Anak Genius Dewa Kebersihan

Anak Genius Dewa Kebersihan
Teguran dari nenek


__ADS_3

Aditya bangun terduduk diatas ranjang, ia melihat iren berdiri dengan tubuh polos dan lembab, pemandangan indah di pagi hari itu membawa aditya terbang ke nirwana, ia tak kuasa untuk berkata-kata, bahkan untuk mengedipkan mata saja rasanya enggan.


" tutup matamu tuan, jangan lihat aku"


"tutup matamu kubilang"


" berhenti menatapku seperti itu tuan"


Teriakan iren yang tengah marah terasa seperti angin yang berhembus di telinga, entah kenapa? Seringai di wajah aditya mulai muncul bersama pikiran jahil yang menumpuk di kepalanya.


Rasa dingin mulai menerjang kaki aditya, seiring dengan hilangnya selimut yang dari semalam memberinya kehangatan, ia melihat iren membungkus diri dengan selimut itu lalu melarikan diri ke ruang ganti.


" konyol" gumam aditya pelan lalu terkekeh seraya menggeleng.


Tak lama kemudian.


Aditya melihat iren keluar dari ruang ganti, dress dan stocking legging yang iren kenakan membuat aura kecantikan iren semakin terpancar, penampilan iren sama seperti foto gadis-gadis korea yang sering roby tunjukan dan agungkan, cantik dan elegan.


" Mesum" maki iren seraya berlalu, wanita itu keluar dari kamar dengan membanting pintu.


Aditya yang masih duduk di atas ranjangnya itu tersenyum lebar seraya mengacak punggung kepalanya yang tidak gatal.

__ADS_1


" Aditya! hi adi! "


Teriakan sang nenek yang begitu kencang menyadarkan aditya yang tengah teringat kejadian satu jam yang lalu, ya! Setelah bersiap diri, ia bergabung di ruang makan dengan anggota keluarga yang lain, tapi pria itu malam melamun setelah duduk dan melihat wajah iren yang masam.


" Kenapa kau melamun di pagi hari? Apa yang kau lamun kan sampai tersenyum sendiri begitu hah?" Pertanyaan dari sang nenek yang terdengar seperti teguran hanya dianggap sebagai angin lalu oleh aditya


" Lihatlah, istrimu sudah berdiri dari tadi" Aditya menatap iren yang berdiri di sampingnya


" Dia bertanya kau mau sarapan apa?" Nenek laksmi terus saja bicara dengan nada tegas seperti tengah mengomeli


" mau sarapan apa? " tanya iren kini


" yang kering atau yang basah? " aditya tersenyum mendengar pertanyaan iren yang membuatnya kembali mengingat tubuh iren yang lembab


" basah" jawab aditya sambil tersenyum


Iren mengambilkan beberapa helai roti dan mendekatkan selai pada aditya, menuangkan jus di gelas suaminya yang kini tengah membaluri roti.


Apa kemudian mereka sarapan dengan tenang?


Sayangnya tidak, suara lentang nenek laksmi kembali terdengar.

__ADS_1


" kau juga sena, kenapa wajahmu di tekuk terus sejak tadi? Pagi hari adalah waktu yang baik, harusnya kau mengawali hari dengan tersenyum, cepat habiskan sarapan mu, makanan itu untuk di makan, bukan hanya dilihat saja" arsena juga mendapat teguran dari nenek laksmi.


Aditya memalingkan wajah memperhatikan arsena yang duduk di sampingnya, melihat putranya menundukkan kepala dengan wajah sedih membuatnya sedikit cemas.


" are you okay boy? " tanya aditya serius


Arsena menatap iren yang sudah duduk di hadapanya dengan tatapan memelas, aditya pun ikut menatap iren. Arsena sangat sedih setelah dimarahi, terlebih karena iren mengatakan sesuath yang sangat menyakitkan hatinya.


'Jangan bicara padaku sebelum kau merenungi kesalahanmu' Kata-kata itu terus terngiang di teling arsena


Untuk pertama kalinya iren menegur arsena dengan begitu keras, iren melakukan itu karena menurutnya kejahilan putranya kali ini sudah melewati batas, iren tak ingin putranya kelak menjadi anak nakal yang tidak tahu aturan.


" Jangan terlalu keras pada putramu ren, dia kan baru berusia 6thn" ucap aditya seraya mengelus pucuk kepala arsena.


" kau dengar apa kata suamimu itu, sudahlah maafkan saja sena, sedikit nakal di usianya adalah hal yang wajar, marahi dan nasihati secukupnya saja, jangan berlebihan, agar kelak arsena tidak menjadi anak yang pebangkang" ucap nenek laksmi, meski tidak tahu duduk permasalahannya, namun nenek laksmi merasa harus memberi iren nasihat demi kebaikannya.


" baiklah, kali ini amih maafin, tapi! Jangan bercanda seperti tadi lagi" ucap iren tegas


" janji" seru arsena,


Ibu dan anak itu membuat janji kelingking seraya tersenyum. Arsena sarapan dengan lahap setelah mendapat maaf dari ibunya.

__ADS_1


__ADS_2