Ayu Sang Penakluk

Ayu Sang Penakluk
#Cinta mereka bersemi


__ADS_3

     Pelukan September yang tiba-tiba dan menangis histeris masih membuat Libra bertanya-tanya. Dia membawa September ke dalam pangkuannya. Keduanya duduk di sofa masih dalam saling memeluk.


"Sayang, aku bawakan mie ayam kesukaan kamu, nih. Makan dulu, yuk!" ajak Libra.


     Namun, September malah menggelengkan kepalanya dan memilih memeluk tubuh suaminya. Tangisannya pun sudah mereda karena Libra mengusap-usap punggungnya. Terasa nyaman baginya.


"Kakak suapi. Mau, ya?" Libra mencoba merayu September. Terbukti, wanitanya itu menganggukan kepalanya.


     Libra duduk di samping September dan saling menyuapi. Mie ayam dua porsi dijadikan satu dalam satu wadah, seperti yang sering September dan Ayu lakukan saat masih gadis dahulu.


     Libra sesekali mencium istrinya, mau itu di pipi atau di bibir. Kemesraan mereka berdua dilihat oleh orang tua September yang kebetulan pulang. Keduanya hanya tersenyum melihat putri dan menantu mereka.


"Semoga bisa secepatnya kita diberi cucu," kata Nyonya Kimberley.


"Ya, Papa rasa waktunya tidak akan lama lagi." Tuan Kimberley mengajak istrinya naik ke lantai atas, agar tidak menggangu pengantin baru itu.


***


     Aprilio mengajak Julia untuk menonton bioskop. Kalau dulu dia pergi sama Ayu, kini dengan calon masa depannya. Kedua pemuda-pemudi itu berjalan sambil bergandengan tangan. Senyum di wajah Julia tidak pudar semenjak Aprilio menjemputnya. 


     Malam ini Julia berdandan cantik dan memakai baju yang indah dan cocok untuknya. Bahkan Aprilio meminta Julia jangan berdandan cantik karena takut akan banyak laki-laki yang melirik kepadanya.


"Kenapa kamu berdandan cantik begini, sih.? Lihat para laki-laki itu terus melirik kamu," kata Aprilio dengan nada kesal.


"Justru, banyak wanita yang melirik kamu terus sejak tadi," gerutu Julia.


     Keduanya saling menatap dan terdiam, kemudian tertawa di waktu yang bersamaan. Julia merangkulkan kedua tangannya di lengan Aprilio.


***

__ADS_1


     Mereka pun memutuskan tidak jadi nonton bioskop, melainkan pergi ke tepi danau yang banyak dihiasi lampu-lampu taman dan kebun bunga yang menebarkan wangi segar. Karena tidak terlalu banyak orang di sana, membuat keduanya merasa nyaman. Bahkan Aprilio merangkul pundak Juli tanpa sungkan dan malu. Juli pun merangkul kan tangannya di pinggang Aprilio.


"April, aku mau ikut Kakek liburan selama dua bulan ke luar negeri," kata Juli sambil menatap wajah laki-laki yang kini menghentikan langkah kakinya.


     Aprilio melihat ke arah Julia. Gadis itu malah menundukkan kepalanya.


"Kenapa lama sekali? Kakek kamu itu mau liburan atau berobat?" tanya Aprilio.


"Kakek yang berobat. Kalau aku liburan," jawab Julia sambil ketawa garing.


"Hati-hati saja di sana kalau sedang liburan. Kamu jangan buat masalah atau gara-gara dengan penduduk asli," lanjut Aprilio.


     Julia langsung memasang wajah kakunya. Niatnya, ingin mendengar kata-kata agar jangan pergi dan jauh darinya, ini malah di kasih nasehat. 


"Kamu itu memandang aku seperti biang rusuh," ujar Julia.


"Itu kan salah satu sifat kamu!" tukas Aprilio.


     Aprilio langsung memeluk tubuh Julia dan berkata, "Apa bisa kalau kamu jangan pergi, tetaplah di sini. Bukannya masih banyak sepupu kamu yang lainnya. Kenapa harus kamu yang pergi."


"Karena aku dan Ayu adalah cucu yang paling dekat dengan Kakek. Sepupu yang lain nggak suka kalau harus menghabiskan banyak waktu dengan Kakek." Julia senang saat Aprilio memeluknya dan meminta agar jangan pergi.


"Apa pasti akan merindukan kamu," bisik Aprilio.


"Aku juga pasti begitu," balas Julia sambil memeluk erat Aprilio.


"Jaga hati ini baik-baik. Jangan sampai dicuri oleh laki-laki di sana," pinta Aprilio.


"Bodoh! Hati aku ini sudah dicuri sama kamu. Apa kamu pura-pura tidak tahu?" tanya Julia dengan kesal.

__ADS_1


     Aprilio hanya tertawa mendengar perkataan Julia. Mereka pun membuat foto bersama dan mengunggahnya di media sosial milik Julia. Kali ini Julia sendiri yang mengunggahnya.


***


     Aries merasa kasihan dengan nasib sahabatnya. Dia setiap punya waktu luang selalu mengunjungi Gemini. Mengajaknya bicara dan mendengarkan cerita dia tentang suaminya. Meski cerita itu diulang-ulang seperti kaset, Aries setia mendengarkan.


"Gemini, apa kamu mau jalan-jalan ke taman depan?" tanya Aries.


"Mau," jawab Gemini dengan semangat karena selama ini dia duduk terus di dalam kamar itu.


     Saat mereka duduk di taman pun Gemini masih membicarakan suaminya. Membanggakan sosok suami idamannya.


"Aries, pokoknya tidak ada laki-laki seperti dia! Aku sangat mencintainya," kata Gemini di akhir ceritanya.


"Iya, suami kamu itu hebat. Makanya, kamu cinta dia," balas Aries sambil tersenyum.


     Orang tua Gemini melihat dari kejauhan. Mereka senang, kini Gemini bisa tersenyum.


"Papa berharap kalau Gemini, bisa cepat menemukan pengganti suaminya," kata Tuan George Louis.


"Iya benar, Pa. Mama juga berharap begitu," balas Nyonya George Louis.


"Siapa tahu cinta mereka akan bersemi."


***


Bagaimana kisah mereka selanjutnya? Tunggu kelanjutannya ya! Jangan lupa untuk selalu klik like, komentar, favorit, hadiah, dan Vote-nya juga. Dukung aku terus ya. Terima kasih.


Sambil menunggu Ayu up bab berikutnya, baca, juga karya teman aku ya.

__ADS_1



__ADS_2