Ayu Sang Penakluk

Ayu Sang Penakluk
#Membatalkan Perjanjian


__ADS_3

     Leo berjalan ke arah Ayu dan menyimpan selang dan mematikan kran. Dengan langkah gontai dia menaiki teras di mana Ayu sedang menunggunya. 


"Ada apa? Kok kelihatan serius," tanya Leo begitu berada di depan Ayu dan saling berhadap-hadapan.


"Ada yang perlu kita bicarakan, Kak," jawab Ayu sambil menarik tangan Leo masuk ke rumah dan mendudukkannya di sofa yang ada di ruang tamu.


     Ayu memilih duduk di sofa tunggal yang berada di sisi kanan sofa yang di duduki oleh Leo. Kini keduanya saling menatap tanpa bicara.


     Leo mengangkat alisnya karena Ayu belum juga memulai pembicaraan yang katanya penting itu. Leo pun berdeham untuk mencairkan suasana yang menjadi kaku di antara mereka.


"Kak Leo, tugas sebagai pembantu di rumah aku sampai hari ini saja, ya. Aku akan mengakhiri dan membebaskan Kak Leo dari taruhan itu. Terima kasih sudah mau membantu aku membersihkan rumah dan—"


"Tidak mau! Perjanjiannya juga satu bulan. Aku baru saja empat hari menjadi pembantu di sini, masih ada duapuluh enam hari lagi." Leo langsung memotong pembicaraan Ayu karena tidak setuju dengan idenya itu.


"Tapi, aku ingin mengakhirinya sampai hari ini!" Ayu bersikukuh dengan keinginannya bahkan dia langsung berdiri dari sofa yang lembut dan lebar serta harganya mahal itu.


"Aku akan tetap melakukannya selama satu bulan penuh." Leo juga ikut-ikutan berdiri dari sofa berwarna marun gradasi hitam.


     Ayu memijat pelipisnya karena mendadak sakit kepala. Dia berusaha menghilangkan rasa berdenyut-denyut menggunakan ibu jari dan telunjuknya.


"Apa Kak Leo tidak capek setiap hari bersih-bersih dan membereskan rumah orang lain?" tanya Ayu.


"Tidak!" jawab Leo langsung tanpa jeda sama sekali.


     Ayu menarik napas dan menghembuskan dengan pelan. Diliriknya pemuda dengan setelan casual yang setiap hari terlihat semakin tampan, mengalahkan artis-artis Korea kesukaan September.


    Leo pun menatap Ayu dengan harapan gadis cantik didekatnya itu membatalkan niat untuk memberhentikan dirinya. Dia masih betah berada di rumah ini yang menurutnya nyaman.


"Kenapa? Bukannya mengerjakan semua ini malah membuat lelah dan capek," tanya Ayu dengan nada bicara melemah.


"Entahlah aku sudah merasa nyaman saja di sini," jawab Leo.

__ADS_1


"Kak Leo bukannya pergi ngantor juga?" tanya Ayu mengingatkan Leo akan absen pekerjaan di kantor.


"Itu mudah aku lakukan, mau di mana saja aku masih bisa menangani urusan kantor. Sama hal penting lainnya juga bisa aku atur. Asal ada laptop dan handphone, aku bisa mengerjakan tugas aku sebagai karyawan kantor dan mahasiswa," jawab Leo dan membuat Ayu terdiam.


     Ayu bingung harus ngomong apalagi agar Leo benar-benar berhenti bekerja di rumahnya, dan memilih untuk fokus ke pekerjaan kantor perusahaan keluarga Esteban.


"Jangan-jangan Kak Leo punya suatu rencana untukku. Mau balas dendam sama aku?" tanya Ayu kepada Leo.


"Rencana balas dendam? Apa itu?" tanya Leo dengan memasang wajah bocah tengil kepada Ayu. Senyum jahil langsung tercipta di bibirnya yang tebal bagian bawah dan tipis bagian atas.


     Ayu yang gemas dengan pertayanan Leo barusan, langsung menipuknya menggunakan bantal sofa. "Aku serius Kakak! Pokoknya hari ini kita akhiri perjanjian ini. Aku Rahayu Asha Jaya, menyatakan akan mengakhiri tugas Leo Esteban sebagai pembantu. Titik!"


"Nggak! Aku menolak. Aku masih ingin menjadi pembantu di rumah ini," balas Leo dengan menyilangkan kedua jari telunjuknya.


