
Malam yang sepi dan tenang membuat Ayu bisa mendengar sendiri detak jantungnya yang cepat. Apalagi wajah Leo yang begitu dekat dan membuat dia bisa merasakan hembusan napas hangat dan wangi mint.
"Tampan," gumam Ayu tanpa sadar karena terpesona oleh tatapan mata yang seakan sudah memenjarakan dirinya dalam pancaran cahayanya.
Tatapan penuh cinta dari Leo membuat Ayu tidak berdaya. Sampai dia tidak sadar sudah memegang wajah Leo.
"Siapa yang tampan?" bisik Leo yang kini tangannya mengelus wajah Ayu.
Usapan Leo pada wajah Ayu menyadarkan gadis itu kalau kini sedang memegang wajah pewaris Esteban. Dengan gerakan cepat diturunkannya tangan itu dan memundurkan tubuh dan kepalanya.
"Maaf, aku sudah tidak sopan." Ayu menundukkan kepala dan merutuki perbuatannya barusan di anggap bodoh dan lancang. Kalau malu itu sudah pasti dia rasakan dari tadi, tetapi kini kadar rasa malunya lebih tinggi.
"Justru aku merasa senang saat kamu memegang wajahku dan bilang tampan," ujar Leo dengan senyum jahilnya terukir di wajahnya.
"Apa aku hanya bilang tampan saja? Tidak bicara yang aneh-aneh 'kan?" Ayu menelisik pada netra Leo mencari kejujuran di sana.
"Tidak juga. Tidak aku sangka kalau kamu itu benci padaku." Leo berdusta ingin mengetahui reaksi Ayu dan ekspresi wajah dari pujaan hatinya yang siang tadi sudah membuatnya gundah gulana.
"Bohong! Aku tidak benci pada Kak Leo. Justru aku suka sama Kak Leo. Aku mencintaimu, Ka–" Ayu dengan cepat menutup mulutnya. Padahal dia menunggu momen yang pas untuk mengungkapkan perasaannya.
Leo menatap Ayu dan tidak mampu berkata apa-apa, saking terkejut dan senang dia rasakan dalam waktu bersamaan. Dia menarik tubuh Ayu agar tidak bisa menjauh darinya lagi apalagi sampai pergi.
"Benarkah itu, Baby? Kalau kamu mencintaiku?" tanya Leo untuk meyakinkan lagi pendengarannya. Ayu hanya menganggukkan kepalanya saking malunya dia.
"Katakan dengan jelas, Baby!" Leo mengangkat dagu Ayu.
"Aku ..., mencintaimu Leonardo Alexi Esteban."
"Terima kasih." Leo memeluk Ayu untuk menyalurkan rasa bahagianya.
"Aku sangat mencintaimu, Rahayu Asha Jaya."
"Aku juga sangat mencintai kamu."
Kamar presidential suite room yang di bernuansa clasic, menjadi tempat saksi bisu dari ungkapan cinta dari kedua insan yang kini saling memeluk dengan erat. Mereka merasa sangat senang dan bahagia akan perasaannya yang saling berbalas.
"Katakan sekali lagi, Baby!" pinta Leo kepada Ayu.
"Nggak mau! Malu," balas Ayu yang masih menyembunyikan wajahnya di dada bidang sang Pangeran Kampus.
"Aku mencintaimu! Aku mencintaimu Ayu!" teriak Leo girang sambil memutar tubuh gadisnya, yang terasa ringan baginya.
__ADS_1
"Aaaaakh ..., Kak Leo turunkan aku!" pinta Ayu yang masih berada dalam pangkuan tangan Leo. Dia takut jatuh.
Posisi kepala Leo sejajar dengan perut Ayu. Sehingga kepala Ayu menunduk sedangkan kelapa Leo mendongak.
"Maukah kamu menjadi pendamping hidupku?" tanya Leo masih dalam posisi itu.
"Iya, mau," jawab Ayu malu-malu.
Leo menurunkan Ayu secara perlahan. Saat wajah mereka sejajar pemuda yang sedang kasmaran itu hendak mencium bibir ranum sang gadis. Namun, si anak perawan itu menutup bibirnya dengan sebelah tangan kanan.
"Kenapa?" tanya Leo kecewa.
"Aku takut kalau kita melakukan itu, nantinya akan merembet ke hal-hal dewasa lainnya," jawab Ayu dengan jujur dan itu malah membuat Leo tertawa terkekeh karena pemikiran kekasihnya.
"Apa kamu tidak mau sampai hal-hal dewasa itu terjadi sekarang?" tanya Leo dan mendapat jawaban anggukkan dari Ayu.
"Kalau ciuman itu hal biasa sering dilakukan oleh pasangan kekasih," kata Leo meski dalam hidupnya hanya bibir Ayu yang pernah di sentuh. Itu juga karena sedang melakukan CPR.
"Nggak mau. Teman-teman yang lain bilang dimulai dari kecupan terus ciuman menjadi ciuman mesra atau panas lalu berpelukan dan saling sentuh, mereka akhirnya melakukan perbuatan dua satu plus. Kalau sampai hamil diluar nikah, bisa-bisa aku digantung oleh orang tuaku karena sudah membuat malu keluarga."
