Buka Hatimu Kembali Untukku

Buka Hatimu Kembali Untukku
Diincar Penjahat


__ADS_3

Nicolas membawa Ines menjauh dari penjahat yang  mengincar mereka, ia juga menelepon anak buahnya agar lebih memperketat penjagaan.


“Apa kita ke rumah dulu apa ke rumah sakit ?” tanya Ines menoleh ke arah Nicolas.


“Rumah sakit dulu, keadaan Ko Hendra semakin memburuk, kabarin Heru agar lebih cepat datang ke Jakarta, kami akan mengadakan rapat darurat,” ujar Nicolas.


“Apa Heru juga mengetahui ini?”


“Kalau bukan dia, kami juga tidak akan tahu kalau perusahaan di salah gunakan Duha sama Deon, mereka berdua penjahat yang licik,” ujar Nicolas, tatapan matanya kesal saat menyebut nama adik sepupunya dan pamannya.


“Apa yang kalian rencanakan?”


“Kita akan mengumpulkan para pemegang saham untuk mengambil langkah selanjutnya, kalau dibiarkan begini terus, polisi akan memasukkan perusahaan kita dalam daftar hitam mereka dan kita akan diawasi terus.”


“Kalau  mengenai perusahaan Aku akan siap membantu,” ucap Ines.


‘Hanya tentang perusahaan saja kalau yang lain tidak mau?” Nicolas melirik wajah Ines sekilas.


“Baiklah.”


Setelah beberapa lama  berkendara dari pemakaman  ke rumah sakit, akhirnya tiba juga.


“Lalu bagaimana dengan  Pak Muh?” tanya Ines, ia menghawatirkan  supirnya.


“Jangan khawatir orang -orangku sudah membawanya pulang dia masih belum  bangun, tapi sudah aman.”


“Syukurlah, Aku tidak ingin orang lain dapat masalah karena Aku.”


“Tidak, dia sudah diantar pulang ke rumah. Kita ke ruangan Ko Hendra saja.”


Mereka berdua berjalan bersama menuju kamar Hendra, saat mereka berjalan bersama, Papi dan Gunawan ternyata ada di sana, mereka berdua terkejut melihat Nicolas datang bersama dengan Nicolas.


“Apa mereka sudah berbaikan?” tanya Linda berbisik.


“Aku berharap itu terjadi,” balas Gunawan.


Untuk kedua orang tua Nicolas mereka berharap anak mereka bisa berbaikan dengan Ines agar bisa melihat  cucu mereka setiap saat. Saat  berpapasan dengan mereka ternyata Ines hanya  menyapa dengan anggukan kepala, lalu melewati ibu mertuanya. Bukan Ines ingin bersikap sombong dan tidak sopan pada kedua orang tuanya, tapi ia belum sap memaafkan semuanya, ia tidak semarah dulu lagi, tetapi untuk menerima  keluarga  dari sang suami.


Menyadari Ines tidak menyapa orang tuanya Nicolas hanya mengangguk pada orang tuanya meminta mereka memaklumi sikap Ines.


“Aku berharap kemarahan dalam  hatinya  segera hilang, Pi,” ujar Linda setelah Ines  tidak mengucapkan apa-apa pada mereka berdua.


“Bersabarlah Mi, semua butuh proses, kita masih bersyukur karena kita masih diberi  kesempatan untuk bertemu Keanu.

__ADS_1


“Aku akan ke kamar mandi,  duluan saja,” ucap Ines  meminta sang suami masuk duluan ke ruangan Hendra.


“Baiklah.” Nicolas mengangguk, ia melihat Ines berjalan ke arah kamar mandi, ia tahu apa yang dipikirkan Ines.


Dalam kamar mandi Ines membasuh wajahnya dan menatap wajahnya di pantulan kaca, bertemu orang tua Nicolas lagi membuat situasi hatinya tidak baik, ia tidak ingin bersikap tidak hormat pada orang tua, tetapi ia belum bisa memperlakukan orang tua Nicolas sebagai ibu mertua selayaknya.


‘Aku belum bisa, hatiku ternyata keras. Mungkin karena luka itu dulu terlalu dalam dan susah untuk sembuh’ ucap Ines dalam hati.


Setelah dari kamar mandi, ternyata ia tidak menyusul Nicolas ke dalam kamar Hendra,  ia duduk di kursi taman rumah sakit menata hati yang masih menyimpan rasa sakit, ia mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya dan mengirim pesan.


[Nicolas,  bersama suamimu' kan? Datanglah ke taman Aku duduk di sini, Aku ingin bicara denganmu]


[Baik} balas Marta.


