Ayu Sang Penakluk

Ayu Sang Penakluk
#Ciuman Jarak Jauh


__ADS_3

     Seharian ini Mei mendiamkan Ayu. Meski Ayu duduk menunggu di sana. Mei kecewa kalau Ayu sudah punya pikiran ingin menikah dengan Leo. Dari dulu dia selalu melarang putrinya itu untuk pacaran. Dia takut kalau laki-laki di luaran sana hanya ingin memanfaatkan kepolosan Ayu. Hanya Aprilio 'lah yang benar-benar sayang sama Ayu. Dia dan Juni juga sudah merencanakan akan menjodohkan anak mereka sejak masih belum menikah.


"Ma," kata Ayu memanggil Mei.


"Makan dan minumnya, ya!" Ayu memegang nampan berisi piring berisi nasi dan lauk pauk serta satu gelas air putih dan obat dari dokter tadi.


"Apa mau Ayu suapi?" tanya Ayu dengan suaranya yang lembut.


     Mei masih diam dan memunggungi Ayu. Meski hari sudah sore dan perut dia lapar dia gengsi makan apa yang dibawakan oleh Ayu karena makanan itu adalah pemberian dari Leo barusan. Sup iga 3 bungkus, sayur katuk 1 bungkus dan 3 cup salad buah. Leo juga membawakan sekeranjang buah-buahan segar untuk Mei.


     Tanpa sepengetahuan Ayu, Mei mengirim pesan kepada Agustus yang sedang berada di lantai bawah bersama Leo. Dia meminta suaminya untuk membuatkan nasi goreng untuknya, secepat mungkin karena sudah lapar.


     Saat Agustus bilang Ayu sudah mengirimkan makanan untuknya, Mei bilang menolak makanan yang dibawakan oleh Leo. Mei juga mengancam jangan bilang-bilang kalau dia kirim pesan barusan.


[Kenapa sih, Ma. Itu makanan juga enak loh!]


[Pokoknya, Mama nggak akan makan kalau bukan nasi goreng buatan Papa]


     Akhirnya, Agustus menyuruh Leo untuk melanjutkan menyapu halaman belakang dan menyirami tanaman di sana. Sementara Agustus, akan memasak nasi goreng untuk istrinya. 


     Tidak sampai 15 menit, nasi goreng buatan Agustus khusus untuk Mei, berhasil di buat. Dia membawakan ke kamarnya dan menyuapi Mei atas keinginannya.


     Ayu yang melihat itu merasa sakit hati. Sejak tadi dia berpikir, 'Apa salah jika aku pacaran dengan Kak Leo? Apa salah punya perasaan cinta untuknya? Apa salah kalau kita berdua sama-sama saling mencintai? Kenapa saat dulu Aku bilang suka sama Kak Aries, Mama nggak marah malah cenderung menggodanya. Apa ada yang salah dengan diri Kak Leo?' Ayu membatin.


"Ma ..., Pa. Ayu keluar dulu." Ayu pun pergi menuju ke kamar miliknya yang ada seberang pintu.


***

__ADS_1


     Ayu menumpahkan tangisan kesedihan miliknya. Didiamkan oleh Mamanya membuat hatinya terasa sakit. Apalagi saat barusan Papanya membawa satu piring nasi goreng, Mamanya langsung bangun dan memakannya sedangkan makan yang dia bawa tadi dibiarkannya begitu saja di atas nakas.


     Leo yang sudah selesai menjalankan semua tugas untuknya, dia kemudian menelepon Ayu. "Halo, Baby!"


"Hm, ada apa Kak?" tanya Ayu dengan pelan menahan suara sengau dan isak tangisnya.


"Baby, kamu sedang menangis?" tanya Leo karena suara Ayu agak berbeda dari biasanya.


"Nggak Kak. Ada apa meneleponku?"


"Aku sudah menyelesaikan tugas aku hari ini! Apa sekarang kita bisa bertemu di dalam rumah?" tanya Leo dengan harap-harap cemas karena tadi Mei sempat meminta dia untuk keluar.


"Kak Leo, lebih baik pulang sekarang! Bukannya nanti malam akan ada pesta ulang tahun Oma. Kakak harus mempersiapkan segalanya dari sekarang," jawab Ayu.


"Tapi aku ingin bertemu kamu dulu, apa bisa?" tanya Leo.


