Ayu Sang Penakluk

Ayu Sang Penakluk
#Dasar Casanova Gila


__ADS_3

     Tidak terasa sudah tiga hari berlalu kejadian yang menimpa Libra. Sejak itu dia di rawat rumah sakit. Tidak ada orang tua yang menjenguk apalagi menunggu dan menjaga dirinya. Selama hari-harinya di sana dia banyak berpikir dan introspeksi diri. Awalnya dia kesal sama orang tuanya yang menjodohkan dia dengan junior di kampusnya. Namun, karena sering berinteraksi dengan September meski itu kebanyakan di isi dengan perdebatan, dia merasa senang. 


     Kecerewetan September yang sering membantah atau memarahi dirinya, setelah dipikir-pikir lagi olehnya itu secara tidak langsung merupakan perhatian kepadanya. Libra kembali mengingat kejadian saat dia dan tunangannya kerap bertemu pasti di isi dengan adu mulut.


     Kini hati dan pikiran Libra agak kacau gara-gara September. Informasi yang didapat dari anak buah dan temannya, saat ini September sedang berusaha untuk memutuskan tali pertunangan mereka.


     Pintu kamar rumah sakit dibuka. Datang seorang dokter dan dua orang perawat. Mereka melakukan pengecekan kondisi Libra saat ini. Jika, hasilnya bagus. Mereka, dia bisa pulang hari ini. Luka-luka lebam diwajahnya masih meninggalkan sedikit warna ungu agak kehijauan.


"Bagus. Untungnya tidak ada keretakan pada tulang tengkorak. Jadi, semuanya cepat pulih." Dokter itu memberitahu kondisi Libra.


"Jadi, hari ini saya boleh pulang?" Libra sudah tidak betah, ingin segera kembali ke rumahnya.


"Iya, Anda sudah bisa pulang," jawab Dokter itu.


     Leo dan Aries datang hampir bersamaan. Mereka berniat akan menjemput Libra. Namun, Libra memilih pulang naik mobil sendiri.


***


     Libra, Leo dan Aries memasuki kediaman keluarga Castello. Ternyata Tuan dan Nyonya Castello sudah sampai duluan ke rumah. Mereka bergegas pulang karena Tuan Kimberley murka kepada mereka atas perbuatan Libra kepada September.


"Apa benar kalau kamu sudah memperkosa September?" tanya Tuan Castello.


"Aku tidak sadar saat melakukan hal itu dengannya," jawab Libra.


"Apa kamu tahu konsekuensi dari perbuatan kamu itu?" Kali ini Nyonya Castello yang bertanya.


"Harus secepatnya menikahi September karena ada kemungkinan dia sedang hamil bayi aku." Libra sudah tahu karakter dan keinginan atau impian orang tuanya. Ingin secepatnya punya keturunan. Maka dia bicara dengan pancingan kata bayi.


     Tuan dan Nyonya Castello yang tadinya memarahi Libra dan akan memberikan hukuman padanya. Kini, saat putra mereka membicarakan tentang bayi. Keduanya terdiam dan sudah membayangkan dalam otak mereka menggendong cucu yang wajahnya mirip gen Castello.


"A–Apa, September hamil?" tanya kedua orang tua Libra dengan tergagap karena tidak percaya.


"Belum di tes hasilnya. Hanya saja aku rasa dia sekarang sedang hamil anakku," jawab Libra.


"Kalau belum di tes, bagaimana kamu bisa yakin kalau September sedang hamil?" Nyonya Castello memukul lengan atas Libra.

__ADS_1


"Karena aku melakukannya tanpa pengaman." Libra menangkis tangan Mamanya yang hendak memukul kepalanya.


"Apa!" Tuan dan Nyonya Castello berteriak.


"Kan biar Mama dan Papa bisa cepat punya cucu!" Libra membela dirinya. Senyum jahil tercipta dari bibirnya yang tipis.


"Kalau hanya sekali ada kemungkinan nggak akan hamil." Tuan Castello mendengus sebal pada putranya.


"Siapa bilang cuma satu kali," jawab Libra dan mendapat lemparan bantal kursi oleh Aries.


"Bagus, Nak. Semoga saja September beneran hamil anak kamu," ujar Nyonya Castello dengan senyum manisnya.


"Dasar Casanova gila," gumam Leo dan Libra tersenyum sambil menarik turunkan alisnya.


