
Malam hari sebelum pernikahan Ayu dan Leo. Juli curhat sama Ayu. Dia merasa kalau Aprilio menjaga jarak dengannya.
"Ayu, apa April malah semakin benci sama aku, ya?" Juli membaringkan badannya dan menatap langit-langit kamar.
"Aku rasa April bukan orang yang mudah membenci seseorang," balas Ayu sambil melirik ke arah Juli.
"Tapi, dia selalu menjauhi atau menghindari aku." Mata Juli mulai mengembung.
Ayu terdiam. Dia mencoba berpikir kenapa Aprilio menjauhi Juli. Dulu, meski mereka tidak pernah akur, Aprilio tidak pernah menunjukan secara terang-terangan sikap tidak sukanya.
"Apa pernah terjadi sesuatu di antara kalian?" tanya Ayu memalingkan wajahnya ke arah Juli. Begitu juga dengan Juli. Kini keduanya saling memandang.
"Aku beberapa kali menciumnya," jawab Juli sambil ketawa meringis.
"Apa?" Ayu terkejut sampai bangun dari rebahannya.
"Karena aku gemes sama dia yang nggak peka-peka," balas Juli.
"Ya, mungkin karena itu dia jarak sama kamu. Dia tidak suka dicium sama kamu!" Ayu gemas sama sepupunya itu. Rasanya ingin meremas dan menjadikannya bola kertas.
"Aku tidak tahu dia suka atau tidak. Hanya saja kalau aku menciumnya, dia juga membalas ciuman itu. Jadi, itu bagaimana?" Juli menatap Ayu mengharapkan jawaban yang pasti.
__ADS_1
"Hm, kalau itu aku juga tidak tahu. Aku juga cuma ciuman sama Kak Leo. Nggak pernah dengan yang lain," jawab Ayu dengan wajah yang merona.
"Kalau orang itu membalas ciuman itu, berarti dia tidak menolak dan cenderung sama-sama menyukainya. Biasanya begitu. Apa April juga suka saat kita berciuman?" tanya Juli.
"Tanya kan saja sendiri langsung pada orangnya," jawab Ayu sambil memukulkan bantal tangan pada Juli.
"Apa aku terlalu agresif dalam mendekati April?" tanya Juli, tetapi tidak ada jawaban dari Ayu.
"Ayu, jawab dong!" Juli mengguncangkan badan Ayu.
"Hey, kamu malah tidur!" Juli berdecak sambil memukul pantat Ayu.
"Jangan ganggu aku! Aku harus tidur. Besok aku akan menikah, pastinya akan capek banget." Ayu bicara sambil tidur karena sudah mengantuk.
***
Berbeda dengan Leo yang sekarang sedang gugup. Dia bolak-balik ke kamar mandi, merasakan sakit di perutnya. Ini pertama kalinya dia merasakan hal seperti ini.
"Apa pernikahan itu selalu membuat orang gugup setengah mati?" Leo bermonolog.
"Rasanya ingin langsung sah saja jadi suami-istri. Apa Ayu juga merasakan hal yang sama seperti aku, saat ini?"
__ADS_1
Leo ingin sekali menghubungi Ayu. Namun, dia ingat ancaman calon ibu mertuanya. Kalau dilanggar, maka malam pengantin mereka akan tidur terpisah selama satu minggu.
"Ahk! Kenapa aku jadi seperti ini!" teriak Leo di dalam kamarnya.
"Aduh, mulas lagi perut ini." Leo pun masuk ke dalam kamar mandi.
***
Aprilio yang tidak bisa tidur memilih duduk di balkon kamar. Dia melihat ke arah kamar Ayu. Kamar itu sudah gelap menandakan penghuninya sudah tidur.
"Mulai besok, kamu akan jadi milik orang lain," gumam Aprilio.
Dialihkan pandangan dia ke langit malam. Tidak ada bulan ataupun bintang. Menandakan kalau malam ini sedang berawan. Cahaya bintang dan bulan tertutup oleh awan.
"Cuaca malam ini seperti menggambarkan suasana hatiku. Mendung ditutupi awan kelabu. Gelap. Tidak ada cahaya." Aprilio bermonolog.
Tanpa diduga. Awan yang menghalangi bulan bergeser, sehingga bulan purnama itu muncul memperlihatkan cahaya yang terang. Bentuk bulan bulat sempurna itu kini nampak terlihat jelas.
"Akankah kabut awan dalam hatiku juga hilang dan digantikan oleh cahaya yang terang benderang?" gumam Aprilio.
***
__ADS_1
Bagaimana kisah selanjutnya? Tunggu kelanjutannya ya! Jangan lupa untuk selalu klik like, komentar, favorit, hadiah dan Vote-nya juga ya. Dukung aku terus. Terima kasih.