
Sejak kejadian pulpen jatuh, iren sedikit menjaga jarak dari aditya, bukan karna marah atau tidak suka dengan tindakan suaminya, tapi karna ia khawatir hubungannya dengan aditya akan terbongkar dan pertemanan yang ia jalin di sana jadi canggung karna hal itu.
" bu iren, pak adit bersikap kasar lagi ya? " tanya aam
" bu aam kita akan rapat bukan? Kenapa harus membahas masalah seperti itu? Pak adit tidak pernah berbuat kasar " ucap iren yang baru saja mendudukan diri.
Beberapa staf yang tengah melakukan rapat tidak henti melirik luka goresan di tangan iren, iren bahkan tidak tahu menau tentang luka itu, karna ia bahkan tidak merasakan sakitnya.
Usai rapat semua orang menahan iren di sana, salah satu staf pria yang bernama iwan meninggalkan ruangan dengan tergesa-gesa, lalu kembali dengan membawa kotak p3k.
Iwan menarik tangan iren hingga memperlihatkan segores luka di lengannya, pada saat itulah iren baru tahu bahwa dirinya memang terluka.
' ah... ternyata aku memang terluka' batin iren bersua
" Apa ini karena pak adit? " tanya naya yang juga ada di sana
" bukan, ini karena kecerobohan ku sendiri" seru iren seraya meringis kesakitan saat lukanya dibersihkan,
" sungguh! Percayalah aku terluka bukan karna pak adit, dia tidak melukaiku" terang iren, ia merasa tidak enak hati karena suaminya disalahkan.
" Sudah terluka seperti ini masih saja membelanya" seru iwan menimpali
" Iren! " pekik aditya hingga mengejutkan semua orang, iren langsung menarik tangannya karena takut aditya akan salah paham.
Aditya datang untuk mengajak iren makan siang, tapi ia malah melihat seorang pria memegang tangan istrinya, aditya yang berdiri di ambang pintu itu juga melihat luka di tangan iren.
Rasa kesal karena cemburu, rasa kesal karena khawatir pada sang istri, bertumpuk di benak aditya hingga menjadi sebuah amarah yang tidak bisa ia kendalikan.
Aditya mendekati iren dengan langkah cepat, ia mencubit kerah baju bagian belakang lalu membawa iren pergi dari sana, layaknya membawa seekor kucing kotor dari jalanan.
"pak adit terlihat sangat marah, kasihan iren" seru imas
__ADS_1
" harusnya dia tidak boleh kasar pada wanita" ucap iwan yang kemudian mengikuti iren dan aditya.
Aditya membanting pintu ruanganya hingga mengundang perhatian dari beberapa karyawan yang hendak keluar untuk makaan siang, ia juga mengunci ruangan itu dari dalam serta menutup gorden ruanganya, tidak ada sedikitpun celah untuk melihat kedalam ruang itu.
" Bagaimana ini bisa terjadi iren? " tanya aditya dengan nada suara yang tinggi, pria itu tengah mengambil kotak p3k dari laci meja kerjanya
" aku juga tidak tahu sejak kapan dan bagaimana aku bisa terluka seperti ini" seru iren,
" Dasar ceroboh! " pekik aditya
" Kau tidak pernah melakukan kesalahan saat bekerja di bawah presdir, lalu kenapa kau bisa melakukan kesalahan hah? Apa kau terus memikirkan suamimu yang tampan saat bekeraja" Aditya tidak sadar bahwa ucapanya terdengar sampai keluar ruangan
" kau yang membuatku terus memikirkanmu, jika kau tidak melakukan hal yang tidak-tidak aku tidak akan seperti ini"
" Jadi pada akhirnya semua ini salahku begitu?" ucap aditya, ia mengolekan obat dengan kasar karna merasa kesal telah disalahkan oleh sang istri, sampai membuat iren teriak kesakitan
"ahhh.... sakit.... adi, ampun... tolong lepaskan... kumohon"
Iren langsung membisu karna merasa tersentak oleh suara suaminya yang lebih tinggi, ia langsung menundukan kepala saat itu juga.
