
Aprilio yang kesulitan tidur malam itu, pergi ke balkon niatnya ingin melihat langit malam yang bertabur bintang. Saat dia meregangkan tubuhnya tanpa sengaja mata dia beradu pandang dengan Juli. Aprilio terkejut karena ada Juli di balkon kamar Ayu. Suatu hal yang bukan biasanya.
'Ngapain gadis itu malam-malam di balkon kamar orang,' batin Aprilio saat keduanya adu pandang.
Dahi Aprilio mengerut saat melihat Juli tersenyum dan melambaikan tangannya. Hal yang membuatnya kesal adalah saat gadis itu berkata " Aku cinta kamu!" terlihat jelas dari gerak bibirnya.
Mood Aprilio malah semakin buruk karena Juli. Maka, dia pun kembali ke dalam kamar.
Tubuh atletis itu terbaring di kasur empuk berukuran besar. Dia berguling ke kanan dan ke kiri berulang-ulang. Malah pikirannya semakin kacau.
"Ayu, kenapa sulit sekali melupakan bayang-bayang kamu dari otak aku," gumam Aprilio.
Kepalanya kini dia tutupi dengan bantal berharap cepat tidur. Baru setelah lewat tengah malam, Aprilio baru bisa tidur.
***
Juli dengan antusias bercerita tentang kejadian tadi malam. Matanya berbinar karena membicarakan laki-laki pujaan hatinya itu.
Ayu meski ekstra sabar mendengar cerita yang berulang-ulang dari sepupunya itu. Dia memahami perasaan saudara perempuan satu kakek dengannya, karena dia juga selalu begitu jika bertemu dengan Leo.
"Dasar bucin!" Ayu melemparkan bantal kecil kepada Juli dan berhasil di tangkap olehnya.
__ADS_1
"Bukannya kamu juga sama! Bucin-nya Leo," ujar Juli dan kembali melemparkan bantal tadi.
"Tapi aku tidak sebucin kamu pada April!" Ayu berhasil menangkap bantalnya.
"Sesama orang bucin, diam saja. Saling dukung!" Omel Juli.
"Sana menyapu halaman depan dan siram pohonnya. Nanti Pangeran kamu akan kelihatan," titah Ayu.
"Beneran?" tanya Juli antusias.
Ayu menganggukkan kepalanya dengan antusias agar Juli mau membantunya mengerjakan tugas harian Ayu. Tanpa diminta dua kali, Juli langsung melesat ke arah depan rumah.
"Yes! Lumayan tenaga bantuan. Jadi, aku tidak terlalu capek." Ayu tersenyum licik. Kemudian dia mengambil vacum cleaner untuk membersihkan rumah bagian dalam.
***
"Ayu, hari ini masuk kampus nggak, ya?" gumam September. Kemudian dia menghubungi sahabat baiknya itu.
"Halo, Ayu!" Sapa September.
[Halo, September. Ada apa? Tumben menelepon.]
__ADS_1
"Hari ini kamu akan ke kampus nggak?" tanya September dengan semangat karena tiba-tiba terlintas dalam otaknya untuk pergi jalan-jalan dengan sahabatnya itu.
[Ke kampus, ini masih di dalam perjalanan bersama Juli.]
"Juli? Ngapain kamu bersama dia pagi-pagi begini?" tanya September penasaran.
[Nanti aku ceritakan.]
"Oke. Aku tunggu kamu di kampus!" September mematikan ponselnya.
***
Ayu yang baru saja tiba di ruang kelas, langsung di todong oleh September yang tidak sabar ingin mendengar ceritanya. Kenapa kini Ayu dan Juli bisa akur satu sama lain.
Ayu pun menceritakan semuanya kepada September. Nyonya muda Castello pun tertawa terpingkal. Dia membayangkan dua orang yang dulu seperti kayak tikus dan kucing. Kini salah satunya jatuh cinta.
"Kamu juga sama. Kini bucin sama Kak Libra," balas Ayu sambil tertawa geli.
"Aku 'kan mau nggak mau harus hidup dengannya karena sudah jadi suami istri. Apalagi saat ini aku sedang hamil anaknya," bisik September.
"Apa?" Juli terkejut mendengar informasi dari September.
__ADS_1
***
Jangan lupa untuk selalu klik like, komentar, favorit, hadiah dan Vote-nya juga ya. Dukung aku terus. Terima kasih.