
Rumah mewah gaya Eropa pada abad ke-18 yang elok memanjakan mata. Berbanding terbalik dengan salah satu ruangan di dalamnya. Sebuah kamar yang tadinya rapi dan bersih, kini keadaannya sangat kacau balau. Seorang wanita meraung, menangis dan sesekali berteriak. Dia sedang meluapkan rasa sakit di jiwa dan fisiknya. Niat bunuh diri dengan melompat ke sungai yang alirannya deras, harus gagal karena ada seorang laki-laki yang duduk di sofa itu telah menolongnya.
"Kenapa kamu menyelamatkan aku! Kenapa tidak biarkan aku mati saja!" teriaknya dengan suara nyalang. Tangisannya begitu pilu terdengar oleh siapapun.
Barang-barang yang ada di dalam kamar itu berserakan, lebih parah dari tumpukan sampah yang berada di TPS. Tidak ada satupun barang yang selamat dari amukannya. Bahkan ranjang juga sprei sudah berada di lantai.
"September, jangan menyia-nyiakan kehidupan kamu. Untuk apa kamu bunuh diri? Apa dengan melakukan hal itu semua masalah kamu akan selesai? Kamu hanya merugikan diri sendiri."
"Kamu, bisa ngomong seperti itu karena tidak pernah mengalami apa yang aku alami sekarang!" September meracau dengan tangan menepuk-nepuk dadanya.
"Ya. Tapi aku orangnya suka berpikir jangan sampai mengalami kerugian. Justru orang-orang yang melakukan tindakan bodoh sepertimu adalah orang yang rugi. Kamu mati, sedangkan dia masih hidup dan berkeliaran bebas. Dimana otak kamu!" Taurus merasa gemas dengan jalan pikiran September.
"Aku sudah ternoda. Aku gagal menjaga kehormatan sebagai seorang perempuan," kata September.
"Tapi bukan berarti harus bunuh diri! Akan ada seorang laki-laki yang nanti mau menerima dirimu apa adanya. Mau kamu masih perawan atau tidak," balas Taurus.
"Lalu apa kamu termasuk orang yang tidak mempermasalahkan istri kamu masih perawan atau tidak?" tanya September sambil berjalan mendekati Taurus.
"Aku mencari wanita hebat yang bisa dijadikan seorang istri. Aku menilai wanita itu dari kepribadiannya bukan keperawanannya," jawab Taurus.
"Lalu, apa aku bisa mencalonkan diri sebagai istri kamu?" September kini sudah berdiri di depan sofa.
Taurus berdiri dari duduknya dan kini saling berhadapan dengan September. "Ya, kamu wanita yang aku cari," bisik Taurus.
Kedua manusia berbeda jenis kelamin itu saling memandang satu sama lain. Tangan Taurus terulur menghapus jejak air mata di pipi September. Dia melakukannya dengan sangat lembut sampai wanita itu memejamkan matanya, menikmati gerakan lembut dari tangan yang lebar dan terasa hangat.
"Aku sudah menyukai kamu sejak pertama kali kita bertemu," lanjut Taurus.
"Padahal baru kemarin siang kita baru bertemu, tapi kamu sudah menyukaiku? Apa kamu tipe orang yang suka jatuh cinta pada pandangan pertama?" September membuka mata dan bertanya dengan kembali menatap netra coklat muda yang jarang dia lihat.
"Ya, aku jatuh cinta kepada kamu saat pertama kali melihat dirimu. Tetapi, kemarin bukan pertemuan pertama kita," jawab Taurus dengan dibarengi seulas senyuman.
September mengerutkan keningnya. Dia tidak menyangka kalau pernah bertemu dengan Taurus sebelumnya.
__ADS_1
"Kapan kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya September penasaran.
"Beberapa bulan yang lalu di restoran. Saat kamu memarahi seorang laki-laki yang menghina temanmu yang memiliki tubuh gendut. Aku terpesona akan dirimu yang berani melawan laki-laki itu dan sekaligus membela orang yang berarti bagimu," jawab Taurus.
September mencoba menggali ingatannya tentang kejadian itu. Tiba-tiba terlintas dalam ingatan dia saat pergi ke sebuah restoran bersama Ayu. Mereka makan di restoran mewah dan rasanya sangat enak. Saat itu, Ayu sedang akan pergi ke toilet baru juga satu langkah meninggalkan kursinya. Ada seorang laki-laki yang menabrak dirinya. Laki-laki itu sangat marah kepada Ayu dan mencaci maki hingga menghinanya.
September pun balik memarahi laki-laki paruh baya itu. Dia tidak menyangka kalau saat kejadian itu ada Taurus di sana.