Ia memberikan waktu untuk bicara dengan Nicolas jadi ia menunggu di luar ruangan, kebetulan Ines memintanya datang.


“Apa kamu baik-baik saja, bagaimana keadaan suami?”


“Keadaannya semakin menurun, tubuhnya tidak kuat lagi, tadi malam dia tidak bisa tidur satu malam, dia memintaku mencabut alat bantunya. Dia memintaku membunuhnya, bagaimana Aku melakukannya,” ujar Marta, air mata dari pipinya kembali berlinang.


“Kenapa dia ingin melakukannya? Oh  ya Nes … tadi malam dia memberikan ini padaku memintaku memberikannya padamu ataupun pada Nicolas.” Marta memberikan sebuah kunci dan password.


“Apa ini …?” Ines bingung.


“Oh, astaga … Apakah ini yang mereka incar.” Ines tiba-tiba panik melihat kanan kiri.


Ia mengawasi sekeliling, dugaannya benar, tidak jauh dari mereka ada dua orang laki-laki pura-pura mengobrol.


“Ada apa?” tanya Marta ikut panik.


“Kita dalam bahaya,  ada orang yang mengintai dari kemarin dan mereka ada di sini.”


“Astaga, a-apa yang mereka inginkan?” Marta sudah panik duluan.


“Jangan panik, ini berikan pada Nicolas lagi,” ucap Ines.


Ia memberikan kunci itu pada Marta lagi meminta memberikan pada Nicolas, sementara dia mencari cara untuk mengalihkan perhatian kedua lelaki yang mengawasinya.


“Aku takut … sebenarnya apa yang terjadi.” Marta menangis ketakutan.


“Jangan panik, mereka hanya mengincar ku, mereka belum tahu tentang kunci itu.”


“Bagaimana dengan kamu?” tanya Marta dengan tangan  gemetar, selama ini ia tidak tahu kalau ada seseorang yang mengintai Hendra dan Ines, mendengar  ada orang jahat   mengawasi mereka sebagai orang awam yang tidak pernah terlibat dengan  kejahatan Marta sangat shock.

__ADS_1


“Jangan hiraukan Aku, berikan saja kunci itu pada Nicolas, kalau benda jatuh ke tangan orang yang salah bisa bahaya,” bujuk Ines.


Mendengar hal itu Marta bukannya berani ia malah semakin ketakutan, ia takut  bertindak salah, “pergilah tolong,” ujar Ines menatap sanga sahabat dengan tatapan memohon.


Dengan tubuh kaku seperti patung ia berjalan kembali menuju  kamar sang suami, saat tiba di lorong rumah sakit, ia melihat lelaki yang ingin mendekatinya, kebetulan sekali Axell lewat  ia datang ke rumah sakit karena bertemu dengan dokter.


“Dok, apa kabar?” Marta langsung mengendong tangan Axell.


“Ha ….” Axell menoleh kanan kiri, selama ini Marta tidak pernah bicara dengannya jangankan bicara menatap saja ia enggan melakukannya, tetapi ia dibuat kaget saat wanita  berambut pendek itu tiba-tiba menyapa dan merangkul tangannya.


“Diam Lah jangan berpikir macam-macam,” ujar Marta setengah menggertak.


“Ada apa?”


“Antarkan Aku pada Nicolas.”


“Kenapa?” tanya Axell ikut panik, karena Marta memegang lengannya dengan kuat, seolah-olah Marta melihat sosok yang menakutkan.


“Jangan banyak tanya!”


“Marta berjalan dengan tergesa-gesa dan tiba di depan pintu kamar suaminya, barulah ia melepaskan tangan Axell, lalu ia masuk buru-buru di susul Axell dari belakang . Ternyata di ruangan Hendra ada Heru dan kelua orang tua Nicolas.


“Ada apa Ta.”


“Pak Nicolas … I-Ines-”


“Ada apa dengan Ines.” Nicolas berdiri dengan wajah panik.


“Dia memintaku memberikan ini padamu.” Marta menyarahkan kunci.


“Lalu Ines di mana?”


“Itu dia … tadi ada dua orang laki-laki mengawasinya di taman.”


“Astaga! Papi ini bereskan secepatnya.” Nicolas menyerahkan kunci itu pada  papinya dan ia berlari keluar di susul Heru dan Axell.


“Ada apa sebenarnya?” tanya Axell.


“Ines dalam bahaya, ada orang yang ingin menculiknya,” jawab Heru.


Apakah Ines bisa melarikan diri dari orang-orang yang ingin menculiknya?


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2