue yang ga stabil" ucapnya sambil menyandarkan tubuh, namun hanya sebenatar, ia mencerna ucapan aditya dengan cepat lalu kembali duduk dengan tegak.
__ADS_1
"tunggu! Buaya di danau? Itu maksudnya apa adi? "Kris nampak bingung dengan ucapan aditya
"Iren mendapat laporan bahwa ada buaya di danau belakang resort yang lagi lue kerjain, dan ada juga pekerja yang terluka karna buaya itu"
"What?" kris sampai memekik saking terkejutnya
"Gada buaya satu pun di sana adi, dan kalaupun ada masalah seperti itu, mereka pasti kasih tau gue, kita udah kerjasama sejak lama adi, dan loe tau kan! Kalau ada masalah gue pasti kabarin lue langsung, sejak kapan gue kabarin asisten lue, apalagi kak roby, lue pikir gue berani sama dia" ucap kris, pria itu kembali menyandarkan diri di sofa
Aditya memikirkan ucapan iren dan ucapa kris yang sangat berbeda, hatinya mendadak menjadi gusar, ia lalu mengingat mimpi buruk yang pernah singgah dalam tidurnya, mimpi buruk yang membuatnya mengambil keputusan untuk mengakhiri pendekatan dengan menikahi lagi istrinya.
Melihat aditya yang nampak cemas kris pun bertanya " kau tidak mengirim istrimu kesana kan? "
Aditya menatap heran pada kris yang mengajukan pertanyaan seperti itu, kris terlihat menatapnya dengan serius.
Setelah mendengar penuturan kris aditya bangkit dari duduknya, ia bergegas mengambil ponsel miliknya yang ia letakan di atas meja kerjanya.
Aditya menghubungi iren, ia menjadi panik saat panggilanya tidak mendaat jawaban, ia menghubungi roby namun pria itu juga tidak bisa dihubungi, hal itu membuat aditya sangat kesal.
Aditya meninggalkan kris dan semua pekerjaannya begitu saja, ia membawa mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju ke kediaman roby.
Aditya menerobos masuk begitu saja, bahkan penjaga dan pengurus rumah pun tak bisa menghentikanya, ia bahkan sampai mendobrak kamar roby.
" ahhh.... " Maria menjerit saat melihat aditya di ambang pintu
Roby yang hendak mencapai pelepasanya sampai di buat terkejut dengan kedatangan aditya, yang sampai berani menerobos basuk ke dalam kamar, cairan yang harusnya tumpah di dalam rahim jadi berceceran di mana-mana.
__ADS_1
" ahhh.... sial" roby sampai mendengus kesal karna frustasi pada keadaan.
Sepasang pengantin baru itu merasa seperti pasangan yang tengah di grebek saat melakukan dosa besar.
Roby melupakan persahabatannya dan statusnya sebagai asisten, ia melilitkan handuk di pinggang dan langsung menyerang aditya dengan bantal yang ia raih dari atas tempat tidurnya.
" berani sekali kau melakukan penghinaan seperti ini terhadapku, kau itu sahabat atau musuh hah! " ucap roby seraya menyerang aditya secara bertubi-tubi.
" ampun roby, ampun...." aditya terus mengatakan itu seraya melindungi wajahnya dengan tangan, seperti seorang penjahat yang ketahuan hendak mencuri.
" katakan, apa yang membuatmu sampai melewati batas seperti ini? " tanya roby dengan nafas yang memburu, ia berhenti memukuli aditya dan melempar bantal yang ia pegang ke sembarang tempat.
" Aku butuh bantuanmu, ini sangat penting, iren mungkin saja dalam bahaya" ucap aditya.
Roby mendudukan diri di sofa, sementara aditya duduk di lantai sambil menjelaskan situasi yang terjadi, jika ada orang lain yang melihat keduanya, mereka pasti berpikir roby lah bosnya.
.
.
.
.
Malang kali nasibmu rob, kau selalu diganggu di saat tengah asik-asinya.
__ADS_1