Ayu Sang Penakluk

Ayu Sang Penakluk
#Bahagia


__ADS_3

#WARNING!!!!


#BACA SAAT SAHUR ATAU SESUDAH BUKA YA!


     Libra menjemput September di kediaman keluarga Kimberley. Istrinya itu sudah siap dan berdiri di depan pintu rumahnya. September memakai baju kaos putih dibalik mantel biru donker miliknya. Rambutnya di ikat kuda dan memperlihatkan leher jenjangnya dan mulus.


"Sayang, kamu sudah siap ternyata. Apa yakin hanya ingin makan mie ayam, malam-malam begini?" Libra membukakan pintu depan mobil untuk September.


"Iya. Sudah lama aku tidak memakan itu. Dan hari ini aku sangat ingin sekali memakannya," jawab September sambil masuk dan duduk di kursi penumpang di samping pengemudi.


     Libra pun memasangkan sabuk pengaman untuknya. Hal yang biasa dia lakukan kepada istrinya setiap mereka bepergian dengan mobil. Satu kecupan mendarat di kening September.


     Sebenarnya Libra takut kalau istrinya itu akan marah karena dia tanpa sadar sudah menciumnya. Mungkin karena rasa rindu yang menyesakan dadanya yang mendorong dia untuk melakukan itu.


     Walau tadi sempat terkejut dengan ciuman di kening oleh suaminya. September tidak marah meski dia ingin melakukan itu. Anehnya, tubuh dia malah meremang dengan sentuhan singkat Libra. Dia menginginkan lebih. Ada rasa rindu yang tiba-tiba menguasai dirinya. Dia rindu melihat tatapan mata dan sentuhan dari suaminya yang selalu penuh damba akan dirinya.


"Sudah siap, Sayang?" Libra tersenyum tampan dengan tatapan memuja kepada istrinya.


     Sesuatu yang dirindukan September dari suaminya, langsung dibayar itu juga. Dengan tersenyum dia mengiyakan. Mereka pun pergi mencari tukang mie ayam gerobak di pinggir jalan.


***

__ADS_1


     Setelah sepuluh hari menikah. Leo dan Ayu baru bisa melaksanakan malam pertama mereka. Meski kata orang tua mereka terlambat dan mengasihani Leo yang harus menahan diri dahulu. Akhirnya, malam ini dia dan orang yang dicintainya bisa merasakan indahnya surga dunia.


     Baik Leo maupun Ayu, tidak jadi menunda kehamilan. Mau langsung isi atau tidak, bagi mereka tidak jadi masalah sekarang. Baginya, sekarang mereka bisa bersama selamanya di sisa umur hidup.


"Baby, aku akan sangat senang jika kamu langsung hamil anak kembar. Agar orang tua kita tidak rebutan anak kita nantinya," ucap Leo sambil mengelus kepala Ayu yang berada dalam dekapannya.


"Iya, aku juga berharap begitu. Apalagi ada kesepakatan dari mereka kalau anak pertama akan mewarisi nama Jaya dan kedua mewarisi nama Esteban." Ayu bicara sambil memejamkan mata karena sudah ngantuk.


***


     Kalau kebanyakan orang yang sedang kencan itu pihak laki-laki mendatangi perempuan. Sebaliknya bagi Juli. Dia yang mendatangi rumah Aprilio. Masih untung lagi kalau mereka akan menghabiskan waktu berdua. Ini Juli main ke rumah keluarga Hadikusumo, malah menemani Nyonya rumah, karena si empunya malah asik nonton film anime.


"April, tolong antarkan Juli pulang! Ini sudah malam ... berbahaya bagi seorang gadis pulang sendirian," perintah Junia kepada Aprilio.


"Tidak apa-apa kok, Tante. Aku bisa pulang sendiri," tolak Julia.


"Sudah, ayo mana kunci mobilnya!" Aprilio meminta kepada Julia.


***


     Baik Julia mau Aprilio saling diam. Keheningan malam malah terasa semakin mencekam bagi Juli. Untungnya dia pulang bersama Aprilio.

__ADS_1


     Saat mereka melewati sebuah taman kota yang dihiasi banyak lampu warna-warni, Aprilio menghentikan laju mobilnya. Dia keluar dari mobil dan mengajak Julia untuk jalan-jalan sebentar di sana.


     Tentu saja hal ini tidak ditolak oleh Julia. Justru ini yang dia harapkan jika bersama dengan Aprilio. 


     Mereka berjalan menelusuri jalanan beraspal yang di samping kanan kiri terdapat hiasan lampu. Julia menggenggam tangan Aprilio dan disambut dengan genggaman balasan darinya. Senyum Julia langsung terlukis di bibir merahnya.


     Aprilio mengabadikan momen di taman itu. Banyak foto yang diambil kemudian dia minta handphone milik Julia. Ternyata dia mengunggah foto mereka di media sosial milik Juli. Caption love bertebaran di status yang dibuatnya. Hal ini baru di ketahui nanti setelah dia masuk kuliah.


"April, tunggu!" Julia dan Aprilio saling berhadapan.


     Julia menarik kerah jaket Aprilio dan dia menjinjitkan kakinya. Satu ciuman mesra dia berikan untuk sang pujaan hati. Di saat yang bersamaan lampu-lampu berkerlap-kerlip. Dia menunggu momen ini. Dimana setiap satu jam sekali lampu taman akan berubah-ubah warnanya.


     Aprilio yang sudah ketagihan dengan rasa lembut dari bibir Julia, langsung membalasnya. Kemudian dia berbisik, "Jangan pernah kamu berciuman dengan laki-laki selain aku."


***


Bagaimana kisah mereka selanjutnya? Tunggu kelanjutannya ya! Jangan lupa untuk selalu klik like, komentar, favorit, hadiah dan Vote-nya juga. Dukung aku terus. Terima kasih.


Sambil menunggu Ayu up bab berikutnya, baca juga karya teman aku ya! Ceritanya nggak kalah bagus. Baca yuk!


__ADS_1


__ADS_2