
Suara yang familiar bagi Mei kini terdengar olehnya. Saat dia mendongakkan kepala betapa terkejutnya dia, mengetahui orang yang sudah dia tabrak dan memeluknya barusan.
"Kamu?" Mei terkejut saat melihat wajah orang yang telah dia tabrak barusan.
"Halo, Meina. Lama kita tidak berjumpa," sapa pria paruh baya yang memiliki tubuh tegap dan wajah tampan. Rupa dia masih sama dengan yang ada dalam ingatan Mei. Meski mereka sudah 20 tahun tidak pernah bertemu. Hanya ada kerutan-kerutan halus di sudut mata dan di garis senyumnya.
"Iya, dan kita harap jangan pernah berjumpa kembali," balas Agustus dengan tatapan kesal dan memasang wajah galak.
"Lihatlah, Meina! Laki-laki yang kamu pilih dan banggakan dulu, tetap tidak berubah. Masih saja seorang yang memiliki tempramen buruk selalu dia perlihatkan," ujarnya dengan nada mengejek.
"Virgo, sudah hentikan! Kalian itu dari dulu selalu saja bertengkar kalau bertemu!" Mei melepaskan diri dari dekapan Agustus dan memilih berdiri di samping sejajar dengan suaminya dan berhadapan dengan mantan calon tunangannya.
"Dia yang selalu memulai duluan, karena tahu dengan nilai dirinya sendiri. Kalau dia itu jauh dibawah aku," kata Virgo dengan sombong.
Agustus panas mendengar kata-kata mantan saingannya dulu. Dia hendak membalas kata-kata itu, tetapi Mei langsung menutup mulutnya dengan menggunakan jemari lentiknya.
Virgo tidak suka saat Mei selalu saja memberikan perhatian kepada Agustus. Sejak dulu dia sudah suka kepada Mei. Apalagi saat kedua orang tuanya hendak menjodohkan dia dengan si model terkenal itu, dirinya sangat senang.
Saat kedua keluarga itu bertemu dan membicarakan soal perjodohan antara Virgo dan Meina. Gadis itu menolaknya karena sudah punya seorang kekasih yang sangat dia cintai. Dengan lantang model internasional itu berkata, tidak akan menikah dengannya. Meski orang tua dia memberi ancaman, pujaan hatinya itu tetap kukuh pada pendiriannya tidak mau menerima Virgo sebagai calon suaminya. Akibatnya, Mei diusir oleh keluarganya dan karir modeling dan di dunia hiburan harus hancur. Padahal, saat itu dia sedang naik daun.
Mei dan Agustus, awal keinginan mereka untuk menikah tidak disetujui oleh Ibu dan Ayahnya. Mereka masih berharap bisa besanan dengan sahabatnya, dengan menikahkan Mei dengan Virgo.
Mei adalah anak sulung dari tiga bersaudara. Gadis yang di puja oleh semua orang dan hidup bak seorang putri, harus berakhir dengan menjadi ibu rumah tangga setelah menikah dengan Agustus. Meski sesekali dia menerima menjadi fotomodel untuk beberapa orang teman baiknya yang membutuhkan jasa dirinya.
Virgo yang masih menginginkan Mei menjadi miliknya, terus berusaha tanpa menyerah. Sampai Mei dan Agustus menikah, sebulan kemudian dia juga menikah dan istrinya langsung hamil. Sementara Mei dan Agustus harus menunggu beberapa tahun untuk punya anak.
Kini takdir mempertemukan mereka kembali. Sebuah takdir yang nantinya membuat mereka akan terus bertemu. Tanpa mereka tahu kalau putra dan putrinya sedang menjalin asmara.
"Sayang, ayo kita lanjutkan lagi mencari April!" ajak Mei menarik Agustus.
Agustus seperti kerbau di cocok hidungnya, mengikuti Mei menjauh dari Virgo. Sementara pria berpenampilan rapi dengan setelah tuxedo berwarna kopi susu itu hendak mencegah mereka pergi karena masih ingin bicara dengan Mei. Hanya tangannya saja yang terulur dan mengambang di udara.
__ADS_1
"Mei sebegitu besarnya 'kah rasa cintamu untuk dia? Apa kelebihan dia dibanding aku sehingga kamu bersikukuh memilih dia," gumam Virgo.
***
Leo dan Ayu duduk di balkon sambil berpegangan tangan dan melihat keindahan lampu kota yang terlihat dari kejauhan. Keduanya merasa sangat bahagia malam ini.
"Ayu izinkan aku mencium bibirmu se–kali saja!" pinta Leo masih belum pernah menyerah. Dia masih mengingat lembut dan kenyal rasa bibir kekasihnya itu saat dia menarik tubuh Ayu yang akan jatuh saat di tangga tempo hari. Dia ingin merasakan kembali bibir ranum yang selalu menggodanya untuk dicicipi.
"Nggak! Nanti akan ada kedua ..., ketiga kalinya lagi." Ayu kukuh pada pendirinya kalau dia akan menjaga dirinya dari hal-hal pergaulan bebas yang sering diingatkan oleh Mama dan Papanya.
