
Juli dan Februari datang menjenguk Ayu. Mereka baru bisa menjenguk karena baru pulang dari luar negeri. Setelah kejadian di toko perhiasan tempo hari, membuat Juli menjadi lebih baik dan agak pendiam tidak urakan seperti dulu.
"Syukurlah, Ayu sudah siuman!" Februari memeluk keponakannya.
"Terima kasih, Tante. Sudah mau menyempatkan diri datang menjengukku," balas Ayu.
"Paman Maret menitipkan salam untukmu, Ayu. Dia minta maaf karena belum bisa pulang dan menjengukku," ucap Februari.
"Tidak apa, Tante. Ayu juga sudah lebih baik hari ini." Ayu tersenyum dengan mata berbinar. Efek pertunangannya dengan Leo tadi masih terasa kuat aura kebahagiaannya.
***
Juli yang merasa jenuh lebih memilih ke luar dari kamar inap itu. Daripada harus menyaksikan Ayu dan Leo yang sedang di mabuk asmara. Bawaan mereka berdua selalu terlihat bahagia dengan senyum lebar menghiasi wajahnya.
Juli melihat Aprilio sedang duduk di kursi pengunjung sambil memainkan handphone. Tanpa permisi Juli langsung duduk di dekatnya. Aprilio hanya melirik 'kan sedikit matanya ke arah Juli.
"April, aku turut bersedih dengan putusnya pertunangan kamu dengan Ayu. Mungkin kalian ditakdirkan tidak berjodoh dalam urusan pasangan hidup, tetapi kalian berjodoh dalam urusan pertemanan," kata Juli tiba-tiba begitu tatapan mereka beradu sejenak.
"Ya. Kamu benar," balas Aprilio singkat.
"Yakinlah bahwa kamu juga akan menemukan belahan jiwamu yang benar-benar tulus mencintaimu," lanjut Juli masih melihat ke arah Aprilio.
__ADS_1
"Hmm, ya. Aku yakin itu." Aprilio memasukkan benda persegi panjang dan pipih itu ke dalam saku bajunya.
Aprilio yang sedang merasa ingin menyendiri memilih pergi dari sana. Namun, saat dia berdiri dan hendak melangkah, Juli melompat dan menggelantung pada tubuhnya.
Kyaaaak!
"Juli! Kamu apa-apaan?" Aprilio sangat terkejut dengan perbuatan Juli yang kini berada dalam gendongannya. Kedua tangan merangkul erat di leher sedangkan kedua kakinya melingkar di pinggangnya. Wajah Juli pun di sembunyikan di ceruk leher Aprilio.
"Tolong aku! Ada kecoa di dekat tong sampah," ujar Juli.
Aprilio melihat ada kecoa berukuran sangat kecil satu dan satunya lagi berukuran sangat besar. Dia tahu kalau Juli itu punya fobia terhadap kecoa. Sebagaimana Ayu, yang punya fobia terhadap ulat.
"Turunlah, kecoa itu akan aku singkirkan!" titah Aprilio.
"Kalau kamu seperti ini, bagaimana caranya aku menyingkirkan kecoa itu?" Aprilio mencoba menurunkan Juli karena dia merasa tidak nyaman saat beberapa bagian tubuh mereka saling bersentuhan. Bahkan dia bisa merasakan lembut dan hangatnya bibir Juli di lehernya. Pelukan eratnya juga menekan dadanya, sehingga dia sempat harus menahan napasnya.
"Terserah kamu bagaimana caranya? Pokoknya aku tidak mau turun!" Juli mulai menangis dan Aprilio bisa merasakan lehernya basah oleh air mata Juli.
Aprilio lebih memilih pergi dari sana dan menuju taman yang tidak jauh dari sana. Dia berjalan sambil menggendong Juli dari depan. Sebenarnya dia malu karena Juli memeluknya dengan erat sambil sesegukan.
"Diamlah, Juli! Banyak orang yang melihat kita, nanti mereka berpikiran yang tidak-tidak padaku." Aprilio semakin mempercepat langkahnya. Dia berjalan sambil menahan bokong Juli agar tidak jatuh.
__ADS_1
"Aku tidak peduli! Aku takut!"
"Turunlah! Di sini tidak ada kecoa." Mereka sudah sampai taman.
Juli melihat sekeliling memastikan tidak ada kecoa. Bukannya turun, Juli malah betah dalam gendongan Aprilio. "Terima kasih."
"Hm."
Juli menatap wajah Aprilio yang semakin tampan di matanya. Dia dulu sering kesal sama Aprilio karena selalu membela Ayu. Mereka bertiga dari TK sampai SMA selalu bersama-sama. Jadi, sudah saling tahu dan memahami watak satu sama lain.
"April, kamu semakin tampan dan dewasa," kata Juli menatap Aprilio dengan penuh kekaguman.
"Terima kasih. Sebenarnya kamu juga cantik, hanya saja kelakuan kamu yang buruk menutupi kecantikan wajah kamu," balas Aprilio.
"Kalau begitu, buat aku agar menjadi orang yang lebih baik dan membuang kelakuan buruk aku itu." Juli menatap lekat netra yang belakangan ini selalu menjeratnya.
Pembebasan Juli dari penjara tempo hari, Aprilio juga ambil alih karena itu terlalu berlebihan jika harus sampai teman sekolahnya itu sampai harus dipenjara. Itu juga keinginan Ayu agar Juli bisa dibebaskan. Saat itu Aprilio menasehati Juli jangan suka menyusahkan dan memfitnah orang lain. Akibatnya, bisa saja hal yang sama akan menimpanya. Kata-kata nasehat yang dilontarkan oleh Aprilio membuat Juli berpikir dan berubah.
***
Benarkah Juli ingin berubah menjadi orang baik? Bagaimana Aprilio menghadapi Juli kedepannya?
__ADS_1
Tunggu kelanjutannya ya. Jangan lupa untuk selalu klik like, favorit, hadiah dan Vote-nya juga. Dukung aku terus, ya. Terima kasih.