
Leo berlari begitu sampai bandara dan mencari taxi untuk menuju ke rumah sakit, tempat Ayu dirawat. Dia meminta pada supir untuk melaju dengan kencang. Untungnya Leo bukan orang yang mudah kena jet lag meski perjalanan menggunakan pesawat hampir 5 jam.
Leo yang sudah mendapat informasi kamar tempat Ayu dirawat, langsung saja berlari ke sana. Begitu sampai di depan pintu kamar inap tempat Ayu dirawat, dia mengetuk pintu. Sosok Meina yang membukakan pintu itu. Meski begitu, Leo tidak gentar. Baginya sekarang yang penting adalah melihat keadaan Ayu.
"Kamu, akhirnya datang. Masuklah!" Meina membuka lebar pintu agar Leo masuk ke dalam ruangan di mana putrinya berbaring tak sadarkan diri.
Hati Leo terasa teriris melihat gadis pujaan hatinya yang biasa selalu cerewet dan menggemaskan kini diam tidak berdaya. Diraihnya tangan Ayu dan diciumnya dengan lembut.
"Baby, ini aku. Bangunlah! Buka mata indah milik kamu yang sering kau bilang cantik," bisik Leo sambil membelai wajah Ayu dengan pelan dan hati-hati.
"Katanya kamu tidur terus. Bukannya kamu selalu bilang padaku jangan bermalas-malasan, harus banyak gerak. Kenapa sekarang justru kamu yang tidur terus. Ayo, bangun! Kalau aku hitung sampai tiga nggak bangun juga, aku akan mencium kamu!" lanjut Leo dengan menahan suara isak tangisnya.
"Satu." Leo berhitung.
*
"Dua." Ayu masih diam.
__ADS_1
*
"Ti–Tiga." Ayu belum juga membuka matanya.
*
"Oke. Baiklah jika kamu ingin seperti yang di cerita-cerita dongeng. Tuan Putri akan bangun saat sang Pangeran menciumnya. Ah, benar juga kamu 'kan ingin dipanggil Putri Elsa."
"Ayu, apa kamu tahu kalau saat ini ada Papa sama Mama kamu di sini sedang memperhatikan kita? Kalau satu ciuman belum juga bisa membangunkan kamu. Maka aku akan terus mencium kamu sampai bangun." Leo menundukkan kepalanya. Bibir Ayu yang sekarang menjadi fokusnya. Dia berharap kalau ciumannya bisa menyadarkan Ayu.
"Ayu, aku sangat mencintaimu. Menikahlah denganku!" Leo mencium lembut bibir Ayu. Dia benar-benar menciumnya dengan intens dengan segenap perasaannya.
Melihat pemandangan di depannya, Agustus dan Meina menangis terharu karena putrinya kini telah sadar. Keduanya pun saling berpelukan. Meski tidak rela, mereka harus mengakui kalau berkat Leo, akhirnya Ayu bisa sadar kembali dari komanya selama dua hari ini.
"Aku mencintaimu. Bawa aku pergi bersamamu!" Ayu bicara dengan suara lemah.
Leo membalas, "Tidak! Kita tidak akan pergi ke mana-mana. Kita akan menjalani hidup sehari-hari bersama keluarga kita di sini."
__ADS_1
"Aku akan menikahi kamu. Mama, Papa dan Oma juga sudah setuju menjadikan kamu sebagai menantu mereka. Ayu maukah menikah dengan aku, tanpa harus menunggu tiga tahun lagi? Aku ingin menikahimu secepatnya!" lanjut Leo.
Ayu menangis bahagia. Dia menganggukkan kepalanya dengan senyum bahagia terukir di wajahnya yang kini sedikit merona.
Leo menegakkan badannya, kemudian mengalihkan perhatiannya pada Agustus dan Meina. Dia pun berjalan mendekati kedua orang tua Ayu.
"Om ... Tante. Izinkan aku untuk menikahi Ayu. Aku begitu mencintai dan menyayangi Ayu selama lima tahun belakangan ini. Jujur baru dua hari aku tidak bertemu dengan Ayu, aku seperti orang gila. Melakukan apapun aku tidak bisa fokus. Saat mengetahui keadaan Ayu yang masuk rumah sakit, jiwa aku pun terasa direnggut dengan paksa. Aku mohon jadikanlah aku menantu kalian!" Leo menundukkan kepala menandakan dia meminta dengan sungguh-sungguh.
Ayu yang melihat Leo memohon kepada kedua orang tuanya pun ikut turun dari ranjang pasien dan berjalan ke arah Leo. Meski jalannya terseok-seok karena masih lemah dan baru sadar dari komanya. Dia ingin sama-sama berjuang dengan kekasihnya untuk mendapatkan restu.
"Ayu!" seru Agustus dan Meina bersamaan.
"Baby!" Leo langsung merangkul tubuh lemah milik Ayu.
***
Ayu akhirnya sadar! Akankan Ayu dan Leo mendapatkan restu untuk menikah dari Agustus dan Meina? Di mana Aprilio dan bagaimana reaksinya setelah Ayu sadar?
__ADS_1
Tunggu kelanjutannya ya! Jangan lupa untuk klik like, favorit hadiah dan Vote-nya juga ya. Dukung aku terus. Terima kasih.