Ayu Sang Penakluk

Ayu Sang Penakluk
#Menanti Kelahiran Baby Girl


__ADS_3

     Tiga hari Ayu bersama bayinya tinggal di rumah sakit. Sebagai seorang suami, Leo itu selalu siap sedia. Dia selalu terjaga setiap malamnya. Jika, bayi-bayi itu menangis maka dengan cepat dia menenangkan mereka. Ketika anak-anaknya pipis atau pup Leo yang menggantikan popoknya.


     Kalau Leo menjaga dan mengurus si kembar di malam hari, maka Ayu yang akan menjaga mereka di siang hari. Kehadiran si Kembar dalam hidupnya membuat dia dan Leo semakin kompak dan saling mendukung. Keduanya sama-sama belajar bersabar dalam mengurus anak-anak mereka.


"Kak Leo, makan dulu! Nanti lanjut lagi istirahatnya." Ayu membangunkan Leo yang sedang tidur untuk makan siang.


"Aku mengantuk, Baby. Semalam aku tidak tidur sama sekali. Ternyata ada beberapa paparazi yang menyusup ke dalam rumah sakit ini," ucap Leo sambil memejamkan matanya.


     Kelahiran pewaris dari keluarga Esteban mengundang rasa penasaran orang banyak. Sehingga banyak paparazi yang melakukan segala cara hanya untuk mendapatkan gambar dari bayi milyuner itu. Bayi yang baru lahir langsung mendapatkan masing-masing saham perusahaan sebanyak 1% milik keluarga Esteban dan 2,5% saham milik keluarga Jaya.


     Ayu dan Leo berusaha melindungi putra mereka dari orang-orang yang tidak tanggung jawab. Bukan hal aneh jika bayi atau anak para konglomerat selalu jadi sasaran penculikan oleh penjahat yang haus akan uang.


***


     Kamar si Kembar sebenarnya sudah disiapkan di samping kamar Leo dan Ayu. Hanya saja keduanya tidak mau jauh-jauh dengan si Kembar saat ini. Jadi, Leo membeli kasur bayi lagi untuk di letakan di kamarnya. 


"Kak, Alfa ini wajahnya copy-an kamu. Lihat deh! Bahkan senyumnya juga mirip kamu. Gemes banget!" Ayu sedang menimang si sulung.


"Kalau Rigel ini mirip kamu. Lihat apalagi kalau lagi cemberut seperti ini. Lucu bangetkan!" Leo menciumi pipi si bungsu.

__ADS_1


     Tidak lama kemudian, datang Aprilio dan Juli. Keduanya rajin mengunjungi si Kembar. Bahkan setiap hari mereka akan bermain-main bersama. Si Kembar pun sudah merasa tidak asing dengan keduanya, sehingga mau di gendong oleh mereka.


"Kapan kalian akan menikah? Apa nggak ada niatan mempercepat rencana pernikahan?" tanya Canser.


"Kalau aku sekarang juga siap untuk menikah. Kalau April ...." Julia melirik ke arah Aprilio yang sedang bercanda dengan Rigel.


     Ayu tahu kenapa Aprilio ingin menyelesaikan dulu kuliahnya. Dia ingin membuktikan kalau dirinya juga mampu memegang perusahaan milik keluarganya. Jadi, sekarang dia sedang fokus untuk mencari ilmu dan pengalaman. Baru nanti memikirkan urusan pernikahan.


"Jika kamu ingin menghabiskan sisa hidupmu bersama April, maka dukulah cita-citanya. Semoga saja begitu kalian lulus kuliah bisa langsung menikah," ujar Ayu sambil tersenyum tipis.


     Ayu merasa beruntung karena bisa menikah dengan Leo setelah banyak pengorbanan yang telah mereka lalui. Cinta mereka juga semakin menguat karena rintangan yang mereka hadapi. Ditambah sekarang ini dengan kehadiran si Kembar.


"Wah, ternyata April sudah pantas menjadi seorang Papa." Tiba-tiba Oma Pio muncul dari arah belakang mereka. 


     Mendengar hal itu membuat Aprilio tersenyum malu. Dia juga membayangkan bagaimana rupa anaknya nanti bersama Julia. Apakah akan mirip dirinya atau mirip kekasihnya. Mungkin juga perpaduan keduanya.


"Oma doakan semoga kalian bisa cepat menikah," lanjut Oma Pio sambil menepuk bahu Aprilio.


***

__ADS_1


     Tidak terasa kehamilan September sudah masuk minggu ke-38 dan itu berarti sudah waktunya mereka bersiap-siap menyambut baby girl. Libra yang overprotektif semakin ketat menjaga September. Dia juga menjaga istrinya itu 24 jam full. Ada tanda-tanda seperti ingin melahirkan saja Libra langsung waspada.


"Sayang, ingat! Kemanapun kamu ingin jalan-jalan, jangan pergi seorang diri. Harus ada yang menemani kamu. Meski itu berjalan-jalan di sekitar rumah." Libra mengingatkan istrinya.


"Iya, Sayang. Kamu bicara seperti ini sudah ratusan kali. Dan aku pun tidak pernah pergi sendirian, selalu ada yang menemani," balas September sambil mengelus perutnya.


"Bayi kita kapan akan keluarnya? Bayi milik Leo sudah lima belas hari. Kenapa bayi kita belum juga ingin melihat alam dunia ini?" tanya Libra sambil ikutan mengelus perut istrinya.


     Sebenarnya September merasakan mulas-mulas sejak tadi pagi. Namun, dia diam saja selagi rasa sakit dan mulas itu masih bisa ditahan olehnya. Jaraknya juga lama dari rasa mulas ke mulas berikutnya.


"Bayi kita juga sepertinya sebentar lagi akan bertemu dengan Papanya." September melirik pada suaminya.


"Benarkah itu, Sayang?" tanya Libra senang.


"Semoga saja, Sayang. Aku juga sudah tidak sabar menanti pertemuan dengan putri kita," ucap September.


***


Bagaimana kisah mereka selanjutnya? Tunggu kelanjutannya ya! Jangan lupa untuk selalu klik like, komentar, favorit, hadiah, dan Vote-nya juga ya. Dukung aku terus. Terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2