
Mobil Aprilio memasuki pekarangan rumah Ayu. Semenjak mereka masuk ke dalam mobil, keduanya hanya diam. Masing-masing memikirkan bagaimana caranya bilang ke orang tua mereka tentang perjodohan itu.
"Ayu, sudah sampai." Aprilio mengalihkan pandangannya ke arah samping. Dilihatnya Ayu sudah tertidur pulas.
"Kamu itu selalu membuat aku khawatir. Bagaimana mungkin aku bisa tenang kalau kamu jauh dari diriku." Aprilio mengulurkan tangannya dan membenarkan poni yang menutupi sebagian wajah Ayu.
"Apa kamu tahu kalau gadis cinta pertama yang dulu pernah aku ceritakan kepada kamu itu adalah dirimu. Kamulah cinta pertama aku." Aprilio mengusap wajah mulus Ayu.
"Seandainya aku dulu jujur dengan perasaan kepadamu, akan 'kah cerita kita akan berbeda saat ini?" Aprilio masih saja bermonolog sambil memandangi wajah Ayu.
Tangan Aprilio dilipat di atas stir mobil dan menelungkup kan kepalanya di sana. Dia memandangi wajah Ayu dengan penuh kekaguman. "Aku menyukaimu bukan karena kamu memiliki wajah yang cantik atau pintar, tetapi karena kamu punya hati yang baik layaknya malaikat."
Ayu menggerakkan badannya dan perlahan membuka mata. Dilihatnya Aprilio yang memejamkan mata dengan kepala bersandar di atas stir mobil berbantalkan kedua tangannya. Dia edarkan matanya dan melihat kalau mereka sekarang sudah sampai di rumahnya. Lampu-lampu luar sudah menyala dan lampu kamar orang tuanya sudah ganti ke lampu tidur. Ayu kembali melihat ke arah sahabat karibnya.
"April kenapa kamu tidak membangunkan aku? Aku tahu kamu pasti merasa lelah makanya kini ketiduran." Kali ini giliran Ayu yang tersadar dan bicara sendiri karena orang yang di ajak bicara dengannya sedang tidur.
"Semoga kita bisa terus bersama-sama sampai tua. Menjalin persahabatan dengan baik." Ayu ingin menyentuh rambut Aprilio tetapi takut membangunkannya.
Ayu sejak dulu berusaha untuk mandiri dan tidak terlalu bergantung kepada Aprilio. Namun, tetap saja dia selalu minta bantuan kepadanya. Teman-teman satu sekolah dulu suka menjahili dirinya itu gara-gara Juli. Sepupunya itu suka menebar fitnah dan menghasut agar mereka benci padanya. Aprilio adalah orang yang selalu memasang badan untuk melindungi dan dia juga orang pertama yang selalu membela dirinya.
"April," panggil Ayu sambil menggoyangkan bahu Aprilio agar bangun.
Aprilio mengerjapkan matanya. Dilihatnya Ayu yang kini sudah bangun. Dia pun menegakkan badannya. Dilihatnya jam digital yang ada di dashboard mobil menunjukkan jam 23. 45 itu berarti dia tidur sekitar 30 menit. Walau sebentar rasa kantuk Aprilio sudah terobati.
"Sudah tengah malam. Ayo turun!" ajak Aprilio. Dia membuka sabuk pengaman dan membuka pintu mobil.
Begitu juga dengan Ayu. Mereka kini berdiri saling berhadapan. "April, besok ada yang harus kita bicarakan. Sesuatu yang sangat penting. Kira-kira setelah makan malam kamu ada waktu nggak?"
Aprilio kaget karena Ayu tadi bilang kepada Mamanya Leo. Kalau besok dia sudah punya janji saat waktu jam makan malam. Namun, kini Ayu bilang besok dia mengajak dirinya membicarakan sesuatu yang penting.
"Bukannya tadi kamu bilang kalau besok saat malam hari kamu sudah punya janji dengan seseorang?" tanya Aprilio.
"Iya. Dan janji itu dengan kamu. Ada yang perlu kita bahas mengenai masa depan hubungan kita," jawab Ayu.
Tiba-tiba jantung Aprilio terasa diremas dengan kuat. Sangat sakit tetapi tidak ada darahnya. Dia takut Ayu akan menjaga jarak atau bahkan menjauhinya karena sudah punya pacar.
"Apa tidak bisa dibicarakan lain waktu. Soalnya aku—"
"Tidak bisa! Pokoknya harus secepatnya hal ini kita bicarakan," ucapan Ayu memotong perkataan Aprilio.
__ADS_1
Aprilio pun menganggukkan kepalanya. Ayu pun tersenyum senang kemudian memeluk tubuhnya.
"Terima kasih," kata Ayu dengan senyum lebarnya. Tidak tahu kalau pemuda itu kini jantungan karena mendapat serangan dadakan itu.
"Sudah sana masuk ke dalam dan cepat-cepat tidur!" Aprilio mengurai pelukan Ayu. Dilihatnya gadis itu menganggukkan kepala.
***
Ayu sudah membersihkan wajah dan menggosok gigi ketika handphone miliknya berbunyi. Dilayar tertera nama My Darling. Dia mengerutkan keningnya karena merasa tidak pernah memberikan nama itu untuk nge-save nomor seseorang. Namun, nomor itu terasa tidak asing baginya.
