
Leo sudah siap mengerjakan tugas membereskan dan membersihkan rumah Ayu. Berbeda dengan kemarin, Leo menyapu lantai pakai sapu. Kini, dia membekal robot smart vacum cleaner.
Ayu menganga melihat Leo membawa robot alat pembersih itu. Mau protes Leo langsung menutup mulutnya dengan jari.
"Jangan protes kalau nanti tidak mau memijat punggung dan pinggang aku. Badan aku tinggi sedangkan sapu punya kamu pendek tongkat pegangannya.
Selagi robot smart vacum cleaner bekerja membersihkan seluruh ruangan, Leo membersihkan kaca. Memiliki tubuh yang tinggi membuat Leo lebih mudah menjangkau bagian kaca atas. Menggunakan kedua tangan yang memegang lap, pekerjaan dia cepat selesai.
Setelah itu, Leo mengepel lantai dengan alat pel yang mudah diatur panjang pendeknya tongkat pegangannya. Sambil beres-beres, Leo bernyanyi riang gembira. Dia menyanyikan lagu-lagu yang bertema jatuh cinta.
Ayu yang tidak sengaja mendengarkan Leo bernyanyi, akhirnya diam-diam mengikuti bernyanyi juga. Jadinya, mereka berduet tanpa sadar.
"Kak Leo, bagus juga suaranya. Enak bener saat didengarkan," gumam Ayu.
Kini Leo berdiri di halaman depan rumah, banyak dedaunan yang jatuh berserakan. Sapu lidi dan pengki sudah berada di kedua tangannya.
"Padahal kemarin sudah bersih, tetapi kini sudah banyak lagi sampah daun."
Leo pun memulai menyapu, untungnya sapu lidi itu memakai tongkat. Kalau tidak, sudah bisa dipastikan akan sakit punggung dan pinggangnya karena membungkuk terus.
Ayu yang melihat Leo menyapu dan debunya beterbangan, maka dia berinisiatif untuk membasahi tanahnya agar tidak mengebul. Dia pun menyalakan kran yang sudah terpasang dengan selang. Tanpa Ayu duga, mulut selangnya mengarah kepada Leo. Jadinya, begitu keran di putar posisi tangan Ayu menggenggam semprotan, air menembak ke arah Leo.
"Aw, Ayu apa-apaan!" teriak Leo.
Ayu melihat ke arah Leo dengan tangan masih menyemprotkan air pada muka dan badan Leo. 'Gawat!' batin Ayu.
"Maaf, Kak. Maaf!" Ayu dengan cepat mematikan kram airnya kembali.
Leo menatap Ayu dengan kesal, dibantingnya sapu lidi dan pengki yang sedang di pegang. Lalu, berjalan dengan cepat ke arah Ayu.
Ayu yang melihat Leo dalam siaga satu, langsung berlari hendak melarikan diri. Namun, dengan sigap Leo menangkap tubuhnya.
"Kak Leo, lepaskan!" teriak Ayu.
"Tidak semudah itu, Baby." Leo ingin membalas Ayu yang sudah membuatnya basah kuyup.
Ayu memberontak dalam dekapan Leo. Namun, tenaganya masih jauh untuk bisa melepaskan diri dari cengkraman sang pembantu spesial itu. Ayu tidak habis akal. Dia menginjak kaki Leo dengan sangat kuat sehingga dirinya bisa terlepas. Ayu pun langsung berlari menjauh dari Leo yang sedang mengerang kesakitan.
Leo mengambil selang air dan memutar kran dengan cepat. Air pun diarahkan kepada Ayu dan membuatnya sama basah kuyup, bahkan lebih parah.
"Rasakan pembalasan aku, Baby." Leo tertawa riang menyiram tubuh Ayu. Bukan menyiram tanaman di sana.
__ADS_1
"Kak Leo, hentikan! Bajuku sudah basah semua." Ayu mengusap air yang membasahi wajahnya.
Leo masih saja tertawa dan Ayu menjerit minta berhenti. Perbuatan dan kegaduhan yang sedang mereka berdua lakukan, sampai terdengar ke kamar Aprilio. Dia pun melihat dari balkon kamarnya yang berada di lantai dua. Aprilio melihat Leo sedang menyiram tubuh Ayu dengan tertawa senang, sedangkan Ayu menjerit minta ampun. Akhirnya, dia memutuskan untuk mendatangi mereka.
***
"Apa yang sedang kalian lakukan?" tanya Aprilio ketika sampai di sana.
"April tolong aku!" Ayu pun berlari ke arah Aprilio.
Namun, dengan sigap Leo menarik tubuh Ayu dan memutar badannya, sehingga memunggungi Aprilio. Ayu berusaha melepaskan diri lagi dari Leo.
"Lepas!" Ayu mendorong dada Leo.
"Diam 'lah. Apa kamu mau tubuhmu dilihat oleh laki-laki lain?" Leo memeluk erat tubuh Ayu agar tidak terlepas.
"Apa maksud kamu, Kak?" Ayu malah balik bertanya.
