
Aditya pulang dengan tubuh yang lemas, pria tampan itu bahkan terlihat malas saat melangkah kakinya masuk ke dalam rumah, raut wajahnya pun lesu tak bertenaga.
“Pak eka di mana nia? “ tanya aditya saat berpapasan dengan kepala pelayannya itu
“ nia sedang bersih-bersih tuan” ucap pak eka
“ di mana? “ tanya aditya lagi
“ di salah satu sudut mansion tuan yang besar ini” ucap pak eka sambil tersenyum,
Namun adirya tampak tidak senang mendengar jawaban itu, helaan nafasnya terdengar sangat berat, aditya yang hendak menaiki anak tangga menghentikan langkahnya saat pak eka menggantung kunci di hadapan wajahnya.
“ Dea menitipkan kunci kamar tuan pada saya tadi “ ucapnya, sepertinya kepala pelayan itu sudah tertular sikap jahilnya arsena.
Aditya mengambil kunci itu dengan kasar dan langsung pergi ke kamarnya, pria itu merasa kesal, entah karena dea menitipkan kunci pada pak eka, atau karena aditya tidak bertemu dengan nia, atau bisa juga karena pak eka menjahili dirinya, entahlah.... jika aditya sendiri tidak tau, bagaimana aku bisa tahu?
__ADS_1
Malam ini maya dan arsena turun untuk makan malam di meja makan, suasana hati mereka sudah membaik, kegalauan keduanya telah sirna karena iren.
" aditya masih tidak mau turun? " tanya maya pada pelayan
" tuan adi bilang mau makan di kamar saja nyonya, tanggung katanya" ucap pelayan seraya menyiapkan makanan untuk tuannya itu
" tanggung? " tanya maya
" iya nyonya, sepertinya tuan sedang bekerja, tadi saya liat tuan adi memangku laptop " ucap pelayan
" Sepertinya sejak kemarin nyonya, kemarin madam liz datang membawa beberapa berkas" terangnya, pelayan itu kemudian membungkuk memberi hormat sebelum akhirnya mengantar makanan untuk aditya ke kamarnya.
Arsena menarik nia kemudian berbisik menanyakan sesuatu " apa amih tidak berencana untuk memberi tahu papi?"
" tidak sayang, terlalu banyak mata di rumah ini, dan mami belum mengetahui siapa yang menjadi mata untuk naya, jika pak eka saja tidak bisa mengungkapnya, itu artinya dia cukup lihai" itulah yang iren tulis dan tunjukan pada arsena.
__ADS_1
Maya dan arsena menikmati makan malamnya, mereka bahkan makan dengan lahap, sementara aditya masih tidak mau turun untuk makan malam bersama, hanya pria itu yang makan di dalam kamarnya, dan itu pun masih dengan posisi yang sama, hanya beberapa suap untuk mengganjal perut yang terasa lapar walau hatinya galau.
Dan lagi-lagi pria tampan itu kesulitan untuk tidur, seperti yang suda-sudah ia berdiri di balkon untuk mencari ketenangan dengan menatap langit malam.
Berbeda dengan langit malam kemarin, hari ini langit terlihat mendung, aditya tak bisa melihat bulan dan bintang karna mereka bersembunyi di balik awan hitam.
Waktu terus bergulir dan malam semakin larut, namun aditya masih belum beranjak dari sana, rasa lelah tak lantas membuat pria itu mengantuk.
Aditya kembali meminum pil tidurnya, ini sudah di kedua kalinya sejak iren tidak lagi di sisinya, pada malam di hari iren dibawa ke rumah dalam keadaan tak lagi bernyawa, pada malam itu pula penyakit insomnia aditya kambuh.
Malam itu aditya tak meminum pil tidurnya, ia tetap terjaga semalam suntuk, seperti menghukum dirinya sendiri yang tidak bisa menangisi kepergian sang istri.
Aditya memutuskan untuk kembali mengonsumsi pil tidurnya, itu pun karna ia mengingat tanggung jawabnya kepada perusahaan dan juga sang putra yang masih harus ia perhatikan.
Aditya mulai terlelap bersamaan dengan rintik hujan yang mulai turun membasahi bumi. Sementara itu, di kamar lain iren justru terbangun dari tidurnya, wanita itu mengingat kebiasaan sang suami yang memasang AC dengan suhu terendah, iren merasa yakin bahwa suaminya itu pasti tengah tidur sambil menggigil karena udara di luar juga dingin karena hujan yang turun semakin deras.
__ADS_1