Ayu belum juga mengangkat panggilannya, bunyi itu keburu mati. Tidak lama kemudian ada pesan yang masuk.
[Baby, angkat teleponnya!]
Ayu tersenyum ternyata nomor itu adalah milik kekasihnya. "Siapa yang ganti nama Senior Gila menjadi My Darling?"
Handphone miliknya kembali berbunyi dan dengan cepat Ayu mengangkatnya. Leo hanya menanyakan apakah sudah sampai rumah atau belum. Sebab, dia belum juga mendapat telepon dari kekasih yang diantar pulang oleh laki-laki lain. Ayu pun bilang kalau dia baru selesai membersihkan diri dulu, kemudian akan menghubunginya.
Mereka bicara tidak sampai lima menit. Sebab, keduanya sudah ngantuk dan lelah.
***
"Mama dan Papa, kenapa sih?" tanya Ayu begitu masuk ke ruang meja makan.
"Sedang merayu Papa yang kini lagi merajuk," jawab Mei.
"Papa kenapa?" tanya Ayu melihat ke arah Agustus.
"Dia cemburu, karena semalam bertemu dengan mantan saingannya dahulu." Lagi-lagi Mei yang menjawab karena Agustus diam saja.
"Wah, ternyata Papa bisa cemburu juga, ya! Eh, wajar juga, sih. Mama 'kan masih terlihat muda dan cantik. Kalau jalan sama Ayu juga pasti akan disangka Kakak perempuan Ayu." Ayu tersenyum jahil kepada Papanya dan membuat Agustus melirik dan mendengus sebal pada putri semata wayangnya itu.
"Kalau begitu mulai sekarang Mama dilarang bepergian kalau tidak bersama Papa!" titah Agustus dengan tegas dan membuat senyum Meina hilang seketika dari wajahnya.
Mei ingin protes dan baru saja membuka mulutnya, mata Agustus menatapnya dengan tajam. Akhirnya, dia diam dan melanjutkan menyiapkan sarapan.
***
"Ayu, rumah kok terlihat bersih dan rapih. Apa kamu sering bersih-bersih?" tanya Mei.
__ADS_1
Ayu yang akan menelan makanannya menjadi tersedak. Dengan cepat dia meminum air putih yang ada di depannya.
"I–Iya ..., tentu saja," jawab Ayu dengan tawa garingnya.
'Aduh, gawat! Mudah-mudahan jangan sampai Mama dan Papa tahu kalau Kak Leo 'lah yang sudah membersihkan semuanya.' Ayu bicara dalam hatinya dengan mimik wajah masih mempertahankan senyum kakunya.
"Tuh 'kan, Pah. Apa Mama, bilang! Kalau Ayu itu sudah dewasa dan siap menikah untuk membina rumah tangga." Mei memegang tangan suaminya dan tersenyum bahagia.
Sementara Ayu, kembali tersedak makanannya karena mendengar kata-kata menikah. Dia benar-benar terkejut dan menjadi agak takut untuk membahas hal itu terlebih dahulu. Dalam hatinya Ayu harus meminta bantuan Aprilio untuk menggagalkan rencana orang tua mereka.
"Hati-hati, Sayang. Dari tadi kamu selalu tersedak makanan. Lagi memikirkan apa?" tanya Agustus kepada Ayu.
"Itu karena dari tadi Mama dan Papa membicarakan sesuatu yang membuat aku terkejut," jawab Ayu dengan mulut manyun.
"Ayu! Ayo kita sarapan dulu sebelum aku membereskan rumahmu!" Suara Leo yang baru masuk ke rumah, terdengar begitu nyaring dan jelas karena dia bicara dengan berteriak.
'Gawat! Mati aku!' batin Ayu.
***
Bagaimana reaksi orang tua Ayu setelah tahu Leo bekerja sebagai pembantu di rumah mereka?
Tunggu kelanjutannya ya. Jangan lupa untuk klik like, favorit,, hadiah dan Vote-nya juga. Dukung aku terus.
Sambil menunggu Up bab berikutnya. Baca juga nih, karya teman aku. Ceritanya bagus juga loh. Yuk meluncur ke sana.
Judul : Heavanna
Napen : SRN 27
Blurb:
Karena penghianatan pacar dan sahabatnya, Zia memutuskan untuk pindah sekolah. Namun siapa sangka kepindahannya ke SMA Galaxy malah mempertemukan dirinya dengan cowok bernama Heaven. Hingga suatu ketika, keadaan tiba-tiba tidak berpihak padanya. Cowok dingin itu menyatakan perasaan padanya dengan cara yang sangat memaksa.
"Apa nggak ada pilihan lain, selain jadi pacar lo?" tanya Zia mencoba bernegosiasi.
"Ada, gue kasih tiga pilihan. Dan lo harus pilih salah satunya!"
"Apa aja?" tanya Zia.
__ADS_1
"Pertama, lo harus jadi pacar gue. Kedua, lo harus jadi istri gue. Dan ketiga, lo harus pilih keduanya!" ucap Heaven dengan penuh penekanan.