     Ayu pun berdiri dan melambaikan tangan kepada Leo. Tidak lupa memberikan ciuman jarak jauh untuk membuat hati kekasihnya itu senang. Begitu juga dengan Leo, dia memberikan balasan ciuman jarak jauh. Keduanya pun tertawa senang.


***


     Malam harinya Ayu dan Aprilio mengadakan pertemuan di komplek taman yang tidak jauh dari rumah mereka. Keduanya memakai jaket tebal, suhu udara malam hari ini terasa lebih dingin dari biasanya.


"Apa kamu tahu kalau Mama hari ini marah kepadaku gara-gara aku pacaran dengan Kak Leo?" Ayu memulai pembicaraan yang dianggap penting olehnya.


     Aprilio hanya diam dan menyimak apa yang akan Ayu katakan selanjutnya. Dia tahu kalau Ayu belum puas mengeluarkan unek-unek yang ada di dalam hati maupun pikirannya.


"Aku nggak diajak bicara, bertanya nggak di jawab, dan yang paling menyakitkan adalah aku menyediakan makanan untuknya karena harus minum obat, Mama tidak mau menyentuhnya sama sekali. Beda ketika Papa membawakan nasi goreng sederhana yang bahkan hanya pakai telur saja, Mama langsung memakannya." Ada nada getaran dari suara Ayu, terdengar jelas kalau dia sedang menahan tangisannya.

__ADS_1


"Apa jatuh cinta sama Kak Leo itu salah?" tanya Ayu sambil menatap Aprilio. Air mata yang sejak tadi ditahan akhirnya meluncur juga di pipi mulusnya.


"Tidak. Kita tidak tahu hati ini akan mengarah ke mana. Kebetulan hati kamu mengarah kepada Kak Leo saat ini. Mungkin juga di masa depan hati kamu mengarah kepadaku. Siapa yang tahu? Meski kita berusaha menyangkalnya, tetap saja rasa di hati tidak akan bisa dibohongi." Aprilio berbicara sambil menatap langit malam yang gelap tidak ada bulan ataupun bintang di sana.


"Kata orang jatuh cinta itu menyenangkan atau membahagiakan. Lalu kenapa saat ini aku malah merasakan sakit. Dada aku sesak. Kepala aku sakit. Kenapa hal ini terjadi kepadaku?" Ayu bertanya di sela isak tangis yang dia tahan agar tidak sampai terdengar. Helaan napas kasar beberapa kali Ayu lakukan.


"Apa kamu tahu kalau jatuh cinta itu berjuta rasanya? Karena cinta ..., kita bisa dibuat tertawa, menangis, tersenyum, kesal, khawatir, kecewa atau dibuat mabuk kepayang. Bukan hanya kamu saja yang merasakan kesakitan saat cinta itu hadir dalam dirimu. Banyak orang di luaran sana yang mengalaminya." Aprilio akhirnya mengalihkan pandangannya kepada Ayu. Pesona Ayu masih begitu kuat baginya.


     Ayu terdiam mencerna apa yang baru saja sahabatnya itu katakan. Dia berpikir kalau dirinya belum seberuntung orang lain yang jatuh cinta dan rasanya bahagia. Dia juga ingin begitu, bahagia bersama dengan orang yang dicintai olehnya dan mencintai dirinya.


     Selama ini yang dia lihat di film anime atau kartun pasti ceritanya bahagia, jika mereka sama-sama saling mencintai. Berbeda dengan yang cintanya yang bertepuk sebelah tangan. Pasti mereka akan merasakan sakit hati karena patah hati.


"Lalu apa yang akan kita lakukan jika orang tua kita hendak menjodohkan kita?" tanya Ayu.


"Aku bisa apa, selain menuruti mereka," jawab Aprilio dengan senyum ala bocah tengil.


"Ish, kamu itu ... seharusnya kita sama-sama menolaknya! Kamu secepatnya ungkapkan perasaan pada gadis cinta pertama kamu! Nanti kita punya alasan menolak karena sudah punya orang yang kita cintai." Air mata Ayu sudah kering dan tidak ada lagi sisa yang membasahi pipinya.


***


Bagaimana nasib perjodohan Ayu dan Aprilio? Benarkan hanya itu alasan Mei marah kepada Ayu?


Tunggu kelanjutannya ya. Jangan lupa untuk klik like, favorit, hadiah, dan Vote-nya juga ya.


Dukung aku terus. Terima kasih.


Sambil menunggu up bab berikutnya. Baca yuk karya teman aku. Ceritanya bagus.

__ADS_1



__ADS_2