"Ish ..., apa yang harus aku lakukan agar Kak Leo mau berhenti jadi pembantu?" tanya Ayu dengan nada bicara kesal dan kaki kanan di hentakan karena sudah sangat gusar.


"Kalau begitu gantian kamu yang menjadi pelayan di rumah aku!" pinta Leo kepada Ayu.


"Apa? Nggak mau. Terserah Kak Leo saja. Aku akan minta satpam komplek untuk melarang Kakak masuk ke daerah sini lagi," balas Ayu kemudian meninggalkan Leo karena mau mandi.


"Dasar gila!" balas Ayu dengan berteriak juga.


***


     Ayu pergi ke kampus bersama Leo dengan menggunakan kendaraan masing-masing. Ayu sudah pasrah saja kalau nanti dimarahi oleh orang tuanya.


     Ayu berjalan dengan cepat ke arah kelasnya karena September sudah beberapa kali melakukan panggilan padanya tadi. Seperti biasa Ayu selalu menyapa teman-teman yang berpas-pasan dengannya.


     Saat masuk ke kelas, ternyata September sedang menelungkup 'kan wajahnya di meja. Ayu pun mendatangi meja sahabat baik yang selalu setia padanya.


"Ada apa sih, kayak darurat banget?" tanya Ayu begitu mendudukkan bokong indahnya pada kursi.

__ADS_1


"Ayu ..., kamu harus tolongin aku!" September bicara sambil terisak.


"Tolongin apa?" tanya Ayu tidak mengerti karena tiba-tiba temannya itu langsung minta tolong, tanpa bicara dengan jelas minta tolong apa.


"Gara-gara semalam aku pulang larut malam dan di antar sama Kak Libra. Papa dan Mamaku menyuruh kita untuk cepat-cepat menikah. Mereka menyangka kalau aku dan Kak Libra sudah berbuat hal yang sudah jauh." September bercerita sambil menangis dan tangan kanan dan kiri silih berganti menghapus jejak air mata di pipi mulusnya.


"Lalu bagaimana dengan Kak Libra? Dia bilang apa?" tanya Ayu bertubi-tubi karena merasa kasihan terhadap September jika harus menikah dengan laki-laki mata keranjang itu.


"Tentu saja dia menolaknya. Dia mana mau terikat dengan satu wanita. Tiap hari dia gonta-ganti pasangan layaknya ganti baju," jawab September dengan geram.


     Ayu pun memeluk tubuh September, dia mencoba untuk menenangkan hati dan pikiran sahabatnya dari perjodohan yang tidak dia inginkan. Seandainya dia juga sama-sama dijodohkan oleh orang tuanya. Maka, dirinya lebih beruntung dibandingkan dengan September. Setidaknya Aprilio bukan laki-laki brengsek dan mata keranjang.


"Apa sebaiknya kamu membicarakan tentang siapa itu Libra, kepada orang tuamu? Agar mereka membatalkan perjodohan kalian." Ayu memberikan ide yang terlintas di kepalanya pada September.


"Sudah dari awal juga aku nggak mau di jodohkan dengannya."


"Hah susah juga, ya! Apa sebaiknya kamu cari laki-laki dari keluarga konglomerat yang nggak kalah jumlah kekayaannya dengan keluarga Castillo."


"Siapa laki-laki itu?" 


"Misal ..., pewaris keluarga Esteban," jawab Ayu ragu-ragu karena semalam Leo meminta dirinya untuk menjadi menantu keluarga Esteban.


     Mendengar Ayu menyebutkan nama salah satu orang terkaya di negri tercintanya ini, September berpikir sejenak. "Aku lebih baik memilih Kak Leo daripada Kak Libra."


     Mendengar kata-kata September barusan, Ayu merasakan ada yang aneh dengan perasaannya. Namun, dia tidak bisa menyebutkan apa itu. Ayu pun menepis pikiran-pikiran aneh menurutnya.


"Ayu mau 'kah kamu membantu aku agar bisa dekat dengan Kak Leo!" pinta September dengan tatapan penuh harap.


***


Bagaimanakah tanggapan Ayu dengan keinginan September? Bagaimana dengan reaksi Libra dan Leo jika mengetahui rencana mereka? Tunggu kelanjutannya ya.

__ADS_1


Jangan lupa untuk klik like, favorit, hadiah, dan Vote-nya juga ya. Dukung aku terus. Terima kasih.


     


__ADS_2