
Aprilio bukannya menyatakan cinta, tetapi malah lamaran pernikahan. Hal ini membuat Julia sangat bahagia.
"Apa ini benar nggak bohong?" tanya Julia dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Iya. Mau kah kamu menikah denganku?" tanya Aprilio lagi.
"Mau!"
Mereka berpelukan erat. Sampai ada suara yang mengejutkan mereka.
"Siapa itu Juli?" tanya Kakek Wijaya.
Julia melepaskan pelukan dan tersenyum cantik kepada Aprilio. Kemudian membalikan badannya mengarah kepada sang Kakek.
"Calon suami Juli, Kek. Dia menyusul ke sini karena Juli sangat rindu padanya," jawab Julia sambil tersenyum menawan.
Kakek Wijaya melihat ada Aprilio di depan pintu dengan koper di sampingnya. Dia berpikir kalau pemuda itu baru sampai dan langsung datang ke rumahnya.
"Ajak dia masuk! Masih banyak kamar kosong di atas," titah Kakek Wijaya.
"Iya, Kek."
Julia menuntun Aprilio ke lantai atas dan menempatkan di samping kamarnya. Dia sengaja biar bisa terus berdekatan dengan si pujaan hati.
***
Leo dan Ayu menikmati masa bulan madu. Saat ini mereka sedang berada di pantai pribadi. Jadi, tidak ada orang lain selain mereka dan para pekerja vila pribadi milik keluarga Esteban. Kedua menelusuri bibir pantai sambil berpegangan tangan.
__ADS_1
"Rasanya aku ingin scuba diving," kata Leo.
"Jangan! Aku tidak mau Kak Leo melakukan itu. Kalau ada ikan hiu, bagaimana?" tolak Ayu.
"Ikan hiu?"
Leo tertawa terkekeh mendengar kata-kata istrinya. Hal ini malah membuat Ayu masam.
"Mana ada ikan hiu di pantai tenang seperti ini, ombaknya saja kecil. Lagian mereka itu hidup di lautan dalam," lanjut Leo.
"Aku mau pulang ke vila. Lapar!" Ayu melepaskan pegangan tangannya dan berjalan meninggalkan Leo.
"Baby, tunggu dulu!" Leo mengejar Ayu.
Ayu makan dengan lahap dan tambah sampai tiga kali. Itu membuat Leo terpana karena tidak menyangka kalau Ayu bisa makan sebegitu banyaknya.
"Napsu makan aku semakin bertambah dan aku juga mudah lapar. Apa karena terlalu banyak jalan-jalan?" Ayu lanjut makan lagi.
"Makanlah selagi kamu mau dan suka." Leo hanya melihat istrinya makan dengan lahap itu.
***
Jiwa posesif Libra kepada September semakin menjadi. Dia begitu ketat dalam menjaga September dan bayinya. Sang istri pun tidak merasa risih atau kesal akan sifat suaminya itu. Justru dia menikmati perhatian dari suaminya itu.
"Sayang, ini aku buat susu untuk kamu." Libra memberikan satu gelas kaca dengan hati-hati.
"Terima kasih," balas September dan memberikan satu ciuman di pipi untuk suaminya.
__ADS_1
Libra mengelus perut istrinya dengan lembut. Kemudian, mencium pucuk kepala istrinya.
"Sayang, apa tidak ada sesuatu yang kamu inginkan saat ini? Misal ingin makan apa?" tanya Libra.
"Hm ... apa, ya?" September berpikir sambil mengerucutkan bibirnya. Malah terlihat gemas di mata suaminya.
"Daripada makan apa, aku merasa ingin mendengar kamu bernyanyi, Kak!" pinta September.
"Yakin, Sayang. Kamu ingin mendengar aku bernyanyi sekarang?" tanya Libra dan September pun menganggukkan kepala.
"Baiklah. Mau pakai musik karaoke atau live show langsung?" tanya Libra sambil tersenyum.
"Live show tanpa karaoke," jawab Si ibu hamil.
Libra pun memulai menyanyikan sebuah lagu cinta dengan suaranya yang menggelegar dan fales tanpa tahu nada. Membuat ibu hamil itu langsung menutup kedua telinganya menggunakan tangannya.
"Berhenti! Aku minta berhenti, Kak!" teriak September histeris.
"Kenapa, Sayang? Aku belum selesai menyanyi," kata Libra dengan wajah tanpa dosa.
***
Bagaimana kisah mereka selanjutnya? Tunggu kelanjutannya ya! Jangan lupa untuk selalu klik like, favorit, komentar, hadiah, dan Vote-nya juga. Dukung aku terus. Terima kasih.
Sambil menunggu Ayu up bab berikutnya. Baca juga karya teman aku ya. Ceritanya nggak kalah seru loh.
__ADS_1