Anak Genius Dewa Kebersihan

Anak Genius Dewa Kebersihan
Pergolakan batin


__ADS_3

Arsena naik ke punggung naya dan memperlakukan wanita itu seperti kuda miliknya, naya dipaksa berjalan dengan lutut dan tangan, dan bokongnya pun terus arsena pukuli menggunakan majalah yang ia lipat jadi bulat.


“ Drap... Drap... Drap... Kenapa kudaku ini jalanya begitu lamban? Apa aku kurang keras memukulnya? ” ucap arsena seraya memukul bokong kudanya.


“ ahh... Sena, berhenti memukul bokongku, aku ini bukan kuda sungguhan” protes naya yang sama sekali tidak arsena dengarkan


“ Drap... Drap... Drap... Berlari lebih cepat kuda” ucap arsena, namun naya malah ambruk karena kelelahan, sudah hampir satu jam naya di tunggangi arsena.


“ kenapa tante malah tiduran di rumput? “ tanya arsena sambil berkacak pinggang


“ aku menyerah sena” ucap naya dengan nafas yang terengah-engah


“ oh... Jadi tante sudah tidak mau main denganku, baiklah, tidak masalah, aku akan bilang pada papi kalau tante tidak mau main denganku” ucap arsena,


Naya bergegas memeluk kaki arsena untuk menghentikan langkah anak itu, lalu berkata “ jangan katakan itu pada papimu sena, biarkan tante istirahat sebentar saja, nanti kita main kuda-kudaan lagi, ok! “


Naya mencoba mengajukan negosiasi, padahal dalam hatinya ia sangat dongkol.


“ tapi sena maunya sekarang tante, bukan nanti” ucap arsena menuntut


Nia yang tidak bisa menerima kelakuan arsena pun menghampiri anak itu, ia memegang pundak arsena sampai anak itu membalikkan badan, nia tersenyum sambil menatapnya dengan penuh tanya.


“ kakak cantik sudah kembali, aku rindu, cepat gendong aku” ucap arsena dengan manja


Naya mendengus kesal melihat hal itu, arsena bermanja-manja pada orang lain tapi tidak padanya, tapi ia juga jadi terselamatkan berkat kedatangan pelayan yang bernama nia itu, karenanya naya pun mengucapkan terima kasih pada nia.


‘ aku tidak menyelamatkanmu tahu! Aku menyelamatkan putraku dari dosa karena menyiksa orang yang lebih tua, jika kau memang berniat untuk berterima kasih maka pergilah, tinggalkan rumah ini'

__ADS_1


Kalau saja iren tidak sedang berperan sebagai nia, ia pasti sudah mengatakan isi hatinya itu.


“ kenapa kau hanya diam dan tidak menyahutiku?” tanya naya heran,


“ kakak cantik hanya bicara pada orang-orang baik tahu!” ucap arsena, nada bicaranya selalu terdengar sinis saat bicara pada naya, dan perkataannya itu membuat naya mengernyitkan dahi.


Nia membawa arsena masuk dengan menggendongnya, ia tak ingin berlama-lama berhadapan dengan naya, terlebih karna ia tahu bahwa aditya tengah memperhatikan mereka dari jendela lantai dua.


Nia membawa arsena ke dalam kamar, ia menyuruh arsena mandi hanya dengan menggunakan isyarat, sementara dirinya menyiapkan pakaian tidur untuk arsena.


“ kakak cantik kenapa? “ tanya arsena, setelah menyelesaikan ritual mandi, ia melihat mata nia berkaca-kaca.


Nia memalingkan wajah, namun tangan kecil arsena kemudian menangkup pipinya lalu berkata “ kakak cantik tidak perlu sedih, dan jangan terlalu marah juga, aku kan hanya melakukan perintah papi”


“ mengancam dan mendominasi orang lain itu tidak baik sena, apa kau juga harus menuruti perintah yang tidak baik? Sudah lupa apa yang mami ajarkan? Atau sekarang kau merasa sudah besar, jadi bisa bebas melakukan apapun yang kau mau begitu? ” ucap nia mengutarakan kelu kesahnya, air matanya jatuh tak tertahankan lagi.


“ sudahlah, cepat pakai baju tidurmu sana” ucap iren yang kemudian menghembuskan nafas kasar


“ jangan marah padaku, oke! “ pinta sena seraya memasang wajah memelas saat nia menyelimutinya.


