
Malam sudah larut, namun aditya masih berdiri di depan jendela, ia menatap rintik hujan di luar sana yang mulai membasahi bumi, rasa kantuk seolah enggan menghampirinya, mungkin karna terlalu banyak yang tengah ia pikirkan.
Aditya memalingkan wajah ke arah meja, ia menatap alat infus yang sudah ia lepaskan beberapa saat lalu, kemudian pandanganya beralih menatap istri dan anaknya yang sudah terlelap di atas ranjang.
Pria itu menghela nafas berat, seolah hendak mengambil keputusan yang sulit, ia meraih ponsel di sakunya, mengirim pesan pada seseorang yang tinggal jauh dengannya, lalu meletakkan ponselnya di atas nakas.
Aditya membaringkan dirinya di samping arsena, lalu berusaha untuk tidur, perlahan pria itu pun bisa terlelap hingga pagi menyapa, dan bahkan ia melewatkan jam di mana ia biasanya sudah siap dengan setelan jasnya.
" amih! are you ok!" tanya arsena
“ everything sucks (semuanya menyebalkan) “ ucap iren seraya meletakan ponsel arsena di atas meja, lalu arsena pun meraih ponsel miliknya itu.
“Aku akan ikuti setiap permainan mereka, dan akan aku akhiri semuanya dengan sangat baik, jika perlu aku akan menggemparkan dunia” ucap iren yang kemudian bangkit dari duduknya.
Iren memakaikan jas sekolah arsena dengan senyum yang terus mengembang, sesekali wanita itu melirik ke arah aditya, pria yang biasanya sudah meninggalkan rumah untuk bekerja itu, hari ini masih tertidur dengan lelapnya.
“ sudah rapi, sekarang kau bisa turun ke bawah” ucap iren seraya mendorong tubuh mungil itu untuk keluar dari kamar.
__ADS_1
“ terima kasih atas bantuannya, tapi hari ini tanggal berapa ya?” ucap arsena ketika ia sudah berdiri di ambang pintu
“ sekarang tanggal 29 september 19xx, hari ini aku merayakan ulang tahun yang ke 17, sweet seventeen “ ucap iren dengan riangnya.
“ ya ampun amih!“ ucap arsena yang kemudian menepuk jidatnya, anak itu menghela nafas kasar seraya melangkah meninggalkan kamar.
Iren naik ke atas ranjang, ia duduk di dekat aditya seraya memandangi wajah tampan itu, tangannya bergerak, telunjuknya menekan pipi ramping nan mulus milik aditya, pria itu pun mencengkeram tangan iren sampai membuat iren tersentak kaget.
“ tanggal berapa iren? “ tanyanya dengan mata yang masih kesulitan ia buka.
Iren menahan tawanya, ia merasa pertanyaan aditya adalah hal yang lucu, karna biasanya pertanyaan yang keluar dari mulut orang yang baru bangun adalah “jam berapa? “ bukan pertanyaan seperti yang ia dengar dari aditya.
“ ini sudah jam 7 tuan” ucap iren
Aditya menarik tangan iren hingga membuat wanita itu jatuh ke dalam pelukannya, ia menatap wajah iren yang tampak terkejut karna perbuatannya.
Aditya mendaratkan sebuah kecupan singkat di bibir iren, lalu berkata “ itu hukuman karna kau salah menjawab pertanyaanku, yang kutanyakan itu tanggal bukan waktu”
__ADS_1
“ sekarang tanggal...
Iren menyebutkan tanggal di hari saat aditya membuatnya memakai rok sebatas lutut, wanita itu menatap jauh ke dalam mata aditya.
“ maaf” ucapnya lirih, air matanya menetes, namun wanita itu kemudian mencium aditya seraya melingkarkan tangannya dengan erat memeluk leher aditya.
Aditya membalas ciuman itu, suasana yang memanas membuat pria itu tidak puas, ia menginginkan lebih, karna itu aditya membanting tubuh wanitanya dengan lembut, mengungkung tubuh sang istri di atas ranjang, melayangkan sebuah serangan pada salah satu gunung kembar yang masih terbungkus rapih.
“ ahhh.... “ Aditya membuat sang istri mendesah dengan permainannya.
Aditya bangkit untuk sesaat, ia melepas baju yang ia kenakan, lalu melepas celananya, pusaka itu sudah siap untuk ia tancapkan di tubuh sang istri yang sudah ia lucuti pakaiannya.
Namun sayang seribu sayang, sebuah teriakan harus menghentikan kegiatan itu, aditya bahkan menggeram kesal karna tak jadi mengisi daya tubuhnya.
“ Adi kau sedang apa? Cepat turun nak! “
Seruan itu kembali terdengar dengan sangat nyaring, seolah ada sesuatu yang lebih penting dari apa yang hendak aditya lakukan saat itu, kali ini seruan itu diiringi dengan ketukan pintu yang begitu menuntut.
__ADS_1
Jika saja seruan itu bukan terdengar dari mulut sang mama, aditya pasti akan mengabaikannya, sungguh! Ia tidak akan peduli sedikitpun.