***


    Kediaman keluarga Kimberley, kini dalam keadaan tegang. Tuan dan Nyonya Kimberley yang baru pulang dari perjalanan bisnisnya dan dalam keadaan murka. Mereka baru tahu kabar tentang September yang hilang itu dari berita online. Tidak ada seorang pun yang memberi tahu berita itu kepada mereka.


"Papa nggak suka, kalau kalian menyembunyikan sesuatu kepada kami. Apalagi September, putri kesayangan kita yang mengalaminya." Tuan Kimberley menatap tajam kepada kedua putra mereka.


    Nyonya Kimberley masih memeluk September yang masih menangis. Saat melihat Papanya murka begitu masuk rumah.


"Pa. September belum tentu dia hamil," kata putra sulung.


"Dia harus bertanggung jawab karena sudah merenggut kehormatan September," ujar Tuan Kimberley.


"September nggak mau menikah dengan dia. Kini aku juga sudah punya kekasih. Dia mau menerima September apa adanya." September melepaskan pelukan dari Mamanya. Dia menolak perintah Papanya untuk menikah dengan orang yang sudah memperkosanya.


"Iya, Pa. Masa korban harus menikah dengan pelaku. Ini nggak benar! Bagaimana dengan perasaan September? Dia masih trauma, ketakutan kepadanya," ucap kakak ke dua September.


     September menganggukkan kepalanya. Dia memang belum bertemu lagi dengan Libra setelah kejadian itu. Hanya saja setiap malam dia masih saja terbayang akan tragedi yang menimpa dirinya.


"Baiklah jika itu yang kamu inginkan," kata Tuan Kimberley.


     Kedua orang tua September pun akan membicarakan kembali tentang perjodohan anak-anak mereka dengan keluarga Castello. Mereka juga tidak mau hubungan baik selama ini menjadi renggang gara-gara masalah ini.

__ADS_1


***


     Leo masih menjadi pembantu di rumah Ayu. Namun, kini Ayu juga ikut membantu. Kedua sejoli yang sedang dimabuk asmara itu, malah menikmati semua pekerjaan membereskan dan membersihkan rumah. Tawa dan canda kerap terdengar dari keduanya.


"Kak Leo, awas kalau sampai kena baju aku lagi!" Ancam Ayu saat kekasihnya itu dengan sengaja menyemprotkan air dari pipa selang untuk menyiram bunga.


"Nggak apa-apa, sekalian mandi sore!" Leo tertawa dan malah sesekali menyiram Ayu yang sedang menyapu dedaunan.


"Aku nggak bercanda, Kak!" Ayu masang wajah cemberutnya.


"Lucu banget wajah kekasihku ini," kata Leo dan menyemprotkan air ke arah atas sehingga menjadi seperti turun hujan.


"Kak Leo!" teriak Ayu. Sementara Leo, malah tertawa terkekeh.


     Ayu merasa kesal, lalu dia berlari ke arah Leo dan merebut pipa selang airnya. Dia menyemprotkan ke arah muka dan badan Leo. Akhirnya, kedua orang itu rebutan pipa selang dan saling menyiram. Tawa dan pekikan dari keduanya terdengar oleh Mei.


    Dari lantai atas, atau lebih tepat di balkon kamarnya, Mei melihat interaksi antara Ayu dan Leo. Dia menatap kedua sejoli yang sedang tertawa bahagia.


"Maaf Ayu, Mama belum percaya kepada Leo. Bagi Mama hanya Aprilio yang benar-benar sangat tulus kepadamu," gumam Mei.


***


     Suara tawa riang Ayu juga memancing Juni yang sedang beristirahat di paviliun. Ruangan yang dekat dengan rumah Mei, hanya terhalang pagar besi saja. Bahkan mereka bisa saling melihat bangunan rumah tetangganya itu.


"Ayu sedang bersama siapa? Kayak senang banget gitu, tawanya." Juni keluar rumah karena penasaran.


"Loh bukannya itu putra keluarga Esteban?" gumam Juni saat melihat Leo sedang bersama Ayu.


"Apa mereka berteman?" Juni berjalan semakin mendekati kedua pemuda yang kini sudah basah kuyup.


***


Bagaimana nasib September kedepannya? Apakah Juni akan tahu kalau Leo dan Ayu sedang pacaran?


Tunggu kelanjutannya ya. Jangan lupa untuk klik like, favorit, hadiah dan Vote-nya juga. Dukung aku terus. Terima kasih.

__ADS_1


Sambil menunggu up bab berikutnya, baca juga karya teman aku ya. Ceritanya nggak kalah seru loh! Baca yuk!



__ADS_2