Ayu Sang Penakluk

Ayu Sang Penakluk
#Bubur


__ADS_3

     Ayu masih menatap Leo tak percaya dengan perkataannya. Kalau mereka sejak tadi sudah berbagi minuman. Dia juga menyuapi pop corn kepada Leo, bukan pada Aprilio. Rasa gemas langsung merasuki diri Ayu, dia memukul dada Leo.


"Kenapa Kak Leo lakukan itu!" Ayu berkata dengan berbisik karena takut mengganggu orang sekitarnya yang sedang menonton film.


     Leo hanya menahan tawa dan membiarkan Ayu memukulinya. Dia masih bisa menahan rasa sakit dari pukulan-pukulan yang dilayangkan oleh Ayu.


"Pokoknya aku nggak terima!" Ayu masih memukuli Leo.


"Wah, beneran kamu nggak terima itu. Atau kamu maunya ciuman langsung yang mesra dan menuntut. Begitu, ya?" Leo masih saja tertawa kecil senang menggoda Ayu.


     Ayu yang kesal karena kelakuan Leo, akhirnya diam dan kembali menonton film. Raut muka yang cemberut dan tangan bersidekap di dada. Nggak memperdulikan Leo yang masih terkekeh di sampingnya.


     Aprilio melirik kepada Ayu, dia merasa aneh dengan perubahan mood sahabat baiknya itu. Biasanya dia paling senang kalau menonton film karya Marvel, seperti ini. Namun, Aprilio perhatikan malah tidak menikmati filmnya.


***


     Mereka bertiga akhirnya pulang dalam keadaan diam karena Ayu terus saja membungkam mulutnya. Leo juga jadi geregetan. Ingin dia memulai bicara dengan Ayu, tetapi baru saja membuka mulut, Ayu langsung melorotkan matanya.


"Sudah sampai. Ayu barang belanjaannya mau ditaruh di mana?" tanya Aprilio.


"Biar dia saja yang bawa. April pulang saja sudah malam." Ayu berjalan meninggalkan dua laki-laki yang sedang menatapnya.


"Ayu kenapa, sih? Kok dari tadi terlihat bete gitu?" Aprilio menatap Leo untuk menjelaskan apa yang sudah terjadi.


"Nggak tahu, lagi datang bulan kali." Leo mengambil keresek belanjaan dan masuk ke dalam rumah meninggalkan Aprilio.


***


     Ayu masuk ke dalam kamar dan berganti baju rumahan. Dia tidak menutup pintu kamar dengan rapat. Jadinya, saat Leo mau pamit untuk pulang, dia malah disuguhi pemandangan yang merusak otaknya.


"Astaga, rezeki nomplok!" gumam Leo tanpa mengedipkan matanya.


     Ayu yang tidak sadar dengan apa yang sedang terjadi, biasa saja. Bahkan dia masuk ke kamar mandi untuk membersihkan badan yang terasa lengket karena keringat.


     Leo pun menutup rapat pintu kamar Ayu. Dia kembali ke lantai bawah dan menunggu Ayu di ruang keluarga yang posisinya pas dekat dengan anak tangga.


***

__ADS_1


     Leo menunggu Ayu sekitar setengah jam. Saat Ayu turun ke bawah dia dikejutkan oleh Leo yang masih duduk manis di sana.


"Kenapa belum pulang?" tanya Ayu begitu netranya beradu dengan Leo.


"Menunggu kamu. Mungkin saja kamu memintaku untuk menemani tidur karena takut." Leo tersenyum jahil. Dia senang Ayu masih mau mengajaknya bicara.


"Tidak perlu, kakak pulang saja sana! Ini sudah malam." Ayu meninggalkan Leo dan pergi ke dapur.


     Leo mengekori Ayu ke dapur dan duduk di kursi meja makan, sedangkan Ayu mengeluarkan salad buah dari kulkas. Ayu mengeluarkan satu cup kecil salad buah untuk makan malamnya.


"Kenapa masih di sini, sana cepat pulang!" Ayu tidak mempedulikan Leo.


"Aku minta maaf, aku kira kamu suka begitu dengan siapa pun. Ternyata hanya untuk orang-orang tertentu." Leo berkata dengan lirih.


"Hanya untuk orang yang spesial!" jawab Ayu.


"Berarti aku bukan orang spesial bagiamu?" tanya Leo penasaran.


