
Nicolas marah saat Ines meminta ingin pergi, tadinya ia sudah memikirkan cara untuk memperbaiki hubungan mereka. Nicolas ingin memperbaiki sikap seperti yang sudah ia janjikan ke kakek Ines.
“Ayo kita tinggal bersama dan memperbaiki semuanya,” ujar Nicolas malam itu.
“Apa yang perlu diperbaiki? Pak Nicolas tidak ada yang salah.”
“Nes, kamu pasti marah padaku. Kamu boleh mengatakan semuanya, kamu boleh memarahiku. Kamu boleh memaki-makiku jika itu bisa mengobati kemarahan mu. Tapi jangan main pergi begitu aja, jika kamu pergi lagi setelah apa yang sudah aku lakukan padamu … itu akan membuatku bertambah buruk,” ucap Nicolas.
“Aku sudah melupakan semuanya Pak Nicolas. Mari kita melupakan masa lalu, kita berjalan ke depan menjalani hidupku kita masing-masing," ucap Ines mencoba tersenyum.
“Nes, pernikahan bukanlah hal yang bisa kamu anggap sepele. Kamu memintaku untuk bersama lagi dan Aku setuju, Aku juga sudah berjanji pada kakekmu akan bersamamu selamanya.”
“Aku tidak ingin bertengkar Pak Nicolas, Aku sudah lelah,” ujar Ines memegang kening.
Apa yang dipikirkan Ines berbeda dengan yang ia hadapi saat ini. Tadinya ia pikir Nicolas akan langsung setuju saat ia minta berpisah, tetapi kali ini Nicolas justru lebih marah. Nicolas tidak setuju berpisah ia ingin memperbaiki hubungannya dengan Ines.
“Berikan Aku kesempatan Nes, Aku akan memperbaiki semuanya.”
“Tidak. Terimakasih, kamu tidak perlu menjagaku Aku bisa jangan diri sendiri.”
“Aku sudah berjanji pada Kakekmu.”
“Kakekku sudah ada di dalam tanah Pak Nicolas, tidak usah memikirkannya, pikirkan tentang dirimu dan perasaan wanita yang kamu cintai.”
Dari rumah Ines sudah mempersiapkan diri untuk tidak marah dan berdebat dengan Nicolas, ia manarik napas panjang dan melepaskan dengan tenang.
“Semua sudah berakhir Ko, mari kita berbaikan.” Ines menyodorkan tangan.
“Apa tidak ada jalan lain?” tanya Nicolas menatap Ines dengan mata dipenuhi bendungan air mata.
“Ini cara yang terbaik Pak Nicolas.”
“Berikan Aku kesempatan untuk memperbaiki kesalahanku, semua orang pernah berbuat salah Ines.”
“Mami memintaku meninggalkanmu , dia memilih wanita itu. Maka itu, mari kita berpisah baik-baik.” Ines kembali menyodorkan tangannya, wajah Nicolas semakin mengeras lalu ia pergi meninggalkan Ines tanpa mengucapkan sepatah katapun.
“Baiklah, mari kita akhiri dengan cara yang seperti ini,” gumam Ines, ia juga berdiri, ia memilih pulang. Ines menghentikan taxi yang melintas di depan cafe. Sementara Nicolas masih duduk diam di dalam mobilnya, setelah Ines pergi Nicolas melajukan mobilnya menuju Bar, kalau dulu ia datang ke sana karena dipaksa menikah. Sekarang ia datang lagi kesana karena dipaksa berpisah, ia merasa hidupnya berputar-putar disitu-situ saja.
Nicolas akan mabuk lagi, untungnya sebelum ia mabuk sudah mengajak Axell untuk minum. Saat Pak Dokter itu tiba di sana, Nicolas sudah sangat mabuk, ia mengoceh dan mulai membuat keributan menganggu pengunjung lain.
__ADS_1
Tidak ingin sahabatnya dijadikan perkedel sama pengunjung lain, Axell membawa Nicolas keluar dari Cafe mengajak duduk di kursi panjang diluar bar.
“Kenapa lagi sekarang Bro?” tanya Axell ia menghela napas berat , ia kasihan melihat hidup sahabatnya tersebut.
“Xell … sahabatku, temanku mari minum denganku,” ucap Nicolas.
“Tenanglah, jangan memancing keributan, yang ada nanti kamu dihajar,” ujar Axell menasehati, saat Nicolas mulai teriak-teriak dan ingin melempar batu ke kaca gedung
“Biarkan saja, biarkan saja Xell kalau itu bisa menyembuhkan sesak ini,” ucap Nicolas memegang dadanya.
“Apa yang terjadi?”
