
Iren mempelajari berkas-berkas yang harus ia kerjakan, dea banyak membantu untuk memahami semuanya, namun ada banyak hal yang tidak bisa ia mengerti, yaitu ketika ia menyortir dokumen mengenai kerjasama yang bertumpuk setinggi 30cm di atas mejanya
" dea apa proyek ini bisa membuat butik maju? " tanya iren tak mengerti
" tentu miss, menurut saya akan baik jika miss menyetujuinya, butik pasti akan dipenuhi pelanggan" sahut dea
Iren menghela nafas dan menjauhkan berkas itu, tentu saja hal itu membuat dea heran, iren menyingkirkan semua proyek yang bisa membuat butik semakin berkembang, dea jadi meragukan iren, apakah iren mampu memimpin butik itu.
Sebenarnya dea sudah sering memberikan proyek besar saat maya masih memimpin butik, dulu maya sering memberi alasan padanya dari mulai sikap kliennya yang tidak sopan, sampai dirinya yang merasa tidak percaya diri, dea selalu berpikir bahwa madam merasa tidak percaya diri dengan pencapaian besar, terlebih saingannya kebanyakan adalah orang-orang yang lebih muda, tapi ia tidak mengerti dengan sikap iren.
Dea berpikir, iren masih terbilang muda, dan di usianya saat ini seharusnya iren memiliki semangat dan ambisi yang sangat besar, tapi iren malah terlihat tidak layak untuk dijadikan pemimpin.
Dea mulai kesal, ia mengambil salah satu file yang belum dibaca sampai selesai namun sudah iren singkirkan. Dea meletakan file itu di depan iren seraya berkata " dokumen ini harus disetujui" dengan tegas sampai membuat iren terkejut
__ADS_1
" opa... " panggil iren seraya menatap lukas, ia seperti anak kecil yang meminta pembelaan
Lukas menahan tawanya melihat iren dimarahi oleh bawahannya sendiri, ia lalu meminta dea keluar karna ingin bicara berdua saja dengan iren. Dea mematuhi perintah lukas, ia pergi sambil terus menatap iren dengan kesal, dea bahkan sampai membanting pintu.
" kau tau iren, wanita itu dipenuhi ambisi pada kesuksesan" ucap lukas seraya mendekati iren, ia duduk diatas meja kerja iren lalu mengambil berkas yang dea berikan tadi.
" dea adalah gadis yang baik, dia sangat pintar dan juga berkarisma, jika butik ini diberikan padanya, aku yakin dalam waktu satu sampai dua tahun bangunan yang hanya dua tingkat ini akan menjadi salah satu gedung pencakar langit, selama ini dea tidak tahu, niatnya membantu bibi justru membuat bibi kerepotan" ujar lukas menjelaskan
" itu terserah kau saja, sekarang kan butik ini kau yang mengelola" ucap lukas enteng
Iren menghela nafas kasar lalu berkata " aku baru masuk kerja hari ini, jika aku memecat orang tanpa alasan aku akan sama seperti dia"
Lukas tertawa karma mengerti siapa yang tengah iren bicarakan, ia turun dari meja kemudian menaruh kembali berkas itu.
__ADS_1
" kalau begitu kau harus menguatkan hati untuk menghadapinya, berkas ini adalah permintaan untuk jadi sponsor top model yang bernama ike, ini bisa menjadi peluang yang bagus untuk mengembangkan usaha butik" ujar lukas menjelaskan
" karna itu lah iren harus menolaknya kan! " sahut iren
" tapi jika melihat sikap dea sepertinya hal itu akan sulit, kalau aku boleh memberi saran sebaiknya kau temui saja top model yang bernama ike itu, lalu dalam pertemuan itu kau cari alasan untuk menolaknya" ucap lukas memberi saran
" tapi opa, dia itu seorang top model, salah-salah butik ini justru akan dihancurkan olehnya" ucap iren khawatir
" tenang saja, butik ini memang kecil, tapi tidak akan bisa dihancurkan oleh siapapun dengan mudah" sahut lukas seraya kembali duduk di tempatnya.
Iren menerima saran dari lukas dengan baik dan bahkan melaksanakannya, dan ternyata dea sudah mengatur segalanya, pertemuannya akan diadakan tepat pukul satu, dea sengaja membuat janji temu di hotel aditya karna berharap bisa bertemu secara tidak sengaja, tanpa dea ketahui hal itu membuat iren merasa dicurangi.
Iren dan dea sudah berada di restoran hotel, mereka tengah duduk manis menunggu top model yang bernama ike itu datang, sampai tiba-tiba sebuah tangan kekar hinggap di pundak iren.
__ADS_1