
Deru nafas mereka mulai terasa memburu, gelora hasrat pun ikut naik seiring dengan tatapan mata yang semakin dalam, baik aditya maupun iren, keduanya perlahan mengikis jarak di antara wajah mereka.
Aditya meremas pangkal paha iren saat kening mereka bersentuhan, sementara iren memejamkan matanya bersiap untuk merasakan sebuah kelembutan, hanya tinggal menyisakan sedikit ruang jarak yang tersisa diantara wajah mereka, sampai...
Roby mendaratkan tangannya di bahu aditya, ia membungkukkan tubuhnya, menghentikan aksi ciuman yang hampir saja terjadi dengan satu kalimat “ tahan sebentar sobat” yang ia bisikkan di antara keduanya.
Aditya dan iren kembali menjauh bersama dengan kembalinya roby ke posisi tegaknya, ketiga insan itu memalingkan wajah dari satu sama lain, seraya menahan tawa secara bersamaan.
menghentikan aksi ciuman bos di ruang rapat memang hal yang fatal, tapi itu bukanlah kesalahan, meski begitu? Aditya tidak dapat memungkiri rasa kesal yang ia rasakan.
“Sial... Kenapa roby harus menghentikanku di saat aku hampir menautkan bibirku, memangnya dia tidak bisa menghentikanku jauh sebelum itu”
Aditya hanya bisa menggerutu dalam hati, ia berusaha meruntuhkan semua gelora hasrat yang masih tersisa.
__ADS_1
Sementara iren, rasa kesalnya tidak jauh lebih besar dari rasa malunya, bukan hanya pada roby saja, ia juga merasa malu pada dirinya sendiri, pasalnya ialah yang telah meminta suaminya untuk menjalani hubungan secara perlahan, tapi nyatanya! Tubuhnya benar-benar tidak sejalan, ia menginginkan sentuhan dari suaminya itu.
Mungkin saja ini karma untuk iren karna sering meledek roby, terlebih pada cara roby yang melakukan pdkt di atas tempat tidur.
Yang jelas! Kini keduanya sudah tersadar bahwa mereka masih berada di ruang rapat yang sama.
Aditya mengeluarkan ponsel dari dalam saku iren, memberikannya pada sang istri, iren mencoba melepaskan diri dari genggaman tangan aditya saat hendak mengambil ponselnya itu, namun aditya sama sekali tidak memberikan genggaman tangan mereka terlepas.
Setelah berdebat melalui isyarat mata, aditya memutuskan untuk tetap memegang ponsel itu agar mempermudah iren untuk menggunakannya.
Aditya merasa lega saat melihat nama ‘ibu maya' tertera dalam ruang chat itu, ekspresi wajahnya berubah mengernyit saat melihat satu nama kontak yang aneh, aditya menekan kontak itu untuk masuk ke ruang obrolannya, ia menatap iren dengan tajam saat mengetahui nama aneh itu adalah nama kontaknya.
“ yang benar saja! Siapa yang memberi nama kontak seaneh itu, dewa kebersihan? Cih...” gerutu aditya kesal
__ADS_1
Aditya menatap semua orang saat suasana rapat mendadak hening, ia menangkap kecemasan dari mata mereka.
“ oh... Jadi bukan hanya istriku saja” aditya menyimpulkan bahwa mereka juga menyimpan kontaknya dengan nama yang sama
“ tidak seperti itu pak!” sanggah naya, tanganya tengah bergerak di bawah meja, ia mengubah nama kontak aditya lalu menunjukkannya, kemudian berkata “ lihat, aku tidak menyimpan kontak bapak dengan nama yang aneh itu”
“ CEO tampan! “ aditya membaca nama kontaknya di ponsel naya, lalu berkata “ itu baru benar! Bagus naya”
“ benar apanya? Suamiku memang tampan apa itu perlu dikatakan, kau tahu adi, aku memberikan nama kontak dewa kebersihan karna dewa itu melambangkan sebuah keagungan, semua yang terbaik hanya dimiliki oleh dewa, dan bagiku kau adalah sosok pelopor dalam kebersihan, dewa kebersihan itu jauh lebih baik dari sekedar ceo tampan” terang iren,
Pujian aditya pada naya sudah menyulut api kecemburuan di hati iren, ia bahkan bicara dengan menggebu-gebu.
Pernyataan iren itu di dukung oleh mereka yang membutuhkan keselamatan dari amarah aditya.
__ADS_1
Sampai rapat berakhir suasana tampak baik hanya bagi segelintir orang, rapat pun terbilang berjalan dengan lancar walau fokus mereka terbagi karna melihat kemesraan kecil yang aditya tunjukan, bahkan sampai semua orang membubarkan diri, aditya tetap setia memegang tangan iren.