
Leo mencoba membersihkan pikirannya dengan membasuh muka. Pikiran-pikiran negatif terus saja bermunculan di dalam kepalanya.
"Tidak! Aku harus percaya sama Ayu. Kalau dia memang benar-benar tulus mencintai aku. Bukan karena nama keluarga atau harta. Tapi diriku! Aku yang apa adanya," kata Leo sambil melihat dirinya di cermin.
Tanpa Leo tahu kalau Oma Pio masuk ke dalam kamarnya. Scorpio bermaksud bicara empat mata dengan cucu semata wayangnya . Namun, saat handphone milik Leo berdering dan nama Baby my lovely di sana, Scorpio pun mengangkat panggilan itu. Dia tahu kalau yang meneleponnya itu adalah Ayu.
[Halo, Kak Leo.]
"Halo, Ayu. Ada apa? Kenapa kamu menghubungi Leo? Bukannya sekarang kamu sudah punya tunangan! Jangan menghubungi Leo lagi!" cecar Oma Pio dengan berbisik karena takut ketahuan oleh Leo.
[Maaf, Oma. Ayu hanya ingin meminta maaf saja sama Kak Leo.]
"Ya, nanti akan Oma sampaikan. Sebaiknya kamu jaga perasaan Leo juga laki-laki yang di jodohkan dengan kamu itu. Jangan buat semua orang menderita. Lupakan saja Leo! Biarkan dia juga hidup bahagia bersama wanita pilihan Oma." Scorpio bicara dengan cepat karena terdengar suara kran air di kamar mandi sudah mati.
Scorpio langsung menghapus riwayat panggilan dari Ayu. Kemudian, dia menyimpan kembali handphone milik Leo di tempat semula. Dia pun cepat-cepat keluar dari kamar pewaris satu-satunya keluarga Esteban.
***
Sementara itu, di kamar Ayu. Gadis itu menangis semakin menjadi-jadi. Betapa sakit hatinya dia saat mendengar kalau Leo juga akan di jodohkan dan meminta dia jangan lagi menghubunginya. Padahal tadi niatnya dia ingin menjalankan rencana kabur dari rumah.
Terdengar suara ketukan di pintu kamar, tetapi Ayu membiarkan. Dia tidak mau membukakan pintu itu. Saat ini dirinya hanya ingin sendiri, tidak mau ada yang mengganggu. Ayu menangis pilu sampai tidak sadarkan diri dan berbaring di lantai yang dingin.
__ADS_1
Aprilio duduk di balik pintu sambil mendengarkan suara tangisan Ayu yang samar-samar terdengar. Dia juga ikut merasakan sakit karena merasa ikut ambil peran dari kesedihan Ayu.
'Maaf, Ayu. Aku tidak bisa berbuat apa-apa saat ini.' Aprilio menekuk kedua kakinya dengan kedua tangan melingkari dan menyembunyikan wajahnya di sana.
"Ayo, April gunakan otak kamu! Pikirkan cara agar Ayu bisa bahagia," gumam Aprilio pada dirinya sendiri.
Aprilio menyandarkan kepalanya pada pintu. Mata dia terpejam sedang memikirkan apa yang sebaiknya dia lakukan.
***
Hari ini adalah hari di mana Libra dan September menikah. Kedua keluarga itu nampak sangat bahagia menyambut hari baik ini.
September berulang kali mencoba menghubungi Ayu dari tadi, tetapi tidak diangkat juga. Sejak kemarin dia tidak bisa menghubungi sahabatnya itu.
"Halo, April! Coba lihat Ayu! Aku hubungi dia dari tadi, tidak di angakat teleponku," suruh September dengan nada kesal.
[Ada apa sih? Kenapa kamu tiba-tiba marah seperti ini?]
"Kamu tidak tahu, kalau hari ini aku akan menikah?" September menjawab pertanyaan Aprilio dengan pertanyaan lagi.
[Hah! Yang bener? Kamu sedang tidak bercanda 'kan?"]
__ADS_1
"Ngapain aku bercanda, cepat datang ke sini bersama Ayu! Dan hibur aku." September memberi perintah kepada Aprilio sambil bersungut-sungut.
[Baiklah. Aku dan Ayu akan ke tempat kamu secepatnya.]
***
"Ayu, buka pintunya!" teriak Aprilio dan di ikuti oleh Meina.
"Tadi pagi juga dia tidak mau turun untuk sarapan. Ayu itu sudah besar, tapi masih saja suka merajuk kayak anak kecil," kata Meina.
"Tante, apa ada kunci cadangan pintu kamar Ayu?" tanya Aprilio.
"Ada. Tunggu, akan Tante bawakan!" jawab Meina.
Tidak lama berselang Meina membawa kunci cadangan. Aprilio dengan cepat membukanya. Betapa terkejutnya mereka saat melihat Ayu terbaring di lantai.
"Ayu!" teriak Aprilio dan Meina bersamaan.
***
Apa yang terjadi kepada Ayu? Bagaimana pesta perkawinan September dan Libra?
__ADS_1
Tunggu kelanjutannya ya. Jangan lupa untuk selalu klik like, favorit, hadiah dan Vote-nya juga ya. Dukung aku terus. Terima kasih.