Leo terpana dengan apa yang diucapkan oleh kekasihnya barusan. Ternyata Ayu menginginkan hubungan yang sehat. Berbeda dengan kebanyakan anak muda yang lebih senang dengan percintaan yang membara. Apalagi kalau mereka sedang hangat-hangatnya menjalin hubungan.
"Terus kapan aku bisa mencium kamu?" tanya Leo dengan nada lesu.
Mulut Leo menganga setelah mendengar perkataan Ayu barusan. Rupanya dia harus bersabar sampai waktu itu tiba, yang entah kapan mereka akan menjadi suami istri.
"Kalau begitu kita menikah saja sekarang! Bagaimana?" Leo menawarkan solusi agar dia bisa mencium Ayu secepatnya.
Mendengar ucapan Leo itu, Ayu menjadi gugup, deg-degan dan antara malu tapi mau. Dia merasa kalau itu kecepatan, jika mereka menikah sekarang. Apalagi mereka masih kuliah, meski Leo sudah mau di wisuda, tetapi Ayu masih tingkat dua. Dia nggak mau kalau jadwal kuliahnya jadi berantakan jika dia hamil dan punya anak kelak.
Ayu sudah berpikiran jauh sampai anak. Padahal hal itu belum tentu akan terjadi padanya, meski mereka menikah sekarang.
Leo ingin menikah agar bisa mencium Ayu sepuasnya, atau menyentuh gadis itu sepuasnya. Selain itu, dia juga bisa mengikat Ayu dan menjadikan miliknya seorang, sehingga tidak ada yang bisa merebut darinya.
Makanan yang tadi dipesan oleh Leo, akhirnya dimakan oleh mereka berdua. Ini menjadi makan malam romantis pertama mereka setelah menjadi pasangan kekasih. Keduanya sangat menikmati waktu kebersamaan itu, tanpa tahu keadaan diluar sana.
***
Mei dan Agustus mencari keberadaan Ayu. Mereka tidak bisa menemukan putri semata wayang yang sudah membuatnya cemas dari tadi. Dihubungi lewat telepon seluler pun jawabannya sedang tidak aktif.
"Kemana sih perginya anak itu?" Mei kesal karena kakinya sudah pegal memutari ballroom hotel dan taman. Namun, tetap saja Ayu belum bisa mereka temukan.
__ADS_1
"Papa takut terjadi sesuatu dengan Ayu," kata Agustus yang selalu menganggap putrinya itu masih anak kecil.
"Kita cari Aprilio dan minta bantuan dia untuk mencari Ayu!" ajak Mei dan menarik tangan Agustus.
Saat mereka berjalan memasuki ballroom hotel lagi, Mei menabrak tubuh seseorang. Dia pun hampir terjatuh dan untungnya orang yang ditabrak barusan langsung menarik tangan dan pinggang Mei. Kini istri dari Agus berada dalam pelukan orang itu.
"Maaf, Tuan. Aku tidak sengaja!" ucap Mei sambil menundukkan kepalanya tanpa melihat siapa yang sudah dia tabrak. Hanya satu hal yang Mei tahu, kalau gender yang sudah dia tabrak adalah seorang pria.
"Apa yang kamu lakukan pada istriku!" Agustus menarik tubuh Mei dari pelukan laki-laki itu.
"Dia duluan yang telah menabrak aku," balasnya.
Suara yang familiar bagi Mei kini terdengar olehnya. Saat dia mendongakkan kepala betapa terkejutnya dia, mengetahui orang yang sudah dia tabrak dan memeluknya barusan.
***
Siapa yang sudah Mei tabrak barusan? Apa yang akan terjadi dengan hubungan keluarga Ayu dan Aprilio, begitu mereka mengetahui hubungan asmara Ayu dan Leo?
Tunggu kelanjutannya ya. Jangan lupa untuk klik like, favorit, hadiah, dan Vote-nya juga ya. Dukung aku terus. Terima kasih.
Sambil menunggu up bab Ayu selanjutnya. Mampir juga nih ke karya teman aku sesama Author. Ceritanya bagus loh.
MASA LALU SANG PRESDIR
(21+)
By : Enis Sudrajat
"Aaaaaah ... kamu bikin aku cemas aja sayang!" Richard memeluk Annet dan menyelusupkan wajahnya ke dada Annet yang terbuka.
"Rich sakit! pelan dong bulu di muka kamu baru tumbuh itu." Annet membuka kancing kaos berkerah yang dikenakan Richard.
Richard malah terkekeh, menarik tali pita baju Annet yang tak bertangan lalu membuka melempar pakaiannya sendiri.
"Aku nggak tahan sayang, aku ingat kamu sejak di tempat gym tadi, entah kenapa jagoan ku ini nggak bisa kompromi sama sekali!" Richard menunjuk ke bawah perutnya.
"Memang kenapa?" Annet berlaga pilon.
"Coba lihat buka sendiri!"
Annet turun dari pangkuan Richard dan membuka celana panjang Rich, membuka pelindung terakhirnya yang sudah kelihatan mengembung karena terdorong sesuatu dari dalam.
__ADS_1
"Wow ... maksimal banget Rich!" Annet mengelusnya perlahan.
"Habis ikut nge-gym begitu kelakuannya, kamu harus bertanggungjawab, pakaikan sarung pelindungnya, sudah nggak tahan jagoan ku mencari tempat berendam." Annet tersenyum mengambilkan balon pembungkus senjata kesayangan Richard.