
Suasana pesta semakin meriah ketika para tamu undangan melakukan dansa. Mau itu pasangan muda atau pasangan manula semua berbaur larut dalam tarian dansa mereka.
Leo yang tidak suka dengan dansa hanya diam saja. Wajahnya datar karena banyak laki-laki yang melirik dan menatap terang-terangan kepada Ayu. Bagaimanapun kekasihnya sangat cantik malam ini. Sehingga Leo rasanya ingin membawa Ayu pergi dari sana.
"Baby, kita pergi dari sini!" bisik Leo.
"Aku masih mau berdansa," balas Ayu.
"Kita berdansa di balkon saja. Apa kamu tidak lihat mata para lelaki itu melirik kamu terus," ucap Leo sambil memeluk Ayu semakin posesif.
"Beneran kita berdansa di balkon?" tanya Ayu sangsi.
"Iya. Kita bisa berdansa sepuasnya," jawab Leo sambil menganggukkan kepalanya.
Keduanya pergi meninggalkan arena lantai dansa. Pergi menuju ke kamar lantai paling atas milik Leo. Saat masuk lift ternyata September dan Libra juga sudah ada di dalam.
"Kalian mau ke mana?" tanya Ayu.
"Sayang aku ini sudah lelah ingin beristirahat katanya," jawab Libra dan mendapat sikutan oleh September.
__ADS_1
"Ayu, kamu sendiri mau ke mana?" tanya September penasaran.
"Nih, Kak Leo ingin berdansa di balkon atas. Karena dibawah banyak laki-laki yang melirik sama aku," jawab Ayu dengan berbisik.
***
Aprilio yang merupakan laki-laki normal, harus kuat menahan godaan yang dilancarkan oleh Juli. Apalagi mereka berdansa dengan tubuh saling berdekatan. Begitu dengan muka yang berjarak hanya beberapa sentimeter. Bibir Juli yang tanpa sadar menjadi objek yang selalu dilirik oleh matanya.
"Juli, kita sudahi saja dansa ini," kata Aprilio.
"Harus sampai selesai dulu lagunya," ujar Juli.
Begitu lagu selesai, Aprilio buru-buru melepaskan diri dan pergi ke luar ballroom hotel. Dia pergi ke taman untuk menenangkan hati dan pikirannya.
Tanpa dia sadari langkahnya malah menuntun dia ke tempat-tempat banyak pasangan yang sedang menikmati indahnya pemandangan malam yang sedang banyak bertabur bintang di langit.
Aprilio yang sedang merasa kesal akhirnya berjalan menuju danau buatan di bagian belakang hotel. Di sana tidak banyak orang. Dia pun duduk di sana sambil menengadahkan kepalanya ke langit.
"Di sini bintangnya lebih terlihat jelas, ya!" Juli berdiri di belakang Aprilio.
__ADS_1
Aprilio tidak perlu memalingkan kepalanya hanya untuk melihat siapa yang datang. Dari suaranya saja sudah ketahuan siapa dia.
Juli pun duduk di samping Aprilio. Dia menggosok-gosok lengannya yang tidak tertutup kain.
Meski sambil menggerutu dan mengomel, Aprilio memakaikan jas miliknya pada Juli. Dia mana mungkin membiarkan wanita yang lebih lemah fisiknya merasa kedinginan oleh udara malam. Meski saat ini sudah masuk musim panas.
"April apa tidak ada kesempatan untuk aku, agar bisa masuk ke dalam hati kamu?" tanya Juli dengan pelan sambil menyandarkan kepalanya di atas tangan yang ditumpangkan di atas lututnya. Pandangannya mengarah kepada Aprilio.
"Entahlah. Aku tidak pernah menutup hatiku untuk siapa pun," jawab Aprilio masih menengadah dan melihat jutaan bintang di hamparan langit.
Tanpa permisi Juli menyandarkan kepalanya pada bahu Aprilio. Awalnya Aprilio juga terkejut, tetapi akhirnya membiarkannya.
Tidak ada penolakan dari Aprilio membuat Juli senang. Dia menghirup wangi tubuh laki-laki yang sudah menawan hatinya.
"Aku mencintaimu!" bisik Juli.
Aprilio diam. Tidak mengiyakan atau menolaknya.
***
__ADS_1
Bagaimana kisah selanjutnya? Tunggu kelanjutannya ya! Jangan lupa untuk selalu klik like, komentar, favorit, hadiah dan Vote-nya juga ya. Dukung aku terus. Terima kasih.