
Besok paginya, Ines bangun pagi-pagi sekali untuk meracik obat penghilang mabuk untuk Nicolas, ia juga merasa tidak enak karena memukul kepala Nicolas sampai 'KO' tadi malam.
"Mudah-mudahan dia tidak mengingat kalau aku pukul kepalanya tadi malam," gumam Ines, ia buru-buru ke dapur untuk meracik minuman penghilang mabuk.
Ia tidak ingin lelaki itu ketahuan mabuk sama si Nyonya besar. Jika ketahuan mabuk, maka ia dapat masalah.
“Selamat pagi Non, maaf saya kesiangan,” ucap Bi Noni.
“Pagi juga Bi, bukan Bibi kesiangan, Aku yang sengaja bangun lebih pagi, ingin meracik ini,” ucap Ines menunjukkan gelas.
“Itu apa, Non?”
“Obat penghilang mabuk.”
“Apa itu untuk Pak Nico?” tanya wanita paruh baya itu melirik isi dalam gelas.
“Ya, jangan bilang-bilang sama siapa-siapa kalau dia mabuk ya, Bi,” ujar Ines.
“Siap, Non.”
Ines sangat akrab sama semua orang di rumah suaminya, kecuali dengan Novi adik perempuan suaminya, wanita itu selalu menganggap Ines, wanita kampung penipu. Ia selalu bilang kalau Ines dan kakeknya penjahat, karena Ines tidak mau bertemu dengan Nicolas sebelum menikah.
Ines membawa minuman itu ke dalam kamar
“Ko, bangunlah, minum ini biar mabuknya hilang,” ucap Ines.
“Pergilah. Jangan menggangguku, Aku masih ingin tidur,” ujar Nico, menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya, kepalanya terasa sakit karena digebuk sama Ines.
'Apa dia tau kalau aku memukul kepalanya? Lagian kenapa dia ingin memperkosaku' ucapnya dalam hati.
“Aku membawakan teh lemon, untuk menghilangkan rasa pusing mu."
Mendengar itu, ia bukannya senang melihat perhatian yang dikasih Ines, dia bangun dan berdiri.
“Dengar, Aku tidak butuh perhatianmu, kamu tidak mengurusi dan membuatku tidak malu di rumah ini, Aku sudah sangat senang,” ujar Nicolas, lalu ia bangun, tidak sengaja tangan nya menyentuh gelas tersebut dan pecah. Ia tidak perduli, masuk ke kamar mandi dan membanting pintu dengan keras.
Ines mengedipkan ke dua matanya melihat kemarahan sang suami.
‘Apapun yang aku lakukan selalu salah di matanya’ ucap Ines dalam hati, ia memungut pecahan gelas lalu keluar dari kamar.
Di kamar mandi Nicolas menguyur kepalanya yang dengan air dingin, rasa pusing itu sedikit lebih berkurang, keluar dari kamar mandi dan berpakaian rapih lalu turun ke bawah, dia pergi tanpa serapan . Bagi Nicolas rumah keluarganya sudah seperti neraka, tidak ada kedamaian dan ketenangan. Omanya selalu menekan mereka semua.
“Aku berangkat.”
“Nico, kamu tidak serapan dulu?’ tanya Maminya dari dapur.
__ADS_1
“Nanti saja di kantor Mi,” jawab lelaki berkulit putih itu lalu pergi.
“Koko kenapa lagi, Mi?" tanya Novi.
“Sudah duduk saja habiskan serapanmu,” hardik Linda pada putrinya yang selalu ingin mencampuri urusan Nicolas. “Mereka berdua bisa menyelesaikannya."
“Makanya wanita sebelum menikah pahami dulu seperti apa calon suaminya, cocok apa tidak, nyambung apa tidak? Jangan asal menikah aja,” ketus Novi, sindiran itu ia tujukan untuk Ines.
“Novi, jangan mulai lagi, nanti Oma turun mendengar semuanya,” tegur Maminya lagi.
Ines hanya diam, tatapan semua orang padanya membuatnya susah untuk menelan makanan di piringnya, ia wanita yang sangat tegar. Ines sudah tahu dampak dari keputusan yang ia ambil, dijodohkan dengan lelaki dari kota tidak akan mudah untuk menjalani hubungan itu. Tetapi dia sudah bertekad akan bertahan semampunya apapun yang terjadi, semua itu demi kakeknya.
“Nes, kalau kamu sudah selesai serapan datanglah kemari,” ucap Linda menatap menantunya.
“Baik Ma,” sahut Ines.
Ibu linda membawa kotak obat dan mengobati tangan ines. Ia melihat tangan wanita itu terluka.
Hendra sepupu Nicolas baru pulang, karena shift malam di rumah sakit.
Lelaki itu memilih berkarir sebagai dokter di rumah sakit pemerintahan , ia berbeda dari semua sepupunya semua orang di keluarga itu bekerja di perusahaan keluarga.
