
Suasana nyaman di lantai paling atas bangunan kampus. Membuat Ayu dan September lebih leluasa dalam berbincang-bincang. Keduanya sedang mencurahkan isi hati saat ini yang sedang mereka rasakan.
Saat keduanya sedang asik bicara, Leo, Libra dan Aries datang juga ke sana. Pertemuan yang tidak sengaja di antara mereka. Bagi Leo dan Ayu ketidak sengaja and ini sebuah anugrah yang membahagiakan. Namun, berbeda bagi September karena bertemu dengan orang yang paling dihindarinya saat ini.
"Ayu, aku pergi duluan. Bicarakan semuanya dengan Kak Leo," kata September, kemudian dia beranjak dari sana. Dia masih benci kepada Libra, meski rasa takutnya sudah hilang saat melihatnya.
"Iya. Kamu juga selesaikan urusanmu dengan Kak Libra," balas Ayu.
"Malas kalau berurusan dengan makhluk itu," lanjut September saat beberapa langkah dari posisi tadi.
September berjalan melewati Libra dan yang lainnya. Namun, tangannya langsung dicekal oleh Libra dan menariknya. Kini, kedua orang itu saling berhadapan. September berteriak dan melakukan perlawanan agar Libra melepaskan tangannya. Malahan Libra menggendong September dan membawanya pergi dari sana.
"Libra jangan kasar kepada September! Ingat mungkin saja ada anak kamu di dalam perutnya," kata Aries dengan sedikit berteriak.
"Leo, apa tidak akan menjadi masalah baru karena Libra membawa September dengan paksa seperti itu?" tanya Aries kepada Leo.
Leo masa bodo dengan hal itu, karena ada yang lebih penting baginya. Yaitu, menemui sang kekasih. Dia berlari ke arah Ayu dan langsung memeluknya dengan erat. Rasa rindu yang begitu membucah membuatnya lupa dengan yang ada di sekitarnya. Padahal, baru kemarin sore mereka terakhir bertemu. Hanya saja, saat pagi-pagi tadi mereka tidak bertemu.
"Baby, aku sangat merindukan kamu. Apa karena pagi tadi kita tidak bisa bertemu?" Leo menghirup wangi aroma tubuh Ayu yang selalu membuatnya senang dan menenangkan.
"Aku juga merindukan kamu, Kak. Maaf, sepertinya kita tidak bisa bertemu bebas di rumah. Papa juga melarang Kak Leo untuk datang lagi ke rumah." Ayu kembali menangis sesenggukan.
"Kenapa menangis?" Leo hendak mengurai pelukannya, tetapi Ayu menolak melepaskan pelukannya. Justru malah semakin mempererat pelukannya.
Leo membiarkan Ayu melakuakan hal itu. Kemudian dia bertanya, "Ada apa? Kenapa menangis seperti ini?"
"Aku sedih sekaligus senang!" jawab Ayu di sela tangisannya.
"Sedih karena apa?" tanya Leo dengan berbisik.
__ADS_1
"Sulit bertemu Kak Leo kapanpun aku ingin melihat. Jadinya, ada rasa rindu ingin bertemu itu malah semakin kuat," jawab Ayu dengan perasaan malu. Justru perkataan itu membuat Leo senang.
"Senangnya?" lanjut Leo lagi.
"Ternyata bisa bertemu Kak Leo saat ini dan masih bisa memeluknya," jawab Ayu jujur.
Aries yang melihat itu malah membuat dadanya terasa sesak. Gadis yang dia sukai sedang berpelukan dengan laki-laki lain di depan matanya. Tadi, saat mendengar kabar kalau Leo tidak mendapat restu dari orang tua Ayu, alasannya adalah dia dari keluarga Esteban. Jadi, dia berpikir masih punya peluang untuk mendapatkan Ayu menjadi miliknya. Sungguh, pikiran yang licik. Dia merasa senang di atas derita temannya. Namun, kini dengan kepala matanya sendiri. Dia melihat kalau Ayu begitu mencintai Leo. Seandainya, dia berhasil memiliki Ayu pun itu hanya jasadnya tidak dengan jiwa dan hatinya.
Hal ini juga akan berlaku untuk Aprilio. Dia hanya akan mendapatkan fisiknya Ayu saja. Sementara hati gadis itu sudah diberikan kepada Leo.
***
Libra membawa September ke ruangan lain di dalam gedung kampus itu. Pukulan dan gigitan yang diberikan oleh September tidak membuatnya marah atau melepaskannya. Ketika Libra menurunkan September dari gendongannya. Dia tidak membiarkannya lepas begitu saja.
