Ayu Sang Penakluk

Ayu Sang Penakluk
PENGUMUMAN


__ADS_3

Tidak terasa "AYU SANG PENAKLUK" sudah TAMAT. Terima kasih kepada semua pembaca setia aku. Berkat dukungan kalian akhirnya bisa sampai tamat juga.


PENGUMUMAN PEMENANG HADIAH GIVEAWAY "AYU SANG PENAKLUK"


JUARA 1-3 ADALAH;


HADIAH 1: PULSA 30.000


Sholeha Nurul Qolbi


HADIAH 2: PULSA 20.000


SANTI RASTA


HADIAH 3: PULSA 15.000


SUSILAWATI RELA


KOMENTAR 3 TERBAIK: @ PULSA 10.000



SUSILAWATI RELA


IRMA KIRANA


ADEK SUSAN



SELAMAT KEPADA PARA PEMENANG. KALIAN BISA HUBUNGI AKU LEWAT Ig, FB, Messenger, atau WA juga. (Foto di bawah)


BACA JUGA KARYA TERBARU AKU " PUTRI YAKUZA DI SARANG MAFIA"


BAB 1


"Oujosama! Berhenti!" Beberapa orang laki-laki berbadan tegap berlari mengejar seorang gadis muda yang berlari dengan sangat cepat.


"Tidak, mau!" teriak si gadis.


"Nona muda. Nona Eriko! Kami mohon berhenti!" teriak mereka saling bersahutan agar gadis yang mereka panggil 'Nona' mau berhenti.

__ADS_1


"Enak saja, berhenti. Pastinya, mereka nanti akan membawa paksa aku pulang. Padahal hari ini aku mau membuat kejutan untuk Hideaki kun," gumam Erika.


     Saat Eriko berlari dia melihat ada seorang nenek-nenek yang hendak menyebrang jalan. Padahal, lampu jalannya sudah berubah. 


"Nenek ... awas!" Eriko menarik tubuh nenek-nenek yang hampir tertabrak mobil. 


     Eriko dan nenek-nenek itu selamat. Keduanya nyaris tertabrak mobil yang melaju dengan sangat kencang.


"Nenek tidak apa-apa? Kenapa nenek malah menyebrang setelah lampu berubah?" tanya Eriko sambil membantu tubuh perempuan renta itu berdiri.


"Nenek melihat ada peri kehidupan di seberang jalan. Jadi, ingin menghampirinya," jawab nenek itu dan membuat Eriko berpikir kalau wanita tua yang sudah berkeriput kulitnya itu agak gila.


"Terima kasih Nona, sudah menyelamatkan nyawa Nenek dari bahaya. Ini sebagai bentuk ucapan terima kasih." Nenek itu memberikan sebuah buku yang covernya sudah sangat lusuh.


     Eriko menerima buku itu. Tangannya membuka lembar demi lembar dari buku yang ternyata itu adalah buku novel yang bercerita tentang seorang mafia. Dia membaca beberapa kata sebagian dari novel itu dan menurutnya cerita itu sangat menarik.


"Nek, terima—. Kemana perginya si nenek?" tanya Eriko sambil mengedarkan arah pandangannya ke segala penjuru arah.


"Akh. Terserah! Yang penting kini aku harus cepat-cepat ke apartemen Hideaki kun." Eriko melanjutkan lagi perjalanannya menuju apartemen laki-laki yang sudah menjadi kekasihnya selama hampir 3 tahun ini.


***


     Saat Eriko masuk ke dalam apartemen kekasihnya, dia melihat ada sepasang sepatu wanita, yang jelas itu bukan miliknya. Dengan langkah lebar, Eriko berjalan menuju kamar tidur Hideaki. Betapa terkejutnya dia saat membuka pintu kamar dan melihat sepasang manusia sedang tidur sambil berpelukan tanpa busana di atas tempat tidur.


"Eriko, kamu jangan marah. Semalam kami mabuk jadi tidak ingat apa-apa," kata wanita yang sudah dia anggap teman baiknya itu.


     Eriko menatap sengit ke arah Hanabi. Tanpa aba-aba Eriko melayangkan tinju pada wajah wanita yang sudah tidur dengan kekasihnya.


"Ini baru pemanasan, Hanabi. Kamu tahu 'kan hukuman bagi seorang pengkhianat?" Eriko menjambak rambut panjang orang yang sering dia ajak bermain dan jalan-jalan bersamanya. Kemudian di benturkan kepala itu pada sisi ranjang milik kekasihnya.


"Sakit ..., ampun, maafkan kami! Kami janji tidak akan melakukan hal ini lagi," ujar Hanabi sambil meraung kesakitan.


     Eriko yang sakit hati karena sudah dikhianati, merasa masa bodoh dengan apa yang dirasakan oleh mantan temannya itu. Dia hanya melampiaskan rasa kekesalan dalam dirinya kepada dua makhluk beda gender ini.