“Kenapa, Ai?” Hendra ikut duduk.
“Aku kurang hati- hati Ko, jadi kena pecahan kaca, dia selalu menutupi kelakuan suaminya dari kelurga, Ines ingin ketenangan di rumah itu, padahal tangan Ines terkena beling, gelas pecah yang terkena tangan Nicolas.
“Sini aku obatin, ada Dokter di sini,” ujar Hendra dengan ramah.
“Jadi babu di rumah sakit pemerintah,’ ujarnya bergurau.
“Ah, kamu merendah, masa profesi dokter dibilang babu,” timpal Linda.
*
Di sisi lain Nicolas tidak konsentrasi bekerja, efek minuman masih terasa, ia memutuskan pulang lagi ke rumah.
“Ko, kok pulang lagi?’ tanya Novi saat berpapasan di pintu.
“Kepalaku sakit, aku ingin tidur.”
“Ya, sanalah istrimu ada di kamar lagi mengeram,” ujarnya meledek.
Nicolas hanya acuh saat adiknya meledek istrinya, masuk ke kamar. Ines saat itu lagi merapikan kamar ia berpikir ada barang yang ketinggalan makanya Nicolas pulang.
“Apa ada yang ketinggalan?”
__ADS_1
“Memangnya kalau Aku pulang harus ada yang ketinggalan?”
“Tidak, aku pikir karna masih siang,” ucap Ines
“Apa aku buatkan minuman hangat untukmu?” tanya Ines lagi.
“Tidak usah.”
Nicolas masuk ke kamar mandi lalu keluar hanya menggunakan handuk , memperlihatkan kulit tubuhnya yang putih terawat, sangat berbanding balik dengan wajah Ines yang mirip kuali gosong.
Ines memalingkan wajahnya, Nikolas menyadari wajah Ines yang memerah ia tersenyum sinis.
“Aku ingin tidur sebentar.” Nicolas menatap Ines.
“Oh, baiklah aku akan keluar.”
“Terimakasih karena kamu mengerti.”
Ines hanya bisa diam dan menahan perasaan saat sang suami mengusirnya secara tidak langsung dari kamar mereka, ia turun dan duduk di taman di dekat kolam renang membawa buku, di sana juga ia kembali mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari sang adik ipar.
“Apa kamu diusir dari kamar? Aku sudah menduga itu,” ujar Novi duduk di kursi tidak jauh dari Ines.
“Aku hanya ingin dia istirahat,” jawab Ines.
“Bohong, dia pasti mengusir mu. Eh! Gadis udik. Kamu itu tidak diterima di rumah ini. Apa yang kamu lakukan dengan kakekmu sangat menjengkelkan,” bisik Novi, dia melihat kanan-kiri.
Saat mendengar kakek yang paling dia cintai dihina dan direndahkan, Ines ingin rasanya melempar bunga ke wajah wanita bermulut lepes itu
Ines hanya bisa meremas ujung bajunya menahan emosinya, kalau hanya dia yang hina, itu sudah hal biasa, tetapi jangan kakek tercintanya. Apapun dia lakukan untuk menyenangkan hati sang Kakek termasuk menikah dengan Nicolas seperti saat itu.
“Kamu tahu … Koko itu punya kekasih yang sangat cantik bernama Naura, kalau kamu dan kakekmu tidak berkerja sama untuk menghasut Oma, mereka sudah menikah. Jadi, kamu tidak dibutuhkan di rumah ini. Oma hanya ingin uang kakekmu dia tidak perduli dengan pernikahan kalian,” ujarnya lagi.
Apa yang dikatakan Novi memang sangat menyakitkan, tetapi mendengar kebenaran itu akan lebih baik, walau terkadang menyakitkan. Ines akhirnya tahu kalau Nicolas punya mantan kekasih yang bernama Naura.
“Kenapa kamu hanya diam saja? Kamu tidak bisu kan?” tanya Novi.
“Kamu kenapa sangat membenciku?” tanya Ines membuka mulutnya.
“Karena kamu dan kakekmu merampas kebahagian Nicolas, kamu pikir karena banyak uang bisa membeli cinta? Lihat … betapa menderitanya dia setelah kalian menikah, semua teman-temannya pasti akan menertawakannya karena menikah dengan orang-orang sawah seperti kamu,” sindir Novi.
“Ini pakaian sopan,"ujar Ines.
“Pakaian sopan apaan? Kamu terlihat seperti orang-orangan sawah memakai baju longgar dan rok panjang itu terus. Kamu tidak bisa berdandan cantik sedikit?”
'Aku bukan gadis kampung seperti yang kamu pikirkan anak kecil, hanya, aku tidak ingin pamer seperti kamu' ucap Ines dalam hati.
__ADS_1
Bersambung
Bantu vote like, komentar, kasih hadiah kalau kalian berkenan, terimakasih.