Ayu Sang Penakluk

Ayu Sang Penakluk
#Surat (Ayu)


__ADS_3

     Seperti biasa pagi-pagi Leo datang ke rumah Ayu. Mengerjakan rutinitas biasanya yang sudah dia jalankan selama dua minggu ini. Sambil menenteng bubur kesukaan Ayu dan Agustus, dia menekan bel rumah keluarga Jaya yang dekat pagar besi.


"Tumben pintu gerbangnya masih dikunci," gumam Leo sambil menekan bel untuk kedua kali.


     Ayu yang melihat mobil kekasihnya sudah berada di depan pintu pagar besi di depan, hendak membukakan untuknya. Namun, dia dihentikan oleh Mei.


"Mau ke mana, Ayu?" tanya Mei begitu Ayu berlari ke arah pintu depan.


"A–Ada ..., Kak Leo di depan pagar, Ma." Ayu menjawab pertanyaan Mamanya dengan rasa was-was takut kena omel.


"Sudah ada Papa yang menghampirinya. Kamu bantu saja Mama buat sarapan!" titah Mei.


     Dengan langkah gontai Ayu pun mengekori Mei menuju dapur. Dia merasa kesal karena tidak bisa bertemu dengan kekasihnya.


***


     Agustus mendatangi Leo yang sedang berdiri di depan pintu gerbang rumahnya. Senyum ramah Leo seperti biasa di tampilkan jika bertemu dengan calon mertuanya.


"Selamat pagi, Om!" sapa Leo dengan suara bariton miliknya yang Ayu bilang seksi.


"Pagi. Leo, mulai hari ini kamu tidak perlu datang ke sini lagi. Mamanya Ayu juga sudah sembuh dan sudah mampu mengerjakan semua pekerjaan rumah." Agustus kecewa kepada Leo yang tidak memberitahu siapa dia sebenarnya. Dia merasa kalau kekasih anaknya itu tidak jujur, banyak menyembunyikan sesuatu darinya.


"Tapi, Om .... Perjanjian aku dan Ayu masih ada dua minggu lagi," ucap Leo.


"Om, tahu. Ayu juga sudah bersedia mengakhiri perjanjiannya dengan kamu. Jadi, pergilah!" Agustus membalikkan badannya dan meninggalkan Leo yang masih berdiri di depan pintu gerbangnya.


     Leo merasa ada yang aneh dengan sikap Agustus, memutuskan menghubungi Ayu lewat handphone. Namun, sudah lima kali dia melakukan panggilan tidak diangkat juga oleh Ayu. Hal ini membuatnya cemas.


"Apa Ayu, baik-baik saja? Kenapa nggak angkat teleponnya?" Leo bertanya-tanya sambil memandangi kamar Ayu.


     Leo pun mengganti panggilan kepada orang lain, "Halo, apa—"


[Datanglah ke taman komplek. Kita harus membicarakan sesuatu yang sangat penting! Ini tentang Ayu.]


     Panggilan teleponnya langsung terputus. "Dasar tidak tahu sopan santun! Orang lagi bicara langsung dipotong. Belum bicara lagi langsung di tutup. Awas akan aku balas nanti!" umpat Leo sambil melihat ke arah handphone miliknya yang masih tertera nama kontak orang yang baru saja dia hubungi.

__ADS_1


***


     Leo pun mengarahkan mobilnya menuju tempat perjanjian. Saat sampai di sana tidak ada siapa-siapa. Entah karena masih pagi sekali atau karena bukan hari libur. Biasanya saat dia lewat sana atau lari sore hari bersama Ayu selalu saja ada orang. Udara sejuk, sinar mentari mulai terasa hangat, dan suasana sangat tenang. Membuat Leo merasa nyaman.


"Maaf terlambat karena harus ada yang aku urus terlebih dahulu." 


     Suara yang familiar bagi Leo, membuyarkan pikiran yang ada di otaknya. Wajah kesal langsung Leo tercipta begitu melihat sang pengganggu.


"Katakan April, ada apa?" tanya Leo langsung pada intinya.


"Semalam aku dan Ayu sudah bertunangan—," jawab Aprilio.


     Tanpa bertanya lebih dahulu atau ancang-ancang. Leo langsung mengarahkan tinjunya ke muka Aprilio begitu mendengar kata 'tunangan' tanpa mendengar kelanjutannya. 


     Pukulan Leo yang tiba-tiba dan sangat kuat, seakan meremukkan rahang Aprilio. Bahkan tubuhnya jatuh tersungkur ke tanah.


"Dengarkan dulu sampai selesai!" Aprilio paling tidak suka dengan orang yang mendahulukan emosi.


"Apa yang harus aku dengarkan? Kamu sudah tahu kalau Ayu itu adalah kekasih aku. Dan sekarang ..., kamu bilang kalian sudah bertunangan semalam!" Leo bicara dengan penuh emosi kemarahan.


"Kita terpaksa melakukannya!" Aprilio tersulut emosinya jadi ikutan marah.


"Ternyata kami sudah dijodohkan sejak bayi," ucap Aprilio.