"Benarkah mulai sejak saat itu, kamu menyukaiku?" tanya September dengan lembut dan pelan. Terlihat jelas kalau saat ini September sedang malu-malu tapi senang.
"Ya. Aku menyukaimu, September! Setelah hari itu, aku selalu mengumpulkan informasi tentang dirimu." Taurus menangkup wajah wanita didepannya.
"Aku mencintaimu!" Taurus mengecup bibir September.
September pun membalas ciuman itu. Awalnya hanya kecupan, selanjutnya ciuman, sampai ketahap ciuman penuh gairah. Taurus pandai memancing gairah September. Mereka saling memeluk erat. Taurus mendekap pinggang dan kepala milik September. Sementara September mengalungkan tangan dileher kokoh dan meremas rambut di kepala lawannya.
***
Libra yang menyadari kebodohannya, seharian tadi dia mencari sosok tunangannya. Ingatannya kembali ketika dia terbangun karena bunyi handphone miliknya. Awalnya dia terkejut saat mendapati dirinya di kamar hotel. Apalagi ada noda darah di sprei. Dia mengingat kembali apa yang sudah dia perbuat semalam. Dirinya merutuki akan kelakuannya semalam karena cemburu dia sampai merenggut paksa kehormatan tunangannya.
"Gadis Galak, kamu di mana?" Libra bermonolog.
***
Ayu pun tidak bisa tidur. Banyak pikiran dalam otaknya saat ini. Masalah mendapatkan restu, Mama. Pembatalan perjodohan dengan Aprilio. Kini, sahabat karibnya menghilang. Masalah datang bertubi-tubi membuat kepadanya sakit.
"September, kamu di mana?" lirih Ayu bertanya.
Setelah hampir satu jam dia mencari informasi tentang September. Tanpa sadar Ayu pun jatuh tertidur setelah lelah otaknya berpikir.
***
Seperti bisa di pagi hari Leo pun datang ke rumah Ayu. Mereka sarapan bersama dan membagi tugas membersihkan rumah. Agustus senang melihat Leo yang bekerja dengan cekatan dan hasilnya juga memuaskan.
__ADS_1
"Leo, kamu itu laki-laki hebat! Bisa mengerjakan pekerjaan rumah dan kuliah pun mendapat nilai yang baik. Bagaimana kalau kamu bekerja di perusahaan Om?" Agustus berharap memiliki banyak karyawan yang kompeten. Dia juga menilai kalau Leo adalah termasuk orang yang memiliki banyak kemampuan untuk menjadi seorang pemimpin di perusahaan.
"Nggak bisa, Pa. Kak Leo itu—"
"Benarkah,Om? Aku bisa kerja di perusahaan milik keluarga Jaya?" tanya Leo dengan penuh antusias. Dia melirik ke arah Ayu dan memberi isyarat untuk diam.
"Iya tentu saja. Om ingin melihat kemampuan dirimu dalam menjalankan usaha keluarga kita. Apa kedepannya aku juga bisa menyerahkan Ayu kepadamu? Aku tidak mau putriku hidup di bawah garis kemakmuran jika menikah dengan kamu nanti." Agustus memberikan jawaban yang membuat Leo dan Ayu senang. Apalagi Leo jadi semakin bersemangat untuk membuktikan kalau dirinya layak untuk Ayu.
"Iya, Om. Aku akan berusaha keras melakukan yang terbaik!" kata Leo penuh semangat.
"Bagus, Om suka itu." Agustus mengacungkan ibu jarinya kepada Leo.
'Semoga dengan membantu perusahaan keluarga Ayu. Tante Meina mau memberikan restunya kepada kami.' Leo berbicara dalam hatinya.
***
Akankah Ayu berhasil menemukan September? Apakah Leo bisa mendapatkan restu Mei?
Tunggu kelanjutannya ya. Jangan lupa untuk klik like, favorit, hadiah dan Vote-nya juga. Dukung aku terus. Terima kasih.
Sambil menunggu up bab berikutnya. Baca juga karya teman aku. Bagus juga nih ceritanya. Baca juga yuk!
Judul : Hei Gadis Berkacamata
Author: Putri Nilam Sari
Blurb:
Perjalanan Eisha si gadis berkacamata dalam merubah penampilan dan menggapai impiannya dibantu Adnan seorang pria misterius dan bersikap dingin serta bermasalah di lingkungan nya.
Namun benih cinta yang tumbuh diantara mereka belum sempat mekar karena kesalahpahaman dan kejadian tak terduga.
Hingga Pertemuan tak disangka kembali memulai kisah yang belum usai, namun bagaimana dengan takdir yang memberikan kejutan bagi mereka, akankah kisah mereka berakhir bahagia??
__ADS_1