“Ines … dia tidak memberiku kesempatan untuk menjelaskan, bahkan tidak bertanya kenapa malam itu aku tidak datang.”
“Itu artinya dia tidak ingin ribut Bro, baguslah.”
“Dia ingin pergi, dia bilang kesepakatan kami sudah berakhir,” ujar Nicolas dengan suara tidak jelas khas orang mabuk.
“Bukankah itu yang kamu menginginkan?” tanya Axell.
“Kamu salah. Kamu salah Aku tidak ingin dia pergi,” balas Nicolas lagi.
“Itu artinya kamu mencintainya?” tanya Axell memperjelas.
“Ya itu namanya cinta Bro, sudahlah, mari Aku antar pulang,” Axell membawanya ke mobil ingin diantar ke apartemen Naura. Nicolas menolak dibawa ke sana.
“Baiklah, Aku akan membawa ke rumahku.” Nicolas menyetir ka arah rumah, membawa lelaki yang mabuk itu ke rumahnya.
“Kepalaku sangat pusing, “ keluh Nicolas lalu ia tidur di sofa di rumah Axell.
*
Disisi lain.
Ines sudah bersiap-siap akan berangkat, seperti yang sudah dipersiapkan, Ines akan berangkat dengan Marta dan satu orang asisten rumah tangga yang biasa ikut dengan Ines saat di Jerman.
“Apa kamu sudah yakin, Nak?”
“Ya Bi, Aku sudah yakin, ada Marta bersamaku. Aku harap perjalanan ki ini akan semakin menyenangkan.”
“Baiklah, setelah semua urusan di sini selesai Aku dan Heru akan datang,” ucap Bu Narti.
“Tidak usah Bi, jangan buru-buru, urus saja perusahaan yang baru dibeli kakek. Karena itu keinginan orang tua itu sejak lama,” ujar Ines.
__ADS_1
“Baiklah, kami akan mengurus semuanya. Aku akan resmi mengambil alih semua perusahaan.”
“Bagaimana dengan Omanya Nicolas Bi, bukannya dia menolak meninggalkan perusahaan dan rumah itu?” tanya Marta penasaran.
“Maka itu kita akan tunjukkan padanya kemarahan sesungguhnya,” ujar Bu Narti.
Dari dulu Ines tidak pernah tertarik membahas mengenai perusahaan milik kakeknya, ia menyerahkan semuanya pada Bu Narti dan Heru.
“Bagaimana pendapatmu Nak?" tanya Bu Narti, ia bertanya pendapat Ines, walaupun ia akan mendapat jawaban yang sama.
“Terserah Bibi saja,” jawab Ines.
“Kami berencana menambah pengawas di panti dan tenaga pengajar untuk sekolah Nes, itu keinginan kakekmu. Dia ingin panti asuhan itu tetap berjalan dengan baik dan sekolah dan tempat ibadahnya diperbaiki.”
“Itu bagus Bi, lakukan saja Aku menyetujui.” Ines menandatangi beberapa dokumen menggantikan sang kakek.
Setelah membereskan semuanya, Ines masih banyak diam, ia selalu melihat ke arah gerbang rumah yang ditempati Marta, dalam hati kecilnya ia masih berharap melihat lelaki itu untuk terakhir kalinya. Bukan hanya Ines yang melihat kearah pintu Marta juga melakukan hal yang sama, bedanya Marta sibuk mengirim pesan pada seseorang.
“Apa yang kamu harapkan Ines … dia tidak akan datang, percayalah, semua laki -laki itu sama saja, ucapan mereka hanya manis di bibir saja," ucap Marta.
Apa yang dikatakan Marta mengundang perhatian Ines.
“Apa kamu menunggu seseorang juga,Ta?”
Marta hanya menggeleng, tapi wajahnya menunjukkan hal yang lain.
"Baiklah. Mari kita berangkat,” ucap Ines mencoba tegar.
“Jangan khawatir, fokus saja untuk menjaga kesehatanmu, Bibi dan Heru akan mengurus semuanya,,” ucap Bu Narti.
“Bibi hati-hati, Aku dengar Oma Nicolas orang yang nekat.” Marta mengingatkan.
Saat menunggu di Bandara, Ines dan Marta lebih banyak diam, mata mereka berdua sesekali menatap ke pintu masuk.
“Nes … percaya mereka tidak akan datang,” ucap Marta.
Ines mengangguk dan menarik napas panjang, lalu ia berkata;
“Baiklah, Aku akan melupakannya, mari kita pergi.”
Beberapa menit kemudian Ines dan Marta masuk ke pesawat dan terbang meninggalkan Nicolas dan meninggalkan semua kenangan buruk itu.
Bersambung.
__ADS_1