     Leo terkejut mendengar ini. Sesama laki-laki, Leo bisa melihat kalau Aprilio juga punya perasaan cinta untuk Ayu. Jadi, mungkin saja dia senang dengan perjodohan mereka sehingga tidak menolaknya.


"Jangan berpikir kalau semalam kita berdua tidak menolaknya! Aku dan Ayu menolak perjodohan ini." Aprilio menepuk pundak Leo, "Ayu sangat mencintaimu. Semalam dia terus menangis."


"Benarkah?" tanya Leo dengan menahan perasaan marah, kesal, dan sakit hati.


"Ya. Meski aku menolak perjodohan itu. Ayu akan di jodohkan dengan laki-laki lainnya. Yang pastinya itu bukan kamu." Aprilio dan Leo saling adu pandang.


"Kenapa? Apa karena Tante Mei tidak sama aku? Apa kekurangan atau kesalahanku sehingga dia tidak suka sama aku?" tanya Leo dengan suara bergetar.


"Keluarga Esteban. Aku tidak tahu apa yang melatarbelakangi keluarga Jaya tidak mau menjalin hubungan dengan keluarga Esteban? Yang jelas, mereka bilang tidak akan pernah merestui hubungan kalian," jawab Aprilio dengan jelas.

__ADS_1


"Ada apa dengan keluarga Esteban?" tanya Leo dengan perasaan mulai kalut.


"Aku tidak tahu. Coba kamu cari tahu! Kenapa sampai keluarga Ayu begitu benci kepada keluarga kamu?" Aprilio menyerahkan sesuatu kepada Leo.


     Leo melihat ada kertas yang dilipat kecil yang berada di telapak tangan kanannya. Lalu dia melihat ke arah Aprilio yang sudah membalikan badan dan beranjak pergi meninggalkan taman komplek.


"Itu dari Ayu, bacalah!" Aprilio membalikan kepalanya saja lalu melanjutkan lagi langkahnya.


***


Teruntuk Kak Leo, tercinta.


     Kak Leo, maafkan aku. Mungkin Kakak sudah dengar semuanya dari April. Apa yang sudah terjadi pada kita semalam.


     Aku berharap Kakak percaya sama perasaan aku yang begitu mencintaimu. Aku dan April akan mencari cara agar nanti kita bisa memutuskan tali pertunangan ini dan kembali lagi padamu.


     Apa yang sebenarnya sudah terjadi pada keluarga kita di masa lalu? Kenapa Papa sekarang malah benci kepada Kakak hanya karena Kak Leo merupakan bagian dari keluarga Esteban?


     Semalam sempat terbesit dalam otakku kalau aku ingin kawin lari saja dengan Kakak. Namun, aku berpikir kembali, apa kita akan bisa hidup bahagia dalam rasa ketakutan karena diburu oleh keluarga kita nantinya? 


    Aku ingin hidup bahagia bersama Kakak tanpa dibayangi dengan rasa takut atau was-was karena bersembunyi dari keluarga kita. Aku akan berjuang mencari cara agar kedua orang tuaku mau memberikan restunya kepada hubungan kita. Aku juga ingin Kakak sama-sama berjuang agar kita bisa mendapatkan restu dari keluarga. 


     Apakah ada kesalahpahaman di antar keluarga kita dahulu? Atau memang ada masalah serius yang terjadi di keluarga kita di masa lalu?


     Kedua orang tua aku tidak pernah memperlihatkan rasa benci kepada seseorang. Bahkan mereka selalu bilang kepadaku untuk memaafkan orang-orang yang sudah membulli aku dulu.


     Kak Leo, aku sangat mencintaimu. Akan aku jaga perasaan ini selama-lamanya. Semoga Kakak juga melakukan hal yang sama dengan aku.


Dari Baby Hui kesayangan kamu, Ayu.


     Leo membaca surat dari Ayu yang dititipkan kepada Aprilio. Dia berpikir kalau Ayu dilarang bertemu dengan dirinya oleh kedua orang tuanya. Namun, dalam otaknya dia sudah punya banyak rencana agar bisa bertemu dengan Ayu. Bukannya mereka kuliah di universitas yang sama. Jadi, tidak akan ada kesulitan saat bertemu di sana nanti.


"Baby, aku akan setia menunggu kamu. Aku juga akan mencari tahu apa yang sudah terjadi di antara keluarga kita dahulu. Enak saja mereka yang melakukan perbuatan yang tidak tahu apa itu! Kenapa aku dan Ayu yang harus menanggung akibatnya? Aku tidak terima!" Leo bermonolog sambil menatap langit pagi hari yang sangat cerah dan memanjakan mata dengan lukisan keindahannya.


***

__ADS_1


Apa yang akan Leo lakukan agar bisa bertemu dengan Ayu? Bagaimana hubungan mereka bertiga kedepannya?


Tunggu kelanjutannya ya! Jangan lupa untuk selalu klik like, favorit, hadiah dan Vote-nya juga. Dukung aku terus. Terima kasih.


__ADS_2