Ayu Sang Penakluk

Ayu Sang Penakluk
#Taruhan


__ADS_3

     Ayu menghindari Leo beberapa hari ini, dia menjadi sering menjadi kesal jika teringat kejadian itu. Meski Leo terlihat biasa saja, tetapi Ayu tidak terima. Apalagi sekarang dia sedang dekat dengan Aries. Setiap malam mereka sering bertukar pesan. Menanyakan kabar sampai kegiatan selama satu hari itu.


     Hari Minggu adalah hari yang paling menyenangkan bagi Ayu. Setelah berlari pagi dengan Aprilio, dia bisa nonton anime kesukaannya seharian itu. Kadang dia nonton bareng dengan Aprilio. 


"Yu, kita jajan es krim ke cafe Amor, yuk! Aku dapat voucher gratis, nih. Mau nggak?" Aprilio mengajak Ayu untuk ke luar rumah.


"Gratis?" tanya Ayu untuk memastikan.


"Iya, gratis!" Aprilio menekan kata yang paling disukai oleh Ayu.


"Asik. Ayo!" Ayu pun membuka lemari bajunya dan memilih baju yang cocok untuk pergi ke cafe.


     Kalau jalan-jalan bareng Aprilio mereka sering menggunakan motor. Maka, Ayu menggunakan setelan celana dan atasan tunik berlengan pendek. Rambut di kucir kuda dan pakai tas selempang berukuran kecil. Entah kebetulan atau tidak, Ayu dan Aprilio sama-sama memakai celana berwarna kopi susu dan atasan berwarna merah. Meraka terlihat sebagai pasangan yang sangat serasi.


     Keduanya pun menikmati makan es krim gratis sampai puas. Setelah itu mereka jalan-jalan ke taman kota. Canda tawa selalu mereka lakukan, jika sudah bersama mereka kadang suka lupa segalanya.


     Saat Ayu berlari untuk menghindari jitakkan di kepala oleh Aprilio, dia tidak sengaja menabrak tubuh seseorang. Ayu pun jatuh dalam pelukan orang yang ditabraknya.


"Maaf ..., aku tidak sengaja!" kata Ayu sambil menunduk penuh penyesalan.


"Lain kali hati-hati kalau berlari di jalan," balas orang yang ditabrak oleh Ayu.


     Mendengar suara yang tidak asing baginya. Membuat Ayu mendongakkan kepala dengan cepat dan melihat wajah orang yang baru saja di tabrak olehnya. Dari sekian banyak orang di kota itu, Ayu tidak mau bertemu dengannya saat ini.


"Kak Leo!" Orang yang sedang Ayu hindari kini sedang berdiri didepannya.


"Apa?" tanya Leo dengan suara datarnya.


     Ayu cepat-cepat berdiri tegak dan melepaskan pelukan padanya. Aprilio pun menarik tangan Ayu dan menggenggamnya. Tindakannya itu membuat Leo tidak suka.

__ADS_1


     Aprilio pun mengajak pergi Ayu, tentu saja Leo kesal dan menarik tangan Ayu satunya lagi. Kini Ayu berada ditengah-tengah dengan kedua tangan dipegang oleh dua laki-laki berwajah tampan.


"Ada apa Kak Leo?" tanya Ayu dengan nada kesal.


"Enak saja setelah nabrak tubuh orang, langsung pergi begitu saja," jawab Leo.


"Lalu aku harus berbuat apa? Tadi 'kan aku sudah minta maaf." Ayu memasang wajah kesal dan itu terlihat manis di mata Leo.


"Bertanggung jawab." Leo tidak mau melepaskan Ayu begitu saja.


     Aprilio yang melihat perbuatan Leo yang arogan, langsung maju ke depan Ayu dan menarik lepas cengkraman Leo dari tangan Ayu. Hal itu membuat Ayu meringis kesakitan.


"Lepas! Kamu sudah menyakiti Ayu," ucap Aprilio.


     Leo dan Aprilio saling bersitegang, Ayu pun berusaha menenangkan mereka berdua. Bunyi handphone milik Aprilio membuyarkan ketegangan di antara mereka.


"Iya, Mah. April lagi di taman kota bersama Ayu."


"Baik Mah, April ke sana sekarang!" 


     Aprilio pun menatap ke arah Ayu, "Kita pulang, sambil jemput Mama di rumah temannya."


"Tidak! Ayu masih ada urusan dengan aku." Leo dengan cepat menarik tubuh Ayu kerahnya.


"Apaan, sih! Lepas aku mau pulang." Ayu berusaha melepaskan diri dari Leo.


"Diam dan menurut apa kata aku atau kucium lagi kamu di sini," bisik Leo.


     Ayu yang ingin menjauh dari Leo, tiba-tiba menganggukkan kepalanya. Tanda dia menyetujui perkataan Leo. Aprilio sangat kecewa karena Ayu tidak mau pulang dengannya.

__ADS_1


"Baiklah. Kalau ada apa-apa langsung hubungi aku!" pinta Aprilio kepada Ayu yang dibalas anggukan.


"Kalau ternyata sesuatu kepada Ayu. Orang pertama yang harus bertanggung jawab adalah kamu!" Aprilio memberi peringatan kepada Leo dan dibalas dengan dengusan kasar.


***


     Kini Ayu dan Leo duduk di kursi taman kota. Keduanya diam tidak ada salah seorang yang memulai pembicaraan. Sampai ada seorang nenek-nenek menawari mereka barang dagangan yang ada di keranjang yang di pegang dengan kedua tangannya yang sudah berkeriput.


"Tuan ..., Nona apa kalian mau membeli kue pai susu buatan nenek?" tawar si nenek kepada mereka berdua.


"Kue ..., pai susu?" Ayu yang penyuka makanan manis, langsung membelinya beberapa biji.


     Melihat dagangan si nenek yang masih banyak membuat Ayu kasihan. Dia pun meminta Leo untuk memborong semua kue pai susu itu. 


"Si_al! Dompetku ketinggalan di mobil." Leo bergumam, tetapi masih kedengaran oleh Ayu.


"Kenapa? Nggak punya punya uang? Kalau gitu kita bagi dua kue ini, lalu jual kepada para pengunjung taman. Bagaimana?" tawar Ayu kepada Leo.


     Leo yang merasa memiliki peluang besar dapat menjual lebih cepat dari Ayu. Mempunyai ide sebagai bahan taruhan.


"Oke. Kita lihat siapa yang lebih cepat menjual kue pai susu ini sampai habis. Dia bisa meminta permohonan kepada yang kalah. Atau lebih tepatnya yang kalah harus mengabulkan satu permohonan si pemenang." 


***


Taruhan apa yang direncanakan oleh Leo?


Siapakah yang akan menang dalam taruhan itu?


Tunggu kelanjutannya ya.

__ADS_1


Jangan lupa baca juga karya teman aku, Author Chika Ssi. Bagus ceritanya loh.



__ADS_2