Ayu Sang Penakluk

Ayu Sang Penakluk
# Ciuman Pertama Aprilio (2)


__ADS_3

#WARNING!


#BACA SAAT SAHUR ATAU SESUDAH BUKA YA!


     Aprilio masih dalam posisi diam. Dia sangat terkejut dengan keberanian Juli yang mencium dirinya. Ingin marah, itu sudah pasti! Hanya saja masih ada rasa yang tertinggal dari ciuman barusan. Kelembutan dari benda berwarna pink alami itu masih bisa dia rasakan. Tubuhnya yang tiba-tiba meremang bisa juga dia rasakan.


     Ingin rasanya Aprilio memaki perbuatan Juli, hanya saja saat matanya melihat pada netra berbulu lentik itu. Dia malah terdiam. Selama ini dia tidak pernah memperhatikan wajah Juli. Ternyata wajahnya agak mirip Ayu, hanya saja agak berbeda karena Ayu selalu tersenyum ramah dan berbicara sopan kepada orang lain. Sementara Juli, selalu ketus dan memasang wajah judes.


"Apa ini ..., ciuman pertama kamu?" tanya Juli penasaran.


     Aprilio tidak menjawab. Dia malah memalingkan muka ke arah lain. Entah kenapa dia menjadi merasa malu karena ini baru pertama kalinya ada yang mencium bibirnya. Jangan hitung ketika masih bayi atau balita karena dia pasti tidak ingat.


"Ini bukan yang pertama kali 'kan?" tanya Juli berpindah tempat duduk ke sisi satunya lagi karena Aprilio membelakanginya.


     Ada rasa senang saat Juli melihat netra Aprilio. Terlihat jelas di sana kalau dia sangat terkejut dan ada rasa kemarahan padanya. Namun, Aprilio memilih diam.


"Aku akan bertanggung jawab padamu karena sudah mencuri ciuman pertama kamu," kata Juli dengan senang hati. Itu modus dia agar bisa bersatu dengan Aprilio.


"Tidak perlu! Kamu tidak perlu bertanggung jawab padaku. Aku merasa tidak ada yang dirugikan. Kehormatan aku masih terjaga dengan baik." Aprilio berdiri dari kursi besi taman.

__ADS_1


     Juli pun mengikuti hal yang serupa. Dia berjalan mengikuti Aprilio ketika pemuda itu melangkahkan kakinya menjauh dari sana.


***


     Melihat pemandangan yang tak disangka dan mengejutkan dirinya. Ayu dengan jahilnya langsung memfoto di mana saat Juli mencium Aprilio. Senyum jahat plus jahil langsung terukir diwajahnya yang cantik. Dia pun mengirimkan foto itu pada Aprilio dan Juli dengan caption 'Tidak menyangka kalau kalian sudah pada tahap serius. Selamat!'


     Aprilio yang senang karena mendapat pesan dari Ayu langsung mendadak pucat. Ketika dia melihat foto dirinya dengan Juli di taman tadi.


     Berbeda dengan Juli. Dia langsung merona wajahnya karena malu. Kepergok sedang mencium seorang laki-laki oleh orang lain. Dia berharap hanya Ayu saja yang melihat itu, tidak dengan orang lain. Harga dirinya bisa jatuh karena menyerang laki-laki duluan. Dia akan terkesan menjadi seorang gadis agresif.


     Aprilio mengalihkan pandangannya kepada Juli yang sedang tersenyum malu sambil melihat ke layar handphone miliknya. Karena penasaran dia pun menjulurkan kepalanya untuk melihat apa yang membuat Juli seperti itu.


"Aku rasa, Ayu masih ada di sekitar sini!" Aprilio berjalan ke arah kira-kira foto itu diambil.


     Juli pun mengekori Aprilio ke mana pemuda itu melangkah. Dia juga sebenarnya sangat terkejut dan tidak menyangka kalau Ayu ada di sekitar taman. Sebab, yang dia tahu sepupunya itu sedang pergi bersama calon suaminya untuk memesan gaun pengantin dan cincin kawin.


     Meski sudah mengitari taman selama hampir setengah jam. Mereka tidak bisa menemukan batang hidungnya Ayu.


"Mungkin Ayu sudah pulang?" Juli menarik tangan Aprilio dan malah mendapat tatapan tajam darinya. Seolah berkata 'Jangan sentuh aku!'

__ADS_1


     Juli pun melepaskan pegangannya dari tangan Aprilio. Keduanya pulang dalam keadaan diam. Tidak ada yang bicara. Juli juga merasa takut untuk memulai pembicaraan di antara mereka.


***


     Juli merasakan getaran di ponsel miliknya, tanda ada pesan masuk. Dia lihat Ayu mengirim chat.


[Ayo, jangan menyerah! Taklukan Aprilio. Curi hatinya. Buat dia jatuh cinta kepadamu!]


     Pendapat pesan dari Ayu, membuat Juli kembali bersemangat mengejar cinta Aprilio. Dia pun melirikkan mata ke arah pemuda yang sedang fokus menyetir karena akan memasuki kompleks perumahan mereka.


"April terima kasih, sudah mau meluangkan waktu untuk mengantar aku ke perpustakaan." Juli membuka sabuk pengaman dan ketika dia sudah membuka pintu mobilnya. Dengan cepat dia membalikan badan dan mencium pipi Aprilio. Dengan cepat Juli berlari masuk ke dalam gerbang rumah Ayu.


     Aprilio terdiam mematung. Sensasi lembut bibir Juli masih terasa di pipinya. Ingin marah, orangnya sudah pergi.


***


Jangan lupa untuk selalu klik like, komentar, favorit, hadiah dan Vote-nya juga ya! Dukung aku terus. Terima kasih.


    

__ADS_1


__ADS_2