“ mmm... Tidurlah” sahut nia yang kemudian mengecup kening arsena.


Nia keluar dari kamar arsena setelah memastikan anak itu tertidur, namun saat berbalik setelah menutup pintu, ia terkejut melihat aditya berdiri di hadapannya, jantungnya berdebar dengan sangat kencan, rasa takutnya membuat wanita itu menundukkan kepala.


“ Kau merusak kesenangan nia, siapa yang menyuruhmu menghentikan putraku yang sedang asik bermain?” ucap aditya geram


Nia merasa kesal setelah mendengar pertanyaan itu, ingin rasanya ia menjambak rambut pria dihadapanya, mempertanyakan tindakannya sambil berteriak ' ayah mana yang mengajari putranya untuk bersikap buruk?'

__ADS_1


Tentu saja pertanyaan itu tidak sampai terlontar keluar dari mulutnya, karena dapat dipastikan, penyamaran iren akan langsung terbongkar jika tanya itu benar-benar terucap.


“ kenapa kau hanya diam, jawab aku nia?" pria tampan itu lupa kalau nia tidak bisa bicara.


Telunjuk aditya mengangkat dagu wanita itu, tatapannya yang semula tajam dengan niat untuk mendominasi, seolah dibuat meleleh setelah melihat mata nia yang sembab.


“ gila! Kau benar-benar sudah gila” ucap aditya yang kemudian berlalu dengan langkah cepat, pria itu bahkan membanting pintu setelah masuk ke dalam kamarnya.


Nia sampai tersentak mendengar suara pintu yang di banting itu, ia mengelus dadanya seraya menghembuskan nafas kasar, sebuah tanya muncul dikepalanya saat ia mengingat ucapan aditya.


'Apa kesalahanku? Kenapa dia marah sampai memakiku begitu? Seharusnya kan aku yang marah padanya, dia sudah melakukan kesalahan dengan mengajari sena hal yang tidak baik, dasar aditya, terkadang pria itu menyebalkan, gairahnya juga menakutkan, tapi aku merindukan sentuhannya itu, astaga iren... Walau dia suamimu, kau tidak boleh berpikiran liar, sadarlah irenia lake, sekarang kau harus fokus dulu, dan ya! A**ditya tidak sampai mengenaliku walau menatapku sedekat itu, aku salut pada diriku sendiri, karena itu kan artinya aku pandai menyamar'


Hati dan pikiran iren bertanya, mengeluh, dan memikirkan sesuatu yang indah, sampai memuji diri sendiri hingga membuat raut wajahnya terus berganti dalam beberapa detik, dari bingung, kesal, sampai senyum-senyum sendiri.


“ malangnya menantuku, dia tidak bisa mengatakan apa yang ingin dia katakan, dan hanya bisa memikirkanya dalam hati” gumam maya pelan seraya bersandar di ambang pintu ruang kerja aditya sambil melipat tangan di dada.


Dan di waktu yang sama, aditya juga tengah bicara sendiri di dalam kamarnya, ia memaki pantulan dirinya di cermin.


“ kau sudah benar-benar gila aditya, bisa-bisanya kau berharap iren masih hidup dan berharap nia adalah iren”


Aditya berbalik memunggungi cermin, namun tak lama ia kembali menatap pantulan wajahnya dan kembali memaki diri sendiri


“ Sepertinya kau sudah kehilangan kewarasanmu aditya! Bisa-bisanya hatimu terluka saat memandang matanya yang berkaca-kaca itu, sadar aditya! Sadar! Iren adalah iren, dan nia adalah nia, kedua wanita itu adalah orang yang berbeda, dan camkan ini baik-baik aditya, jauhi nia dan jangan biarkan hatimu jatuh padanya jika kau masih ingin setia”


Aditya memperingatkan dirinya sendiri dengan tegas, karna kemarahan itu, ia hampir saja melayangkan tinjunya di cermin, namun tangannya terhenti sebelum menghantam cermin itu karna melihat pantulan foto iren.


Aditya kembali memutar tubuhnya, lalu meninggalkan cermin itu, ia mengusap lembut kaca dari bingkai foto iren yang tergantung di kamarnya, lalu berkata “ seumur hidupku, aku hanya akan mencintaimu saja iren”

__ADS_1


Aditya kembali tersenyum, hatinya kembali menghangat saat ia mengingat kemesraannya dengan sang istri.


__ADS_2