" kalau tau sakit jangan terluka" ucap aditya lembut
" kecerobohan seperti ini bisa merugikan hotel, apa kau tahu itu" ucap aditya dengan suara yang kembali meninggi.
" kenapa bawa-bawa hotel? " tanya iren tak mengerti
" jika kau terluka aku tidak akan bisa konsentrasi saat bekerja, jika aku sampai melakukan kesalahan itu semua karna dirimu" ucap aditya dengan lembut
" kenapa jadi aku yang salah? " tanya iren, ia tidak mengerti bahwa aditya tengah membalas perbuatan iren yang tadi menyalahkan dirinya.
" Jangan membantah, jika aku bilang salah berarti kau memang salah" nada suara aditya kembali meninggi
__ADS_1
Iren mencium pipi kanan aditya kemudian berkata " sudah jangan marah, kenapa kau terus saja berteriak, jika ada yang dengar mereka pasti akan salah faham"
" aku tidak suka melihatmu terluka, lebih tidak suka lagi saat melihat kau membiarkan orang lain menyentuhmu, tubuhmu itu miliku" ucap aditya, nada suaranya berubah jadi sendu
Iren kembali mencium pipi kanan aditya untuk menghiburnya, tapi pria itu malah berseru " itu tidaklah cukup"
Iren berpindah tempat duduk lalu mencium pipi kiri aditya, tapi pria itu kembali berseru " itu masih belum cukup"
Iren memaksa aditya menoleh kearahnya lalu mencium kening pria itu, tapi aditya masih belum puas " kurang" ucapnya yang kemudian mencium bibir iren dengan rakus.
" cukup aditya! " seru iren setelah melepas pagutan bibir mereka, tangan iren menahan tangan suaminya yang hendak melepaskan kacing bajunya.
Aditya menjatuhkan kepalanya di pundak iren, ia lalu mencium ceruk leher iren dan hampir membuat tanda di sana, jika saja iren tidak berseru " jangan buat tanda atau aku tidak akan mengijinkan mu untuk menciumku lagi"
Ancaman itu sukses menghentikan aksi liar aditya, walaupun ia tetap membenamkan kepalanya disana.
" ayo kita makan siang adi! Kau mau makan apa? " tanya iren
Aditya mengangkat kepalanya lalu menatap sang istri sambil menunjukan senyum jahilnya, ia lalu berkata " aku mau makan kamu boleh?"
" tidak! " ucap iren seraya bangkit dari duduknya
Aditya hanya bisa menghela nafas kasar. Roby pernah memberi tahu aditya untuk tidak memaksa iren melakukan hubungan badan, karena mungkin iren sedikit trauma dengan kejadian pemerkosaan yang aditya lakukan padanya.
Itulah sebabnya aditya tidak pernah marah setiap kali iren memberikan penolakan, tapi ia juga tidak tinggal diam begitu saja, setiap ada kesempatan ia berusaha untuk membuat iren bergairah, agar wanitanya lah yang meminta untuk melakukan hubungan intim dengannya.
Aditya mempercepat langkah kakinya untuk menyusul iren yang hendak keluar dari ruangan itu, sementara itu iren terus saja menarik nafas panjang melihat perban di tanganya.
Aditya memasangkan perban pada luka goresan di tangan iren, awalnya iren berniat protes, tapi ia tidak jadi melakukanya, karna ia tahu protesnya akan menjadi alasan bagi suaminya itu untuk melakukan lebih dari sekedar ciuman.
Aditya yang selalu saja berteriak saat berkata kasar pada iren, membuat mereka yang berada diluar ruangan salah faham terhadapnya, terlebih lagi saat mereka melihat iren dan aditya keluar dari ruangan itu, semua tatapan mengarah pada tangan iren yang diperban.
__ADS_1