
Udara malam yang dingin membuat Ayu menggosok-gosokan kedua telapak tangannya. Aprilio ingin menarik tangan si gadis dan memasukannya ke saku di jaketnya yang lebar dan dalam.
"Kayaknya suhu udara semakin dingin, kita pulang saja!" ajak Aprilio sambil berdiri dari kursi yang sejak satu jam tadi, dia duduki.
Ayu masih belum puas bicara karena kesepakatan mereka belum tercapai. Hanya dengan memasang wajah ditekuk, membuat Aprilio kembali duduk di sampingnya.
"Di sini dingin. Kita cari makanan atau minuman yang hangat-hangat dan lanjutkan pembicaraan tadi," kata Aprilio mengalah kepada Ayu. Dia berdiri dan mengulurkan tangannya.
'Kenapa sih, aku selalu tidak bisa menolak keinginannya.' Aprilio berbicara dalam hatinya.
Ayu pun tersenyum dan menerima uluran tangan Aprilio. Keduanya berjalan dengan saling bergandengan tangan, berbagi kehangatan.
***
Mereka berjalan ke luar komplek perumahan dan berjalan sekitar satu kilo ke pusat jajanan malam. Tempat yang sangat ramai ketika malam hari. Dikunjungi oleh para pecinta kuliner. Banyak berbagai makanan yang ditawarkan di sana. Rata-rata jajan Nusantara, meski ada beberapa makanan Barat dan Timur Tengah yang mereka tawarkan, tetapi itu bisa dihitung dengan jari.
Ayu dan Aprilio memilih jajan mie ayam dan teh manis. Cuma dengan uang 15.000 perut mereka bisa kenyang dan rasanya yang memanjakan lidah. Sambil makan mereka melanjutkan lagi pembicaraan tadi.
"Kamu harus bilang kalau kamu menolak perjodohan ini. Apapun yang terjadi perjodohan kita tidak boleh sampai terjadi." Ayu bersikukuh pada pendiriannya tidak mau dijodohkan.
"Iya, aku tahu! Kamu bicara itu sehari ini lebih dari seratus kali," sewot Aprilio setelah menelan mie ayam yang dikasih sambal cabe dua sendok.
"Aku nggak akan diam sampai kamu benar-benar akan menolak perjodohan itu!" ujar Ayu lagi.
"Iya ..., iya! Aku akan menolak dengan tegas kalau tidak mau dijodohkan. Aku akan mendapatkan kamu dengan cara lain," balas Aprilio dengan liciknya.
"Iya, bagus! Harus begitu. Eh, tunggu .... Cara yang lain tadi itu apa?" Ayu kurang jelas mendengar perkataan Aprilio barusan karena bersamaan ada motor yang menekan klakson di dekat gerobak.
"Apa?" Aprilio pura-pura tidak mengerti.
"Ah, sudahlah. Kita pulang kalau sudah habis makan mie ayamnya." Ayu pun menyuapkan mie ayam yang rasanya ekstra pedas.
***
Saat Ayu dan Aprilio pulang, mereka bertemu dengan Januari dan Aquarius yang baru turun dari mobil. Keduanya tersenyum bahagia, pancaran matanya juga bersinar.
"Kalian habis dari mana malam-malam begini?" tanya Januari begitu kedua pemuda dan pemudi berdiri di depannya.
"Habis makan Mie Ayam Mas Brewok," jawab Aprilio.
"Ayu pamit duluan, ya!" Ayu berlari ke arah pintu gerbang besi yang tidak jauh dari sana.
"Kamu kencan dengan Ayu? Nggak elite banget kencan di pinggir jalan sambil jajan mie ayam." Januari meledek adiknya.
"Seenggaknya kencan aku dan Ayu, nggak melewati batas. Tuh hapus lipstik di bibir Kakak." Gantian Aprilio mengejek Januari dan langsung lari masuk ke dalam halaman rumah mereka.
__ADS_1
Aquarius pun langsung menghapus sedikit noda lipstik di bibir atas Januari. "Mata Aprilio awas juga, ya! Padahal lipstik nggak begitu kelihatan."
"Sebenarnya, itu cuma akal-akalan dia saja. Mana ada bekas lipstik yang menempel."
"Tapi, beneran ada kok. Walau sedikit dan samar," balas Aquarius.
"Sudahlah. Ayo kita masuk! Mama sudah menunggu kita." Januari dan Aquarius sedang disibukan dengan persiapan pernikahan mereka yang akan digelar bulan depan.
***
Leo sedang memikirkan bagaimana cara agar bisa mendapatkan restu dari calon ibu mertua. Dia sampai browsing di internet, tetapi isinya kebanyakan malah tentang sinetron tentang kejamnya ibu mertua atau menantu versus mertua.
