
" Aditya apa yang telah kamu lakukan itu...
Iren menghentikan ucapannya saat melihat aditya mengunci pintu dan menutup gorden ruangan itu, ia sedikit panik saat melihat prianya menatapnya dengan lekat.
"apa yang mau kau lakukan? " tanya iren yang hanya berbalas sebuah senyuman licik
Aditya menyibakkan rok iren lalu mencium istrinya dengan rakus, iren mendorong aditya saat tangan nakal suaminya menyusup masuk ke dalam celana segitiga nya.
" adi ini kantor! " ucap iren
" tanpa kau katakan pun aku tahu sayang" ucapnya sambil mengelus pipi iren.
" kau sengaja kan membuat aku memakai rok? " tanya iren, wanita itu berusaha menjauh dari aditya
"ehem" aditya mengangguk membenarkan, pria itu tengah berusaha mendekati istrinya yang terus berusaha menjauh.
Iren yang terus fokus melihat ke arah aditya tidak menyadari ada kursi di belakangnya, hingga ia jatuh terduduk di sofa, karna terkejut ia sampai berteriak saat jatuh, dan teriakan iren bahkan sampai terdengar keluar ruangan.
Sementara aditya justru tersenyum senang karna merasa mendapat kesempatan, ia bergegas mendorong pundak istrinya hingga membuatnya terlentang disana, ia lalu mengungkung tubuh iren tanpa memberinya sedikit celah untuk bergerak, pria itu bahkan langsung ******* bibir istrinya, hingga untuk sekedar protes pun iren tak bisa.
Di ruangan itu iren meminta untuk melakukan pendekatan pada suaminya, di ruangan itu pula iren menyerahkan tubuhnya dengan suka rela untuk yang ke dua kalinya.
__ADS_1
Tak pernah terpikirkan sebelumnya bahwa proses pdkt akan berjalan sesingkat itu, dan bahkan iren juga tidak pernah berpikir, bahwa dirinya akan sangat menikmati penyatuan mereka, terlebih setiap belayan yang aditya lakukan terasa memabukan baginya.
Iren sangat puas begitupun aditya, tapi anehnya aditya seperti tidak pernah puas atau lelah dengan pergulatan mereka, ia selalu menginginkannya lagi dan lagi, mungkin jika bisa ia akan melakukanya setiap jam atau bahkan tidak pernah berhenti seharian.
Satu jam setengah mereka habiskan untuk memadu kasih, menjalin cinta dua ronde, pertama di sofa, dan yang kedua di kamar mandi.
Bahkan sampai di ruang ganti pun aditya masih saja nyosor, jika saja iren tidak berkata " adi cukup kumohon, aku lelah, tubuhku serasa remuk, dan lagi, bukanya setengah jam lagi ada rapat "
Aditya menghela nafas kasar, ia kesal pada waktu yang cepat berlalu, tapi tidak bisa berbuat apa-apa.
Setelah rapat usai, aditya mengajak iren untuk makan siang di kamar, ia berniat untuk melanjutkan kesenangan bercinta yang menjadi candu baginya.
" bu nina, kami mohon, bicaralah dengan pak adit, karna beliau sudah melewati batas, tidak hanya menyakiti bu iren, beliau bahkan sudah berani melecehkan bu iren" ucap iwan
" aku setuju soal pak adit kasar pada iren, tapi soal pelecehan itu tidak benar" seru naya
" apa kau tahu sesuatu ibu naya? " tanya nina
" sebenarnya....
Semua orang nampak penasaran dengan apa yang hendak naya katakan, naya bisa melihat mereka memasang telinga dengan baik saat menanti apa yang hendak ia beri tahu kan.
__ADS_1
" Sebenarnya iren itu istrinya pak aditya"
Semua orang nampak kecewa setelah mendengar ucapan naya, mereka mengira naya hanya mengatakan omong kosong belaka, ya! Semua orang nampak berpikir karna tidak percaya apa yang naya katakan.
" bisa ga sich! Hari ini kita bicara serius bu naya, kita ini berkumpul karna peduli pada bu iren, bukan untuk mendengar candaan seperti ini" seru imas
" gimana kalau kita telpon pak roby?"
Nina yang bekerja sebagai ketua tim humas memberi saran, dan semua orang nampak setuju dengan saran itu.
Para karyawan menghubungi roby melalui panggilan vidio dari leptop, namun panggilan itu tidak terjawab, tapi mereka juga tidak mau menyerah, mereka mencoba lagi dan lagi.
.
.
.
.
Roby lagi apa ya! Ko sulit dihubungi...
__ADS_1