
Setelah membicarakan persiapan pernikahan dengan keluarganya, September berjalan-jalan di taman bunga yang ada di halaman belakang rumahnya. Dia merasa kesal dengan semua orang. 'Kenapa musibah yang menimpa diriku, malah dianggap berkah bagi mereka?' September merutuki dalam hati.
'Kenapa kehamilan ini malah membuat orang tuaku dan Kak Libra sangat bahagia?' September hanya bisa berkata dalam hatinya.
Ponsel yang berada di dalam sakunya berdering menandakan ada panggilan masuk. Dilihatnya ada nama Taurus tertera di layar. Senyum bahagia langsung tercipta di wajahnya yang semula masam.
"Halo, Taurus!" sapa September dengan riang.
[Halo, Septie. Apa kabar?]
"Tadi sedang bad mood. Tapi begitu melihat nama kamu di layar handphone, mood aku berubah," jawab September jujur.
[Aku senang mendengarnya]
Hening sejenak, tidak ada pembicaraan di antara keduanya.
[Aku sangat merindukan kamu. Meski baru dua hari tidak melihat wajahmu secara langsung, tapi terasa berbulan-bulan bagiku tidak bertemu. Aku ingin bertemu denganmu, Sayang.]
Mendengar kata-kata Taurus itu membuat September senang dan tersipu malu. Jantung dia berdetak lebih kencang dan hatinya terasa berbunga-bunga.
"Aku juga sangat merindukan kamu. Dan ingin bertemu denganmu juga," balas September.
[Bagaimana kalau sekarang kita bertemu?]
"Aku tidak yakin bisa keluar rumah. Karena besok lusa aku akan menikah," jawab September dengan nada lemah.
__ADS_1
[Jadi, kamu akan menikah dengan laki-laki yang sudah melecehkan harga dirimu sebagai seorang wanita? Apa kamu akan hidup bahagia dengannya?]
"Aku tidak tahu! Aku terpaksa melakukannya karena saat ini ada anaknya di dalam perutku!" jawab September dengan menahan isak tangisannya.
[Gugurkan anak itu! Dengan begitu tidak akan ada yang mengikat kamu untuk menikah dengannya.]
September menangis tergugu, apa dia sanggup menggugurkan janin yang bahkan belum berbentuk itu. Dia memegang perutnya. Kehamilannya saat ini memang tidak dia inginkan, tetapi kalau harus mengugurkannya dia juga tidak mau. Baginya itu sama saja dengan membunuh makhluk tak bersalah.
September tidak sanggup lagi melanjutkan pembicaraannya dengan Taurus. Dia mematikan sambungan itu dengan sebelah pihak. Saat Taurus kembali menghubunginya, dia mengabaikan panggilan itu. Hanya menangis yang ingin dia lakukan saat ini untuk melampiaskan perasaannya.
***
Oma Pio menatap nyalang ke arah Leo. Dia marah saat mendengar kalau cucunya itu menjalin asmara dengan anak dari orang yang paling dibencinya. Dia juga tidak menyangka kalau Ayu adalah anak Meina dan Agustus.
"Perasaan itu tidak bisa dipaksakan Oma," balas Leo.
"Kalau kamu mau membuka hati kamu untuk gadis lain, perasaan cinta itu akan cepat hadir dalam hati kamu. Lihat Papa kamu! Dia juga awalnya tidak cinta sama Mama kamu, tapi apa lihat sekarang? Dia sangat mencintai Canser dan menjadikan satu-satunya wanita dalam hidup dia." Oma Pio melirik ke arah anak dan menantunya meminta dukungan dari mereka.
"Yakinlah kalau kalau kamu akan menemukan gadis yang sangat mencintaimu dan cinta kalian akan bersatu," kata Cancer kepada Leo. Dia tahu akan sulit bagi Leo untuk menyukai seorang gadis lainnya.
"Bukannya dulu kamu juga dekat dengan Pisces. Kenapa tidak jalin kembali asmara yang sempat terputus itu?" tanya Oma Pio.
Leo sangat terkejut mendengar ucapan Omanya barusan. Dia tidak menyangka kalau neneknya itu akan bilang begitu. Leo lebih memilih membujang seumur hidup daripada harus kembali menjalin kasih dengan Pisces.
Tanpa diduga wanita yang sedang mereka bicarakan datang. Pisces tersenyum manis saat masuk ke dalam ruang keluarga yang sedang di isi para penghuninya.
__ADS_1
"Selamat malam Oma, Om, Tante dan ..., Leo." Pisces menyapa dengan sopan dan suaranya dibuat lembut.
"Selamat malam juga Pisces," jawab Oma dengan senyum manisnya dan menyambutnya dengan pelukan.
Leo sungguh terkejut melihat Oma Pio kini dekat dengan Pisces. Padahal selama ini Oma Pio kurang dekat dengan Pisces. Bukan berarti Oma Pio benci atau tidak suka pada Pisces.
"Ada apa kamu ke sini?" tanya Leo dengan sinis.
"Aku diundang makan malam oleh Oma Pio," jawab Pisces dengan senyum menawannya.
Leo yang sedang kesal tingkat tinggi langsung hilang napsu makannya yang sebentar lagi akan disajikan. Padahal waktu makan malam tinggal beberapa menit lagi dari jadwal biasanya.
Kedatangan tamu tak terduga ke rumahnya, membuat Leo memilih meninggalkan ruangan itu dan masuk ke kamarnya di lantai atas. Kepergian Leo membuat Pisces kecewa.
***
Teman-teman aku buat cerita baru judulnya "DUDA VS ANAK PERAWAN" mampir, ya!
Baca dulu blurb/sinopsis di sana. Siapa tahu akan suka.
Jangan lupa untuk selalu klik like, favorit, hadiah dan Vote-nya juga ya. Dukung aku terus. Terima kasih.
Bagaimana kelanjutan kisah Ayu, Leo, dan Aprilio? Lalu Libra, September dan Taurus?
Tunggu kelanjutannya ya!
__ADS_1