"Apaan ini? Kok isinya kayak begini. Tidak ada tips cara meluluhkan hati calon ibu mertua." Leo bermonolog sambil membuka artikel yang dikira menarik dibaca.
"Apa aku tanya sama Mama saja, ya? Eh, tidak-tidak. Bagaimana kalau nanti Mama malah marah sama Mamanya Ayu karena tidak merestui aku. Oma? Ah, jalan pikiran Oma suka kolot. Bisa-bisa nanti aku disuruh putus sama Ayu karena tidak mendapatkan restu dari orang tuanya." Leo pun berjalan mondar-mandir di kamarnya.
"Libra? Dia 'kan pintar merayu wanita." Leo pun mengambil handphone miliknya dan langsung menghubungi sahabatnya itu.
Baru dering pertama, panggilan itu langsung diangkat. Hal yang langka terjadi, jika menghubungi Libra langsung diangkat.
[Halo, Leo! Tolongin aku!]
"Apa ada? Apa yang sedang terjadi padamu?"
[Kemarin malam ak–aku ..., meniduri September]
[Akh! Kamu ini bodoh sekali masa tidak mengerti apa maksud dari perkataanku?]
"Aku nggak mengerti meniduri itu apa?"
[Aku sudah tidur bersama September. Semalam aku mabuk dan tidak sadar sudah memperkosanya]
"Apa! Gila kamu! Kalau sampai Ayu tahu dia pasti akan sangat marah!"
[Aku tidak sadar saat melakukannya!]
"Lalu, bagaimana reaksi keluarga kalian? Bukannya kalian sudah bertunangan!"
[Aku belum bilang apa-apa sama keluarga kami]
"Kamu menunggu dieksekusi oleh keluarga Kimberley?"
[Masalahnya September hilang, jadi aku belum berani bicara pada mereka. Tidak ada kabar sama sekali darinya. Aku datang ke rumahnya pun, mereka bilang September sedang pergi berlibur. Mana mungkin ditengah sebentar lagi waktu ujian dia pergi berlibur. Aku curiga dia kabur.]
"Kamu tidak tanya pada teman-teman atau kerabat September yang lainnya?"
__ADS_1
[Sudah, dan mereka juga tidak tahu di mana September]
"Akh, sudahlah! Kamu malah membuat kepala aku semakin sakit." Leo pun memutuskan panggilan itu.
***
Ayu menghubungi September, tetapi nomornya tidak aktif. Tadi juga temannya itu tidak masuk kuliah.
"September ke mana sih? Kok sulit dihubungi." Ayu menyimpan kembali handphone miliknya di atas nakas yang ada di samping kasurnya.
Baru saja Ayu memejamkan matanya. Benda persegi panjang dan pipih itu berbunyi. Dengan malas Ayu mengambilnya dan menggeser tombol hijau.
"Halo," sapa Ayu tanpa melihat siapa yang sedang menghubunginya.
[Halo, Ayu. Ini aku, Libra.]
Ayu yang sedang berbaring pun langsung bangun dan duduk di atas ranjangnya. Dia cek nama yang menghubunginya, Senior Gila 2.
"Ada apa Kak Libra malam-malam menghubungi aku?"
[Apa September menghubungi kamu hari ini?]
"Tidak Kak! Aku kesulitan menghubunginya. Tadi juga dia tidak datang ke kampus."
[Oh, begitu ya! Kalau dia menghubungi kamu. Secepatnya hubungi aku juga, ya!]
"Kalian sedang ada masalah apalagi?"
[Ya, kita ada masalah. Tapi, saat ini aku belum bisa cerita kepadamu.]
"Apa masalahnya sangat serius? Sampai September tidak bisa dihubungi seperti ini!"
[Aku akan ceritakan semuanya padamu, nanti.]
Percakapan Ayu dan Libra pun berakhir. Maka, Ayu menghubungi Taurus. Dia merasa kalau lelaki itu tahu di mana September berada.
Ayu mencoba beberapa kali melakukan panggilan ke nomor milik Taurus, tetapi nomor itu juga sama tidak aktif. Perasaan kesal membuat rasa ngantuk Ayu hilang.
"September, kamu kemana sih?" Ayu berbicara sendiri dan kembali mencoba menghubungi nomor sahabatnya.
***
Dimana September berada sekarang? Bagaimana reaksi keluarga Aprilio saat mengetahui Ayu sudah punya pacar?
Tunggu kelanjutannya ya. Jangan lupa untuk klik, like, favorit, hadiah dan Vote-nya juga ya. Dukung aku terus. Terima kasih.
__ADS_1
Sambil menunggu Up bab berikutnya. Baca juga yuk karya teman aku. Ceritanya nggak kalah bagus loh.