
Juni dan Oktober hendak mengunjungi rumah Mei dan Agustus. Mereka berpenampilan rapi dan membawa bingkisan.
"Mama dan Papa mau ke mana?" tanya Aprilio begitu dia turun dari anak tangganya.
"Mau ke rumah Ayu. Kamu mau ikut?" Juni tersenyum manis kepada putra bungsunya.
"Tumben berdandan rapi begitu. Biasanya juga daster-an kalau mau main ke rumah Tante Mei," kata Aprilio sambil berjalan mendekat kepada orang tuanya. Dilihatnya baju yang digunakan adalah setelan resmi, wangi parfum pun tercium dari tubuh mereka.
"Iya, karena kali ini kita dalam acara kunjungan resmi. Bukan untuk bergosip atau buat cemilan bersama." Juni mengedipkan matanya sebelah.
Melihat Ayu tertawa bahagia bersama Leo, membuat Juni takut akan kehilangan calon mantu idamannya itu. Dia dan Mei sejak masih gadis berjanji akan menjodohkan anak-anak mereka kelak. Agar ikatan persahabatan semakin kokoh dan menjadi keluarga.
Kedua wanita itu merasa sangat senang saat Mei melahirkan bayi perempuan. Sementara Juni sudah punya dua anak laki-laki. Usia putra bungsunya pun hanya beda beberapa bulan dengan anak Mei sedangkan dengan anak sulungnya beda lima tahun. Mau yang manapun bisa menjadi calon suami buat putri sahabatnya. Dikarenakan Januari sudah akan menikah, maka tinggal Aprilio yang akan dijodohkan dengan Ayu.
Tadi sore saat melihat Ayu bersama Leo. Juni langsung menghubungi Mei dan menanyakan hubungan Ayu dengan Leo. Betapa terkejutnya dia saat mengetahui Ayu dan Leo berpacaran. Dia tidak terima karena Ayu adalah calon menantunya. Juni juga memberi tahu kalau Leo adalah anak Virgo. Hal itu malah membuat Mei semakin tidak menyetujui hubungan mereka.
"Acara kunjungan resmi?" Aprilio mengulangi kata-kata Mamanya.
"Iya. Kita akan bahas tentang perjodohan kamu dengan Ayu," balas Juni dengan nada riang dan senyum bahagia pun tercipta di wajah cantik miliknya.
"Tidak, Ma. Aprilio tidak mau dijodohkan dengan Ayu!" tolak Aprilio dengan tegas.
"Kenapa?" tanya Juni dengan tatapan tajam dan suara lebih tinggi dari biasanya bicara.
"Karena aku ingin mencari calon istriku sendiri tanpa harus dijodohkan," jawan Aprilio dengan nada suara melemah. Dia tahu tidak akan bisa melawan Mama dan Papanya itu.
"Perempuan yang seperti apa yang kamu cari?" tanya Oktober dengan gusar.
"Setidaknya bukan Ayu, wanita yang ingin aku nikahi. Dia itu sahabat baik April, Ma ..., Pa." Aprilio menjawab dengan putus asa dan menahan sakit di dadanya.
"Kenapa? Bukannya kamu menyukai Ayu?" Juni bertanya dengan nada kesal pada putra bungsunya itu.
"Suka aku sama Ayu, bukan suka seperti itu, Ma. Kita bersahabat baik dan akan begitu seumur hidup kami," jawab Aprilio dengan mata bergetar menahan sesak. Tangan Aprilio mengepal kuat menahan rasa sakit di hatinya karena harus merelakan rasa cinta pertamanya kandas.
__ADS_1
Juni yang sebagai ibu, sangat tahu betul bagaimana perasaan Aprilio kepada anak tetangganya itu. Saat ini juga terlihat jelas di tatapan matanya ada rasa terluka. Perasaan Juni pun ikut sakit melihat putranya seperti ini. Seorang ibu akan melakukan apapun agar bisa melihat anaknya bahagia. Meski harus mempertaruhkan nyawanya.
"Mama tahu mana yang berbaik untuk putraku. Meski kamu dan Ayu menolak, tetapi perjodohan ini sudah dibicarakan sudah sejak lama. Jadi, tidak akan ada yang bisa memutuskan perjodohan ini!" Juni menepuk pundak Aprilio. Kemudian dia beranjak pergi dengan menggandeng tangan suaminya.
"Ma! Pa!" Aprilio menyusul kedua orang tuanya yang berjalan ke luar rumah.
***
Mei dan Agustus pun kini berpenampilan rapi dan elegan. Kesannya seperti akan pergi ke pesta. Baju dan make up yang Juni kenakan adalah yang terbaik baginya.
"Mama dan Papa mau ke pesta?" tanya Ayu sambil memeluk leher Agustus yang sedang duduk di sofa.
"Bukan. Kita mau menyambut tamu yang sangat penting!" jawab Mei dengan senyum cantiknya dan itu membuat Ayu terpesona.