"Kamu pakai kaos berwarna putih, dan kini dalam keadaan basah. Apa kamu tidak sadar kalau sekarang tubuh kamu tercetak begitu jelas." Selama bicara Leo berusaha menutup matanya.
Ayu pun menundukkan kepalanya, dia bisa melihat asetnya yang berharga yang ditutupi oleh pelindung berwarna merah, terlihat begitu jelas. Ayu pun langsung menutupinya karena malunya bukan main. Wajah dan lehernya sampai merah merona. Kepalanya mendongak melihat ke arah Leo. Pemuda itu masih memejamkan mata dengan napas yang agak tertahan.
"Ayu ada apa?" Aprilio bertanya lagi sambil berjalan ke arah Ayu dan Leo.
"Ada apa sih?" Aprilio membalikan badannya menurut perintah Ayu.
"Pokoknya jangan balik badan. Awas kalau nggak nurut!" Ancam Ayu sambil memastikan kalau sahabatnya itu menuruti apa kata dia.
Setelah memastikan Aprilio membalikan badan dan Leo masih memejamkan matanya. Ayu pun dengan cepat berlari masuk ke rumah.
Leo bisa bernapas lega, tadi dia tidak sadar kalau Ayu pakai baju putih yang akan terlihat menerawang sampai ke dalam jika dalam keadaan basah. Setelah itu Leo meminta Aprilio untuk membantu menyapu, sedangkan dirinya menyiram tanaman.
***
Baru jam 10.15 semua pekerjaan Leo sudah beres. Menyapu, mengepel, dan mengelap kaca sudah semua dilakukan.
"Baby, semua pekerjaan rumah sudah aku kerjakan. Sekarang saatnya kita main!" Ajak Leo sambil menarik tangan Ayu.
"Main ke mana?" tanya Aprilio.
"Siapa bilang sudah selesai? Tuh baju kotor belum di cuci!" Ayu menunjuk ke arah ruang laundry yang ada di dekat dapur.
__ADS_1
Aprilio malah tertawa terkekeh melihat Ayu berperan sebagai majikan galak. Leo dari tadi terkena marah Ayu terus. Moodnya jadi jelek, gara-gara kejadian di halaman tadi.
Leo pun akhirnya pergi ke ruang laundry. Dia memasukan satu per satu pakaian yang akan dicuci. Saat dia memegang dalaman yang diduga milik Ayu, mukanya langsung merah. Kebetulan, Ayu hendak minum dan melihat Leo memegang wadah di kembar.
Mata Ayu terbelalak dan menyemburkan air yang baru masuk ke dalam mulut. Dia langsung berlari dan menyambar barang miliknya. Muka Ayu sangat merah padam karena merasa malu.
"Kak Leo, mesum!" Teriak Ayu dan membawa semua baju kotornya karena dia tahu masih ada barang-barang rahasia miliknya yang tidak boleh dipegang dan dilihat oleh orang lain. Ayu berlari ke lantai atas hendak menyimpan kembali baju-baju motor miliknya. Dia lebih baik mencucinya sendiri.
Leo yang masih ada di ruang laundry hanya tertawa terkekeh. Dia masih terbayang dengan muka Ayu yang merah padam karena malu.
"Baby, kamu lucu sekali ...." Leo masih saja terkekeh. Baru dua hari bekerja sebagai pembantunya Ayu. Sudah banyak hal yang membuat dia senang.
***
Saat mendekati waktu makan siang. Ayu hendak memasak dan menyuruh Leo untuk membantunya. Aprilio juga ikut membantu mereka. Kini, ketiga anak muda itu sedang asik memasak resep baru yang sedang viral. Begitu juga dengan minuman yang kini sedang dibuat oleh Aprilio. Minuman segar dari sirup rasa lemon dan minuman soda yang diberi biji selasih.
Ayu membuat bumbunya, sedangkan Leo membersihkan cumi segar yang kemarin sore di beli di supermarket. Ada juga lobster yang berukuran sangat besar. Mereka mau memasak aneka seafood. Bahkan pembakarannya juga sudah di siapkan oleh Ayu tadi di samping halaman rumah.
***
Apa yang akan terjadi di antara mereka bertiga?
Tunggu kelanjutannya ya!
Jangan lupa untuk klik like, favorit, hadiah, dan Vote-nya juga ya.
Dukung aku terus. Terima kasih.
Sambil menunggu Ayu up bab berikutnya. Baca juga karya teman aku, ya.
Judul: PURA-PURA MISKIN
Author: Momoy Dandelion
Blurb:
Pura-pura menjadi orang miskin malah mempertemukan Ruby dengan seorang pemuda kaya yang angkuh dan sombong bernama Melvin.
Lelaki itu tersenyum sinis seakan merendahkan, "Heran kampus bisa menerima mahasiswa jorok seperti ini. Miskin lagi. Ini kampus atau yayasan sosial. Mekanisme yang aneh."
"Hahaha.... Kata-katamu kejam sekali, Vin. Kasihan dia masih baru di sini. Nanti kena mental."
__ADS_1
Belum tahu saja mereka kalau orang yang sedang dihina juga anak seorang pengusaha besar.