Ayu Sang Penakluk

Ayu Sang Penakluk
#Lahiran si Kembar


__ADS_3

     Begitu sampai di rumah sakit Leo langsung membawa istrinya ke ruang dokter kandungan yang bertanggung jawab menangani proses melahirkan yang akan dijalani oleh Ayu. Kali ini rasa gugupnya lebih-lebih dari yang kemarin karena Ayu beberapa kali berteriak dan mencengkram kuat tangannya.


"Baby, kamu pasti bisa. Mereka sedang menanti pertemuannya dengan kita," bisik Leo ketika Ayu merintih kesakitan saat bayi-bayinya itu ingin segera keluar.


"Sakit, Kak!" Ayu mengeluarkan air matanya.


     Dokter yang membantu menangani proses lahiran memberi aba-aba kepada Ayu. Kapan harus menarik napas dan kapan mengejan.


"Tarik napasnya Nyonya. Dorong!" perintah dokter.


"Sakit, Kak. Kamu harus bertanggung jawab!" teriak Ayu sambil menjambak rambut Leo dengan kuat.


"Iya, Baby. Aku akan bertanggung jawab. Kamu tenang saja. Sekarang keluarkan dulu anak kita. Kasihan mereka ingin melihat alam dunia," balas Leo sambil meringis karena kesakitan.


     Mendapat tindak kekerasan dari istrinya, Leo pasrah saja. Rasa sakit yang sedang dirasakan oleh Ayu jauh lebih sakit dari yang dia rasakan saat ini.


"Ayo, Nyonya! Dorong lagi yang kuat kepala bayinya sudah mulai terlihat," kata dokter memberi semangat kepada Ayu.


"Baby, ayo dorong lagi. Bukannya kita sudah menantikan saat-saat bisa bertemu dengan si Kembar," bisik Leo kemudian mencium kening istrinya.


"I love you." Leo membisikan sebuah mantra yang membuat Ayu merasa mendapatkan transfer energi dari suaminya.


"Aaaaakh!" Ayu mengejan dengan sekali tarikan napas dan si sulung pun keluar.


     Tangisan bayi yang keras memecah suasana pagi hari. Di mana semburat warna putih baru terlihat di ufuk sebelah timur.


"Bayi Anda tampan sekali," ucap dokter itu.


    Lalu bayinya di berikan kepada Ayu. Bayi mungil itu seperti mencari sesuatu. Mulut mungilnya bergerak terus.

__ADS_1


"Apa dia mau mimik susu?" tanya Leo.


"Iya, sepertinya begitu," jawab Ayu. 


     Maka Ayu pun memberikan sumber ASI pada putra sulungnya itu. Anaknya mimik dengan rakus. Ayu pun hanya meringis menahan rasa sakit dan perih.


"Anak Papa kelaparan kayaknya?" Leo melihat putranya minum susu milik ibunya dengan rakus.


"Bayi Anda dalam keadaan baik dan sehat." Dokter itu pun melihat tubuh bayi yang berada dalam dekapan Ayu.


     Si sulung menyusu hanya sekitar 15 menit karena adiknya juga ingin melihat isi dunia. Ayu merasakan mulas kembali. Dia ingin mengejan dan mengeluarkan si bungsu. Bayinya pun sudah diambil alih oleh perawat untuk dibersihkan.


"Dokter, sakit!" teriak Ayu sambil mencengkram tangan Leo dan seprai.


"Ayo, Baby. Kamu pasti bisa!" Leo memberi semangat pada istrinya.


     Sama seperti tadi bayi ini pun ingin keluar, tetapi kesulitan. Ayu sudah kehabisan tenaga.


"Nyonya, harus tetap menjaga kesadaran dirinya! Bayinya harus dikeluarkan terlebih dahulu," ucap dokter kandungan.


     Leo memutar otak bagaimana caranya agar Ayu tetap sadar dan mau mengeluarkan si bungsu.


"Ayu, bangun! Tiket bioskop Detektif Conan Movie sudah bisa di pesan. Ayo buruan pesan! Nanti keburu kehabisan." Leo berbisik di telinga Ayu.


     Tiba-tiba Ayu membuka matanya. Dia teringat kalau sedang menantikan film terbaru movie Detektif Conan.


"Conan! Kak Leo, tolong pesankan aku tiketnya!" pinta Ayu sambil melirik ke arah suaminya.


"Iya. Makanya kamu harus tetap menjaga kesadar. Jangan tidur dulu," balas Leo.

__ADS_1


"Ayo, Nyonya. Tarik napas. Tahan. Dorong!" Dokter terus mengulang-ulang perintahnya kepada Ayu.


"Aaaaaakh!" Ayu melakukan instruksi yang diperintahkan oleh dokter.


"Sayang, kasihan Mama sudah kesakitan seperti ini, hanya untuk mengeluarkan kamu. Ayo, cepat ke luar nanti Papa belikan mobil-mobilan," kata Leo mencoba merayu bayi yang ada di dalam perut istrinya. Dia sungguh sangat kasihan melihat istrinya kesakitan dalam jangka waktu lama.


"Kok mobil-mobilan, Kak! Inginnya mobil beneran," ujar Ayu sambil mengejan.


"Iya, nanti Papa belikan mobil kesukaan kamu," balas Leo.


"Kakak!" Ayu semakin kencang berteriak dan menjambak rambut Leo.


"Ayo, Sayang! lihatlah dunia ini. Buat Mama dan Papamu bahagia." Leo menyentuh perut milik Ayu.


"Aaaaakh!" Ayu mengejan untuk terakhir kali dan si bungsu langsung keluar.


Suara tangisan bayi begitu kencang dari putra bungsu pasangan Ayu dan Leo. Bayi kedua calon pewaris dari keluarga Esteban. Ternyata bayi mereka tidak memiliki wajah yang serupa alias bukan kembar identik.


"Selamat Nyonya! Putra kedua Anda sudah lahir. Bayi ini juga tampan." Dokter itu menyerahkan putra kedua pada Ayu dan lagi-lagi bayi ini menyusu dengan rakus. Tidak kalah dengan kakaknya.


"Terima kasih, Baby. Untuk perjuangan kamu untuk melahirkan buah hati kita. Aku semakin mencintaimu," bisik Leo dan Ayu tersenyum lemah. Dia sudah kehabisan tenaga rasanya juga ngantuk karena dari semalam tidak tidur.


"Ternyata harus dipancing dulu pakai mobil, ya, Tuan." Dokter dan perawat di sana malah tersenyum geli.


"Ya, mereka anak-anak yang akan mendapatkan banyak cinta dan kasih sayang dari orang-orang di sekitarnya," lanjut perawat yang berdiri di dekat dokter kandungan.


"Mereka calon orang-orang hebat di masa depan!" seru Leo diiringi senyum kebahagiaan.


"Semoga saja Tuan. Karena ucapan orang tua adalah doa bagi anaknya." Dokter itu mengambil si bungsu untuk dibersihkan terlebih dahulu.

__ADS_1


***


Bagaimana kisah mereka selanjutnya? Tunggu kelanjutannya ya! Jangan lupa untuk selalu klik like, komentar, favorit, hadiah, dan Vote-nya juga ya. Dukung aku terus. Terima kasih.


__ADS_2