"Wah, Mama sudah sehat lagi. Ayu merasa sangat senang sekali." Kini Ayu memeluk Mei.
"Emang, siapa tamunya?" tanya Ayu penasaran.
"Tuh, mereka sudah datang, Pa!" Mei mendengar suara tetangganya sudah mendekat. Ayu pun berdiri dan berjalan ke arah pintu.
"Tante Juni, Om Okto, Aprilio sedang ada ke sini rame-rame begini?" tanya Ayu dengan tatapan penuh tanya.
"Kita ke sini mau membicarakan perjodohan antara kamu dengan April," jawab Juni sambil tersenyum manis kepada Ayu.
"Apa?" pekik Ayu dengan nyaring kemudian melirik kepada Aprilio dan menatapnya tajam. Seolah berkata, 'bukannya kamu bilang akan menggagalkan perjodohan ini!'
Aprilio yang ditatap tajam oleh Ayu merasa bersalah karena tidak bisa mencegah kedua orang tuanya. Dia pun menangkupkan kedua tangannya di depan dadanya. "Maaf!" Itu kata Aprilio kepada Ayu, tanpa suara hanya gerakan bibirnya saja.
"Kenapa kalian tidak masuk? Malah berdiri dan berkumpul di depan pintu," kata Agustus.
***
Meski Ayu dan Aprilio menolak perjodohan mereka. Kedua belah pihak keluarga sudah menyetujuinya. Tidak ada yang bisa merubah keputusan itu.
__ADS_1
"Tidak mau! Ayu sudah janji akan menikah dengan Kak Leo." Ayu menggelengkan kepalanya.
"Keluarga Jaya tidak akan pernah bersatu dengan keluarga Esteban. Selamanya!" ujar Agustus dengan tegas dan terselip nada marah karena Ayu dan Leo menyembunyikan identitas aslinya.
Agustus yang tadinya setuju Ayu pacaran dengan Leo, dan merestui hubungan mereka sampai ke jenjang pernikahan. Kini, berputar haluan bahkan dia meminta kepada Ayu untuk memutuskan hubungannya dengan anak saingannya itu. Kalau saja Mei tidak bilang Leo itu anak Virgo, mungkin Agustus akan berdiri di pihak Ayu. Namun, kini dia tidak mau memberikan putri satu-satunya kepada keluarga diktator itu.
"Tidak mau, Pa! Ayu nggak akan pernah putus dengan Kak Leo." Ayu membantah keinginan kedua orang tuanya. Air matanya sudah sejak tadi berderai karena kemarahan Agustus yang baru mengetahui kalau Leo itu anak Virgo.
"Pokoknya Papa tidak akan merestui hibungan kamu dengan Leo lagi!" Agustus marah.
"Apa yang salah dari kami? Aku dan Kak Leo saling mencintai dan menyayangi. Apa Papa juga mau dipisahkan dengan Mama?" Ayu bicara dengan nada tinggi.
"Kalau kamu masih ingin menjadi anak kami, terima perjodohan ini! Kalau nggak silakan angkat kaki dari rumah ini!" Bentak Mei kepada Ayu dengan sangat kesal karena bersikukuh dengan pilihannya.
"Jadi, Mama mengusir Ayu?" Ayu bicara dengan melemah. Dia tidak percaya kalau Mamanya akan melakukan hal ini padanya.
"Kami tidak butuh anak pembangkang! Anak yang tidak tahu diri. Orang tua melakukan segalanya demi kebaikan anaknya. Tapi apa sekarang? Kamu egois! Hanya memikirkan kebahagiaan kamu sendiri. Dan itu entah akan bertahan sampai kapan?" Mei mengucapkan kata-kata yang sangat menohok bagi Ayu.
Ayu merasa sangat sakit hati. Dia merasa dadanya sesak dan kepalanya terasa ada yang memukul dengan kuat. Tidak pernah terbesit dalam pikirannya kalau akan mengalami hal seperti ini. Kenapa keluarga dia tidak mendukung pilihan hatinya? Apa yang salah dengan perasaan ini? Kalau gara-gara cinta semuanya jadi begini, dia memilih lebih baik tidak punya perasaan itu sama sekali dalam hidupnya. Jatuh Cinta malah sering membuatnya menderita.
"Apa Papa dan Mama tidak menyayangi aku lagi?" suara lirih Ayu begitu menyayat.
"Kami sangat menyayangimu. Justru kamu yang tidak menyayangi kami!" Mei membalas dengan berderai air mata.
"Tidak, Ma. Ayu sangat sayang kalian!" ucap Ayu bersungguh-sungguh.
"Kalau begitu terima perjodohan ini!" titah Agustus.
***
Bagaimana kelanjutan perjodohan Ayu? Akankah Ayu menerima perjodohan itu?
Tunggu kelanjutannya ya. Jangan lupa untuk klik like, favorit, hadiah dan Vote-nya juga. Dukung aku terus. Terima kasih.
__ADS_1