"Dan kau!" Eriko menunjuk Hideaki. Membuat pemuda itu ketakutan.


"Bersiap-siaplah kehilangan pusaka kebanggaan kamu!" Eriko memberikan tendangan maut ke arah pusat tubuh lelaki yang sudah selingkuh dan mengkhianatinya.


"Awww ...! Sakit!" erang Hideaki sambil berguling-guling di lantai dengan memegangi benda yang baru saja mendapat tendangan keras.


"Rasakan! Mulai saat ini hubungan kita putus. Jangan pernah tunjukkan diri kalian lagi di hadapan aku!" teriak Eriko dengan suara yang menggelegar memenuhi kamar Hideaki.

__ADS_1


***


     Eriko menangis sesenggukan di dalam kamarnya. Kamar tidur yang biasa rapi, kini terlihat berantakan dengan sampah tisu yang berceceran. Pigura-pigura foto yang pecah kacanya karena dia banting semua pajangan yang menampilkan sosok Hideaki dan Hanabi.


     Eriko tidak menyangka kalau dua orang yang berarti dalam hidupnya akan mengkhianati dirinya. Padahal selama ini dia selalu memberikan dan mengabulkan keinginan teman dan kekasihnya itu.


     Awalnya dia tidak percaya saat salah seorang anak buah klan Mashimoto, memberi tahu kalau Hanabi dan Hideaki itu berselingkuh di belakang dia. Namun, hari ini dengan mata kepala sendiri, dia menyaksikan semuanya.


     Saat malam hari ketika sudah gelap dan sepi, Eriko masih diam mematung. Dia merasa ada sesuatu yang janggal pada tasnya. Terlihat ada seberkas cahaya memancar di dalam sana. Maka, dengan langkah gontai Eriko berjalan menuju meja belajarnya. Dilihatnya buku pemberian nenek-nenek yang ditolongnya tadi memancarkan cahaya dalam kegelapan. Dia pun kemudian menyalakan lampu meja belajar dan membaca novel itu.


"Mafia nomer satu." Eriko membaca judul novel itu.


     Novel itu menceritakan kisah seorang laki-laki yang mencari kebenaran dibalik kematian orang tuanya. Hanya dengan menjadi seorang mafia dan terjun di dunia hitam, dia bisa menemukan pembunuh yang sebenarnya.


     Cerita novel itu bagi Eriko sungguh menarik. Sampai tidak sadar kalau dia membaca sampai matahari terbit. Padahal novelnya belum selesai dia baca semua.


"Gawat! Sudah pagi dan aku belum tidur. Hari ini juga ada ujian matematika dan sejarah. Bagaimana ini?"


     Eriko pun beranjak untuk pergi mandi, tetapi sebelum itu dia memasukkan buku novelnya ke dalam tas. Dia berniat melanjutkan sisanya nanti di sekolah.


***


     Eriko pergi ke sekolah dengan mata yang terkantuk-kantuk karena belum tidur. Dia berjalan dengan terseok-seok menahan beban tubuhnya yang terasa lemas.


Tiiiinnnn!


Brak!


    Saat dia hendak menyebrang ada mobil yang melaju kencang dan menabrak tubuh Eriko. Tubuhnya terpental dan berguling beberapa meter di jalanan beraspal. Membuat kepala Eriko mengeluarkan banyak darah dan tubuh dipenuhi lecet dan tulang-tulang di badannya terasa remuk.


     Dalam keadaan yang nyaris hilang kesadaran, dia melihat mobil yang menabraknya itu kabur. Namun, dia masih bisa melihat nomor plat mobilnya. Itu adalah mobil milik ayahnya Hanabi.


"Brengsek kau, Hanabi! Aku nggak akan memaafkan kamu," kata Eriko dengan menahan rasa sakit.


     Eriko memalingkan mukanya dan dia melihat tas sekolah yang isinya berhamburan keluar. Buku novel yang tadi dia simpan di dalam tas, kini tergeletak di hadapannya.


'Padahal aku belum selesai membacanya. Apakah Louis Figo akan hidup bahagia atau mati?' batin Eriko.


     Kini semuanya terasa gelap bagi Eriko. Begitu juga dengan pendengarnya terdengar hening. 'Apa aku akan mati saat ini juga? Aku tidak terima, jika harus mati sekarang sedangkan orang-orang yang menyakitiku masih hidup berkeliaran dengan bebas.'


     Terlihat ada cahaya putih di depan mata Eriko. Dia berjalan ke arah sana. Silau. Itu yang dia rasakan saat mendekati cahaya putih itu. Kemudian, cahaya itu menyelimuti tubuhnya. Eriko melihat tubuhnya juga bercahaya. 'Apa ini alam setelah kematian?'

__ADS_1



__ADS_2