
Melihat kondisi perusahaannya tidak bisa terkendali lagi, Heru terpaksa meminta bantuan Bu Narti untuk membujuk Ines agar ia mau turun tangan untuk mengurus perusaan milik kakeknya. Setelah kehilangan kakek dan setelah melahirkan Keanu, Ines banyak berubah, ia jadi sosok wanita yang tidak banyak bicara, baik sama Marta maupun Bu Narti.
Jadi untuk bicara dengannya mereka semua harus hati-hati, Heru tidak berani bicara dengan Ines, ia meminta bantuan Bu Narti. Pagi itu sehabis serapan. Bu Narti mengajak Ines untuk bicara, ia mengajak Mommy Keanu itu duduk di taman samping panti asuhan .
“Apa Bi?” tanya Ines, ia menghentikan kursi roda milik Bu Narti, wanita itu masih belum sembuh, ia masih menggunakan kursi roda.
“Begini Nes, kamu akan mengurus perusahaan kita besok.”
“Kenapa Harus Aku? Ada Heru dan Bibi yang mengurus, lakukan apapun aku tidak akan mengurus.”
“Nes, perusahaan ini semuanya diserahkan Kakekmu atas namamu.”
“Aku sudah bilang dari dulu Bi aku-”
“Hanya kamu yang bisa menghentikan mereka Nes, kamu hanya perlu menghentikan para penjahat itu selanjutnya biarkan Bibi dan Heru yang yang mengatasinya.”
“Tapi Aku tidak tertarik, Bi.”
“Itu milikmu Nes, perusahaan, rumah dan aset lainya itu milikmu dan Keanu Bibi dan Heru hanya mengurusnya. Semuanya atas nama kamu, karena itulah mereka ingin kamu yang memimpin perusahaan.”
“Baiklah, besok Aku akan datang ke perusahaan.”
“OH, syukurlah.” Bu Narti menghela napas panjang.
Setelah sekian tahun menolak mengurus perusahaan keluarga, Akhirnya Ines bersedia melakukan semuanya, Heru dan Bu Atin menunjukkan wajah bersemangat, setelah bertahun -tahun menerima penolakan dan penghinaan dari semua pemilik saham dan rekan perusahaan, akhirnya mereka berdua bisa mengangkat wajahnya di depan semua orang karena Ines ada bersama mereka.
*
Ines akhirnya tiba di Jakarta , ia datang dengan Bu Narti terbangkan menggunakan helikopter, sementara Marta dan Hendra sudah di rumah yang di Jakarta.
“Apa bibi yakin sudah kuat?’ tanya Ines menatap Bu Narti wajahnya masih khawatir.
__ADS_1
“Bibi sudah kuat, Aku mau tunjukkan pada mereka semua, kalau kamu bersama kami.”
“Kamu tidak tahu Nes, selama ini mereka menyebar rumor kalau Aku dan Bibi sengaja mengusir kamu keluar negeri agar Aku dan Bibi yang menguasai perusahaan.”
“Siapa yang menyebar gosip seperti itu?” Ines menatap Heru yang duduk di sampingnya.
“Siapa lagi kalau bukan wanita gila itu.”
Ines menyengitkan kedua alisnya mendengar sebutan wanita gila yang dilontarkan Heru. Selama dia mengenal lelaki bertubuh tinggi tegap itu , ia belum pernah mengatai seseorang seperti itu.
“Apa maksudnya Bu Marisa?”
“Ya, dia sudah tua tapi kelakuannya semakin tidak masuk akal,” ucap Heru lagi.
“Bagaimana dengan Pak Gunawan?”
“Nicolas dan-”
“Ah, gunawan Papinya Nicolas Nes, sampai kapan kamu membenci lelaki itu,” ujar Heru dengan suara membujuk.
“Aku tidak akan melakukannya,” ujar Ines, ia membuka laptop yang ada di pangkuannya.
“Selama kamu di Jerman, dia selalu datang mencari kamu, dia dulu membantu kami saat ada masalah besar di perusahaan, tadinya Aku tidak suka dengannya sama dengan Omahnya.”
“Aku tidak ingin membahasnya Heru,” ucap Ines dengan suara terdengar tegas, bahkan tidak mengalihkan wajahnya dari layar laptop yang ada di pangkuannya.
