
“ Dea? Kenapa kau ada di sini? “ tanya iren,
Iren terkejut melihat dea ada di dalam kamarnya, bahkan sampai duduk di atas tempat tidurnya, yang ia cemaskan adalah kebiasaan suaminya.
“ aku mencarimu iren, aku pikir kau yang sedang mandi” jawab dea dengan santainya.
Iren menarik tangan dea untuk bangkit dari duduknya, sambil berkata “ tamu itu harusnya ada di ruang tamu, bukan di dalam kamar tidur suami istri, turunlah, tunggu aku di bawah”
Iren membawa dea sampai ke depan pintu kamar, ia lalu menutup pintu kamarnya dengan perasaan kesal, tepat setelah itu aditya keluar dari kamar mandi.
“ Ada apa?” tanya aditya yang menyadari ada yang lain dari tatapan sang istri.
Iren hanya menghela nafas kasar setelah menatap suaminya dengan tatapan tajam, kebiasaan aditya yang keluar dari kamar mandi tanpa handuk itu benar-benar membuat iren gusar.
“ kenapa kau menatapku begitu hah?” tanya aditya lagi
Aditya masih penasaran karena belum mendapatkan jawaban, ia berjalan menghampiri iren dengan tangan yang masih aktif mengeringkan rambutnya dengan handuk.
__ADS_1
“ adi! Sebaiknya kau mulai membiasakan diri memakai handuk saat keluar dari kamar mandi, tadi dea di sini...
Iren menceritakan apa yang terjadi dan mengeluh pada suaminya, aditya tampak terkejut mendengar hal itu, ia juga tak habis pikir dengan tindakan dea yang begitu berani masuk ke dalam kamar mereka.
“ iya sayang! Aku berjanji, untuk ke depannya aku tidak akan lagi keluar kamar mandi dalam keadaan telanjang bulat” ucap aditya seraya mengelus lembut pipi iren.
Aditya mengulum senyum dan meminta iren untuk ikut tersenyum juga, keduanya masuk ke dalam ruang ganti untuk bersiap diri.
Kedua insan itu keluar dari kamar mereka setelah mengenakan pakaian rapi, iren melirik ruang tamu saat berjalan menuruni tangga, ia merasa heran karna tak melihat dea di sana.
“ Ada apa?” tanya aditya saat melihat iren tampak memikirkan sesuatu dengan serius
“ tadi di kamar tidur sekarang ada di ruang makan, aku tidak mengerti kenapa sikapnya seperti itu? Dea itu kan tamu, tapi sikapnya sama sekali tidak mencerminkan orang yang sedang bertamu, cih...! Menyebabkan“ ucap iren dalam hati ketika melihat dea tengah menikmati sarapan paginya
“ Amih!”
Seruan dari seseorang yang tak asing membuat iren memalingkan wajah, iren menatap arsena dengan tatapan bahagia, rasanya seolah semua kegundahan di dalam hatinya menghilang seketika, terlebih saat melihat putranya tersenyum dengan begitu manis.
__ADS_1
Irene memeluk sang putra seraya berkata “ arsenal sayang! Amih sangat merindukanmu nak, untung saja kau pulang, jika tidak amihmu ini mungkin akan jadi gila karna merindukan jagoan amih ini, pokoknya malam ini kamu harus menginap, titik ga pake koma”
“Sekarang tanggal berapa iren?” tanya ibu maya
Iren menyebutkan tanggal saat dirinya di jebak oleh david, dengan begitu santai ia duduk di samping arsena.
Maya menggelengkan kepala, sementara arsena menepuk jidatnya.
“Kenapa amih mu terus mengulang hari ini sena?” tanya maya, iren memperhatikan mertuanya saat ibu maya mengatakan itu.
“aku juga tidak tahu nek” jawab arsena, iren melihat ke arah putranya saat arti arsena mengatakan itu
“ Papi sih tidak masalah, yang penting amih mengingat papi setiap kali berpindah masa, itu saja sudah cukup, tidak masalah meski perlahan selama amih mu bisa sembuh total, papi mu ini adalah orang yang sabar” ucap aditya, iren beralih memperhatikan suaminya saat aditya mengatakan hal itu
“ Sebenarnya apa yang sedang kalian bicarakan, mengulang hari? Berpindah masa? Apa maksudnya itu? Aku ini tidak sakit aditya” ucap iren bingung, ia tak mengerti dengan apa yang tengah keluarganya bahas.
" iya sayang! kau tidak sakit, jangan di pikirkan" ucap aditya seraya mengelus lembut rambut iren.
__ADS_1
Dea terus memperhatikan keluarga itu, ia mendengarkan obrolan mereka dengan wajah datar, namun hatinya menari-nari kegirangan, kabar tentang keadaan iren saat ini seperti angin segar bagi dirinya.