September berusaha melepaskan diri dari jeratan Libra. Digigit lagi tangannya dan di injak kakinya. Namun, Libra tidak melepaskan September. Dia pun berkata dengan berbisik, "Kita harus bicara!"
Libra yang kesal karena September terus melakukan perlawanan melalui mulut dan tangannya. Membuat Libra menarik kedua tangan September dan menarik ke belakang tubuhnya. Sementara mulutnya, dia sumpal dengan bibir tipisnya. Libra mencium bibir September dengan mesra dan perlahan penuh perasaan. Jiwa sang Casanova mulai bangun dan memperlihatkan keahliannya dalam menjerat para wanita. Sampai-sampai bisa membuat September terdiam dan terbuai.
September merasa ada yang aneh dengan dirinya. Terutama tubuhnya. Dia tidak bisa mengendalikan pikiran, tubuh dan hatinya saat Libra menciumnya. Ada perasaan marah, kesal dan ingin menghajarnya. Namun, perasaan itu semua kalah oleh rasa asing yang membuatnya membiarkan Libra berbuat sesukanya.
Tidak mendapatkan perlawanan lagi dari September. Libra kembali mencium September dengan lebih panas dari tadi. Kali ini September membalasnya. Akhirnya, mereka berdua malah berciuman dengan mesra sampai kehabisan stok oksigen.
September seperti baru tersadar dari hipnotis sang Casanova. Dia kembali melakukan serangan kepada Libra.
"Berengsek kamu! Apa yang sudah kamu lakukan kepadaku?" September berusaha melepaskan diri dari Libra.
"Mencium calon ibu dari anak-anakku," jawab Libra dengan enteng.
"Siapa yang mau menjadi ibu untuk anak-anak kamu?" September berteriak sekuat tenaga.
__ADS_1
"Tentu saja kamu, Sayang. Aku yakin kalau saat ini kamu sedang hamil anakku," balas Libra.
"Kenapa kamu yakin kalau aku hamil anak kamu?" tanya September dengan nada sinis.
"Karena aku melakukannya tanpa menggunakan pengaman dan kita melakukan itu beberapa kali," bisik Libra yang membuat wajah dan telinga September memerah.
Saat mereka bercinta malam itu, keadaan September sangat sadar. Dia tidak minum minuman beralkohol. Jadi, dia masih bisa mengingat jelas kejadian malam itu.
Malam itu, Libra awalnya memaksa karena dia sangat cemburu dan hanya dirinya yang boleh menyentuh dan memiliki September. Tidak boleh ada laki-laki lain. September masih ingat dengan jelas apa yang dikatakan oleh Libra kepadanya.
September yang hidup selalu di manja dan dituruti semua keinginannya. Paling tidak suka saat ada orang yang memaksa dan tidak menuruti keinginan dia. Malam itu Libra tidak mengindahkan permohonannya jangan melakukan hal 'itu', tetapi tunangannya itu malah memaksakan kehendak sendiri.
"Aku benci kamu!" teriak September dengan penuh emosi.
"Aku mencintaimu sepenuh hatiku," balas Libra.
"Dasar Casanova gila! Kamu dengan mudah mengumbar kata-kata itu kepada setiap wanita!" tukas September.
"Tidak. Seumur hidup aku baru pertama kali mengucapkan kata-kata itu. Dan kata-kata itu hanya aku katakan kepada wanita yang akan melahirkan keturunan Castello," lanjut Libra dengan kesungguhan.
"Memangnya aku akan percaya dengan kamu! Maaf saja, kamu sudah aku cap sebagai laki-laki berengsek yang tidak bisa dipercaya ucapannya." September tersenyum miring seakan mengejek Libra.
"Hati-hati loh, Sayang. Kamu sekarang bilang benci kepada aku. Bahkan dibilang berengsek dan nggak bisa dipercaya. Besok kamu akan bucin sama aku, nggak mau jauh sama aku, apalagi pergi jauh dariku." Libra memasang senyum tampannya dan membuat September sempat terpesona.
***
Apa yang akan dilakukan oleh Leo dan Ayu, agar bisa mendapatkan restu kedua orang tua mereka? Bagaimana hubungan Libra dan September ke depannya?
Tunggu kelanjutannya ya! Jangan lupa untuk selalu klik like, favorit, hadiah dan Vote-nya juga ya. Dukung aku terus. Terima kasih.
__ADS_1