‘Kenapa kamu sangat berubah Nes … kamu bukan Ines yang kami kenal dulu. Ines yang dulu suka bercanda . Sekarang … Ines yang sekarang bersikap dingin, hampir tidak pernah senyum’ ucap Heru dalam hati.
Setelah Ines terbang ke Jerman, Nicolas mencari Juga ke Jerman, tapi karena Bu Narti tidak memberikan alamat, Bu Narti juga meminta pihak KBRI Jerman tidak memberitahukan alamat Ines, Jadi Nicolas tidak menemukan Ines.
Tapi belakangan Heru dan Bu Narti merasa kasihan pada Nicolas setelah tahu kebenaran kalau Naura menjebak Nicolas, bahkan ia tertidur sampai siang saat di rumah sakit saat itu. Ternyata Nicolas juga di beri obat tidur, kebenaran itu terungkap saat Bu Narti masuk ke rumah sakit dan Nicolas datang menjenguk. Salah satu perawat mengaku pada Heru kalau Naura memaksanya memberi Nicolas obat. Pengakuan suster membuat Heru menyelidiki kebenaran tentang hubungan Naura dan Nicolas di masa lalu, di sana ia menemukan Fakta dimana Nicolas korban dari penghianatan Naura.
__ADS_1
Sebelumnya Heru berpikir kalau Nicolas mau menikah dengan Ines demi harta yang dijanjikan Pak Darto. Ternyata setelah Pak Darto meninggal, Nicolas tidak mau menerima uang pemberian Pak darto, ia memilih membuka perusahaan sendiri.
“Mungkin dia ada di sana Nes, sebab Pak Gunawan masih memiliki saham di sana.”
“Tidak masalah bagiku,” jawab Ines acuh.
Tidak lama kemudian mobil mereka akhirnya tiba di perusahaan , Ines turun, ia menatap kearah taman kecil di depan perusahaan, saat masih kecil Ines kerap di bawa Papinya ke perusahaan dan ia akan bermain di taman.
“Nes, kamu tidak apa-apa?”
Ines menghela napas panjang lalu ia mengangguk,. “Apa kolam ikan di taman itu tidak ada lagi?” tanya Ines melirik Bu Narti.
“Tidak ada lagi, saat Marisa memimpin perusahaan, dia menutup kolam ikan itu. Ayo masuk mereka sudah menunggu kita,” ucap Bu Narti.
Masuk ke ruangan rapat, Marisa dan Duha kaget saat melihat Ines datang bersama, Marisa dan Bu Narti sudah pulih. Di depan semua orang Ines terlihat sangat berbeda dengan Ines enam tahun yang lalu. Saat ia dicerce dengan berbagai pertanyaan ia tampak tenang.
“Kami ingin perusahaan ini dipimpin orang yang berpengalaman,” ujar salah satu pemegang saham, mereka orang-orang yang menolak kepemimpinan Heru.
“Perusahaan ini tidak butuh orang yang berpengalaman. Perusahaan ini butuh orang yang mau bekerja keras dan ada kemauan membangun perusahaan untuk maju,” ujar Ines menatap semua orang dalam ruangan tersebut.
Ines menegaskan Heru orang tepat untuk memimpin perusahaan, ia bahkan meminta para pemegang saham untuk membuat pilihan. Ines mengatakan ia siap membeli saham mereka semua jika ingin menjualnya.
“Apa cucu Darto punya uang sebanyak itu?” tanya mereka berbisik seperti lebah.
“Saya tidak perduli dengan nasib perusahaan ini dan saya tidak tertarik ikut andil di dalamnya. Tapi Heru, peduli dengan nasip perusahaan ini dan nasip ribuan karyawan yang menggantung hidupnya di perusahaan, dia sudah puluhan tahun ikut kakek, jadi untuk pengalaman tidak perlu diragukan.”
“Heru tidak ada hubungan keluarga dengan Pak Darto, kenapa dia yang pimpin perusahaan?’ Marisa buka suara juga.
“Heru sudah seperti saudara bagiku, saya rasa itu cukup,” jawab Ines.
Ines menolak usul dari Marisa, dengan berani Ines mengatakan kalau perusahaan saat ini tidak ada lagi hubungannya dengan keluarga Darmawan sebagai pendiri perusahaan. Ines bahkan mengganti nama perusahaan yang sudah melekat selama berabad-abad ditubuh perusahaan tersebut.
__ADS_1
Bersambung