"Aku janji hanya satu kali. Setelah itu aku akan mencium kamu setelah kita menikah nanti." Leo mengangkat tangannya bersumpah.
Leo memandang Ayu dengan penuh damba. Terlihat jelas dari pancaran matanya. Begitu juga sebaliknya dengan Ayu. Dia terlihat memuja sosok pemuda yang sering membuatnya jengkel. Namun, tidak pernah bisa menang saat melawan dirinya. Seperti sekarang, Ayu menganggukkan kepalanya dan menyetujui keinginan Leo itu. Hal itu disambut oleh kekasihnya dengan suka cita.
Leo menundukkan kepala karena tubuh Ayu lebih pendek darinya. Sementara Ayu, dia harus mendongakkan kepala dan menjinjitkan kakinya. Wajah keduanya saling mendekat dengan netra saling mengunci. Bibir lembut Ayu disesap oleh Leo. Ayu pun membalas dengan hal yang sama. Keduanya saling membalas ciuman itu. Tangan Leo berada di pinggang dan tengkuk Ayu sedangkan kedua tangan kekasihnya berada di kepalanya dan meremas rambut di kepalanya. Leo menarik tubuh Ayu dan memeluknya sangat erat sehingga mereka menempel.
Entah berapa lama mereka berciuman, yang jelas kedua berhenti di saat stok oksigen di paru-paru habis. Leo mengusap bibir Ayu yang kini agak bengkak karena perbuatannya barusan dan itu terlihat semakin menggoda di mata Leo. Dia ingin kembali merasakan sensasi menggelenyar, jantung berdebar kencang sehingga terasa ada sengat listrik yang tadi dia rasakan.
Napas keduanya memburu mencari oksigen untuk mengganti yang tadi. Senyum malu-malu tercipta dari bibir yang memerah dan bengkak itu.
Ayu pun menundukkan kepala, kemudian mengangguk dengan menahan rasa malu. Mau bagaimana pun tadi Ayu menikmati sentuhan bibir lembut dan hangat milik Leo.
"Apa ..., kamu menginginkannya lagi?" tanya Leo dengan terjeda karena gugup dan takut Ayu marah.
Ayu yang masih menunduk pun menganggukan kembali kepalanya. Leo yang melihat itu sebagai jawaban dari kekasihnya, merasa sangat senang. Dia pun mengangkat dagu Ayu dan bertanya, "Benar mau lagi?"
"Iya ..., tapi nanti setelah kita menikah tiga tahun lagi!" Ayu yang masih malu langsung berlari masuk ke dalam kamar hotel dan Leo pun ikut mengejarnya. Tawa riang mereka memenuhi kamar mewah itu.
***
"April, apa kamu tahu di mana Ayu?" tanya Agustus begitu berdiri di dekat anak tetangganya itu.
__ADS_1
"Ayu?" Aprilio malah membeo.
"Iya. Kami mau pulang tapi tidak bisa menemukan dan menghubunginya," pungkas Mei.
Aprilio ingat kalau Ayu tadi sedang bersama Leo. 'Apa Ayu masih berada di lantai atas, ya?'
"Om dan Tante pulang saja duluan. Nanti Ayu biar pulang sama aku. Mungkin dia sedang asik ngerumpi bersama teman-temannya." Aprilio akan menjemput paksa Ayu jika dalam lima belas menit lagi mereka tidak turun.
"Terima kasih, April. Padahal kami tidak mau merepotkan kamu terus," kata Agustus.
"Benar kata Junia, kita juga harus secepatnya menjodohkan kalian berdua," ucap Mei.
'Apa? Jadi mereka serius dengan perjodohan itu?' batin Aprilio.
***
Bagaimana Ayu, Leo dan Aprilio menghadapi masalah perjodohan itu?
Akankan Ayu dan Leo mempertahankan hubungan mereka?
Tunggu kelanjutannya ya. Jangan lupa untuk klik like, favorit, hadiah, dan Vote-nya juga. Dukung aku terus. Terima kasih.
Sambil menunggu up bab selanjutnya. Baca juga karya teman aku ini. Cerita bagus loh. Yuk baca biar nggak penasaran.
~ BAD WIFE ~
karya : oktiyan_ghassani.
BLURB.
"Sudahlah, pergi! jangan sok suci kau. Seperti baru di pakai saja." ucap Pria itu yang baru saja melihat tubuh Hanum dengan balutan selimut berdiri, dengan mode kesakitan dan menahan sesuatu seperti mengejan. Ia menatap Hanum berlalu ke kamar mandi untuk membersihkan.
__ADS_1
Hanum masih menangis setelah ingin meraih tas, dan trolly kebersihannya. Menjadi pengganti house keeper di kamar 501 adalah awal kesengsaraan hidupnya, dan Hanum kembali bertemu dengan pria itu. Hanum bagai berada dalam roller coaster yang membuat ia tersanjung tinggi, namun dihempaskan paling terdalam.
'Jika jodoh itu adalah cerminan diri, dari pria baik aķan mendapatkan wanita baik. Mengapa aku tidak termasuk kategori seperti itu?'