"Kurasa begitu." Ayu diam lagi dan menikmati salad buahnya.


"Makanya kamu sampai marah seperti ini, ya. Diabaikan itu tidak enak rasanya. Jika, kamu kesal dan marah bilang saja." Leo bicara sambil menatap Ayu yang asik makan salad buah tanpa menawarinya.


"Kalau aku nggak sanggup menyelesaikan hukuman ini bagaimana?" Tanya Leo.


"Maksudnya?" Ayu mengangkat kepalanya. Kini mereka saling menatap.


"Jika, aku nggak bisa menjadi pembantu kamu selama satu bulan penuh ini. Apa akan ada sangsi yang akan aku dapat?" tanya Leo.


"Ya, tentu saja! Gantinya satu unit mobil sport terbaru." Ayu asal bicara dan melanjutkan lagi makan salad buahnya. Leo pun mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti.


***


     Keesokan harinya Leo datang pagi-pagi ke rumah Ayu. Dia sengaja datang lebih pagi dibanding hari kemarin. Saat sampai sana ternyata Ayu sudah bangun dan akan membuat sarapan.


"Kak Leo, sudah sarapan?" tanya Ayu.


"Belum, aku sengaja mau sarapan bareng di sini." Leo mengeluarkan dua mangkuk bubur yang dibelinya saat menuju rumah Ayu.

__ADS_1


     Ayu melihat Leo membukakan mangkuk bubur dan terlihat sangat lezat, wanginya juga harum. Ayu merasakan cacing dalam perutnya berdemo ingin mencicipi bubur yang kini sedang Leo makan.


"Makanlah! Baby, belum sarapan 'kan?" Leo melihat ke arah Ayu yang masih berdiri.


     Ayu pun duduk dan membuka mangkuk yang berisikan bubur. Satu suapan bubur masuk ke dalam mulut Ayu, dan terasa begitu enak. Ayu pun menyuapkan sesendok demi sesendok bubur itu dengan cepat karena sedang merasa lapar. Sampai tanpa terasa habis tidak bersisa.


     Leo yang sejak tadi melihat Ayu makan dengan lahap, hanya menatap tanpa berkedip. Leo takjub dengan cara makan Ayu.


"Baby, lapar banget, ya?" tanya Leo.


     Ayu yang baru selesai makan mengangkat kepalanya, lupa kalau ada Leo duduk di depan. Ada rasa malu menyusup dalam perasaannya. Dia makan dengan begitu lahap dan cepat di depan seorang laki-laki.


"Iya, begitulah. Entah kenapa pagi ini aku merasa lapar banget," jawab Ayu.


"Buburnya enak? Baby suka?" tanya Leo lagi. Ayu hanya mengangguk sebagai jawaban.


"Kenapa punya Kak Leo masih banyak?" Ayu memperhatikan kalau bubur Leo baru dimakan sedikit.


"Ini juga sedang dimakan." Leo menyuapkan buburnya.


"Makan yang banyak ya, Kak. Soalnya hari ini banyak pekerjaan yang akan kakak kerjakan." Ayu menyeringai dengan tatapan mata jahil. Leo menelan buburnya dengan cepat.


***


Pekerjaan apakah yang harus Leo kerjakan?


Tunggu kelanjutannya ya!


Jangan lupa untuk klik, like, favorit, hadiah dan Vote-nya juga ya.


Dukung aku terus. Terima kasih.


Sambil menunggu Ayu up bab berikutnya. Baca juga karya:


Author : Novi putri ang


Judul: Kembaranku Maduku

__ADS_1


Melati Atmaja dan Mawar Atmaja adalah saudara kembar yang terpisah sejak mereka kecil. Mereka dipertemukan kembali setelah dewasa. Diam-diam Mawar mencintai Rafael suami dari kakak kembarnya sendiri. Melati yang di anggap mandul dan tidak bisa memberi keturunan selalu dihina oleh ibu mertuanya. Hingga Mawar merebut suami kakaknya dan didukung oleh ibu mertuanya, karena saat itu Mawar sedang mengandung anak Rafael, setelah mereka melakukan hubungan terlarang itu. Bagaimana kisah hidup Melati selanjutnya, setelah saudara kembarnya menjadi penghancur rumah tangga dalam hidupnya?


__ADS_2