
" Ahhh..... Sakit.... ma...." Aditya mengaduh
Pria tampan itu langsung mendapat jeweran dari sang mama begitu masuk ke dalam rumah, mama maya menyerat sang putra masuk ke dalam kamarnya tanpa melepaskan tangannya yang mengait di kuping aditya, ia sangat kesal setelah mendapatkan pesan singkat yang menanyakan kebenaran tentang berita yang beredar di media.
"Kau sudah janji pada mama kan adi! " geramnya setelah membiarkan putranya terbebas.
" Kalau mama marah karna berita yang muncul di koran pagi ini, adi akan katakan dengan tegas, bahwa itu tidaklah benar, adi hanya datang untuk memenuhi undangan minum teh darinya" jelas aditya tengah berbohong pada mamanya.
" Ayolah ma! Percaya pada adi, apa selama ini adi pernah ingkar setelah berjanji pada mama" bujuk aditya saat menyadari sang mama tidak bisa mempercayainya dengan mudah.
" kalau begitu klarifikasi berita itu! " tantang mama maya
" ma.... Adi punya segudang pekerjaan yang lebih penting ketimbang mengklarifikasi gosip murahan itu" ucap aditya memasang wajah merajuk seraya mendudukkan diri di tepi tempat tidur.
Maya mengerang kesal melihat kelakuan putranya yang acuh, ia tahu iren pasti terluka, tapi jika ia mengatakan pada aditya tentang iren, itu artinya maya harus menjelaskan segalanya pada aditya, sementara sumpah janji yang ia ucapkan pada iren, menahan dirinya untuk memberitahukan kebenaran pada sang putra.
__ADS_1
Maya hendak meninggalkan kamar untuk menghampiri iren, yang ia pikir sudah pasti tengah menangis di dalam kamarnya, namun langkahnya terhenti di ambang pintu saat mendengar gumaman samar dari aditya.
" kau bilang apa barusan adi? " tanya maya yang kembali menghampiri sang putra, wajahnya terlihat kesal.
" ish... mama denger aja si! Adi lagi ngomong sendiri juga" jawabnya malas
" bilang apa kamu barusan? " desak maya
" Barusan adi bergumam gimana caranya minta ijin sama mama untuk menikah lagi, puas! " jawab aditya dengan santainya.
" ahh... Sakit ma.... daun telinga aditya bisa lepas kalau mama menjewer adi seperti ini" keluh aditya seraya menepis tangan sang mama dengan halus.
Maya tidak berniat untuk menyakiti sang putra, tapi ucapannya barusan itu tidak bisa ia terima, kebimbangan merasuk ke dalam hati mama maya, aditya bilang ia tidak akan mengingkari janjinya, tapi kenapa putranya juga bilang bahwa ia ingin menikah lagi.
" Jelaskan! " desak mama maya
__ADS_1
" Apa lagi yang harus adi jelaskan ma? " tanya aditya pura-pura bodoh, padahal ia ingin menghindar karna merasa belum siap mengungkapkan perasaanya pada sang mama.
" mau mama jewer lagi kamu"
" ampun ma! " ucap aditya cepat seraya menghindar dari tangan mama maya yang hendak menarik kembali daun telinganya.
" tapi janji dulu, mama tidak boleh marah pada adi, adi kan tidak salah"
" ish..." mama maya menggeram kesal mendengar permintaan sang putra, wanita tua itu kan tidak mungkin tidak marah mendengar putranya ingin menikah lagi saat menantunya tengah memperjuangkan kedamaian pernikahan mereka.
" duduk yang tenang" ucap aditya seraya menarik tangan sang mama untuk duduk di tepi tempat tidur.
Aditya bangkit dari duduknya, ia menatap mama maya dengan serius, menundukan kepala, menghela nafas kasar, lalu berkata " Adi... belum siap mah" kemudian melarikan diri berlari keluar dari kamar sang mama.
" aditya..." maya meneriakkan nama putranya seraya meraih bantal, lalu melemparnya ke arah sang putra, namun aditya telah lebih dulu menutup pintu, hingga bantal itu terpental dan jatuh di bawah pintu yang sudah aditya tutup itu.
__ADS_1