Buka Hatimu Kembali Untukku

Buka Hatimu Kembali Untukku
Berjuang Bersama


__ADS_3

Ines  setuju ikut ke Jerman demi keselamatannya dan bayinya.


Mereka akhirnya terbang ke Jerman menggunakan jet pribadi milik keluarganya, jet itu juga salah satu harta yang paling diincar Suroto, semua aset Darto atas nama Ines Pratama. Maka itulah Bu Narti meminta Ines meninggalkan Jakarta, sebelum Suroto memutar balikkan fakta.


Akan tetapi  saat tiba di jerman, Hendra tidak membawanya ke rumah Ines, ia membawa Ines ke rumah yang lain .


Sekarang mereka tinggal berdua dalam satu atap.


“Siapa kamu sebenarnya?” tanya Ines saat ia terbangun ia sudah di ruma. Ia sadar rumah itu bukanlah rumahnya tetapi rumah dr Hendra dan Marta. Ines memegang lehernya sepertinya ia diberi  obat tidur sampai ia  tertidur pulas. “Kenapa kamu tahu tentang rumah ini. Ini rumah Ko Hendra dan Marta,” ujar Ines panik.


“Aku dr. Hendra Nes, aku seorang dokter. Dokter kandungan apa kamu lupa itu?"


“Ko Hendra sudah meninggal. Apa kamu mau menipu kami?”


“Terserah, tapi aku tahu semua tentang kamu dan Nicolas aku pikir itu sudah cukup  membuktikan siapa Aku,” ujar Hendra.


'Ya Tuhan siapa sebenarnya laki-laki ini. Kenapa dia tahu semua tentang Nicolas? tanya Ines dalam hati.


Ines merasa takut pada Hendra palsu, tapi justru terbalik dengan sikap Lelaki itu,dia memanfaatkan kesempatan sebagai seorang Dokter kandungan.


“Kita berdua sama-sama sama dokter, tapi jalurnya berbeda, kamu di bagian jantung dan Aku  bagian anak dan kandungan, jadi aku lebih banyak tau dari pada kamu tentang kehamilan,” ujar Hendra.


“Aku tidak yakin kamu itu seorang dokter,” ujar Ines, ia meninggalkan Hendra dan mengunci diri di kamar.


Ines sangat ketakutan, ia beberapa kali mengusap perutnya yang kram karena ia panik, sebabnya bayi dalam kandungan Ines seolah-olah ikut merasa takut, ia ikut gelisah.


"Tenanglah Sayang, kita pasti akan baik-baik saja. Daddy pasti akan menjemput kita, dia sudah berjanji sama mommy," ujar Ines mengusap perutnya yang membesar.


Ines mengalami gejolak layaknya wanita hamil, takut, cemas, itulah yang ia dirasakan. Untuk pertama kalinya ia menangis memanggil nama suaminya.


“Ko, Aku sangat takut bagaimana ini. Bagaimana kalau laki-laki jahat ini suruhan wanita itu … Bagaimana kalau dia menyakiti anak kita,” ujar Ines ia mengusap-usap perutnya yang membesar.


Ines mengurung diri di kamarnya tidak mau bertemu Hendra palsu.


Sedari tadi Hendra berkutat di dapur menyiapkan sarapan untuk mereka, tapi Ines belum menunjukkan batang hidungnya,


" Nes! ... Dokter! Apa kamu baik-baik saja?"

__ADS_1


Ia mengetuk kamar Ines tapi tidak ada sahutan. Hendra mulai panik, takut terjadi sesuatu lalu mendobrak pintu kamar.


Ines pingsan setelah memilih menahan lapar dari pada makan bersama dengan lelaki penipu tersebut.


“Ines, kamu tidak apa-apa?” Lelaki itu mengangkat ke tempat tidur dan memeriksanya layaknya seorang dokter profesional.


Ia bahkan menempatkan dirinya sebagai Dokter kandungan untuk Ines.


“Bangunlah Nes, kamu kenapa menyakiti dirimu dan bayimu apa kamu tidak kasihan,” ujar lelaki itu dengan wajah panik.


Karena Ines tidak makan apa-apa sejak mereka tiba, ia memasang infus di tangan Ines, ia juga memeriksa kandungan Ines layaknya seorang dokter.


“Kamu kenapa  tidak memikirkan bayimu,” ujarnya bicara sendiri.


\*


Ines sangat depresi, ia memikirkan nasib anaknya dan nasib keluarga yang lain. Ia  mengharapkan Nicolas menjemputnya tetapi suami yang ia  harapkan untuk datang melihatnya tak kunjung datang.


Di sisi lain.


“Apa kalian tidak bisa mencari cara agar alat ini bisa berfungsi lagi. Siapa suruh melepaskan ini dari tanganku?” tanya Nicolas, saat alat yang dipasang Ines dari tangannya dilepaskan dokter.


“Pak Nicolas kami melakukan itu untuk menyelamatkan nyawa Bapak.”


“Kenapa? Apa ini beracun?” Ia menatap kedua dokter itu dengan tajam.


“Saat bapak di lempar ke dalam air luka di tangan bapak infeksi dan mengeluarkan nana. Dari pada kenapa-kenapa kami mengeluarkannya dari tangan bapak,” tutur dokter.


“Tapi Aku kehilangan komunikasi dengan istriku. Dia pasti sedih karena tidak bisa bicara denganku. Aku tidak tahu bagaimana nasib dia sekarang . Mungkin bajingan itu sudah menyakitinya,” ujar Nicolas meremas kepalanya dengan marah.


Kali ini Dimas tidak berkomentar. Ia tau lelaki itu sudah di puncak kemarahannya dan mungkin depresi juga karena perginya Ines dengan Hendra.   Ines pergi meninggalkannya, tanpa memberitahunya, tapi bagaimana memberitahukannya, jika keadaannya sulit seperti ini?


“Kami hanya melakukan yang terbaik.”


“Bukan terbaik buat saya,” ketus Nicolas, lalu pergi ke kamarnya meninggalkan mereka semua.


Tidak lama kemudian, sebuah  berita muncul kembali di televisi kalau Nicolas sudah menikah dengan Sonia.

__ADS_1


“Apa benar Lo menikahi Sonia?” tanya Dimas ia mendatangi Nicolas, ia penasaran.  


Dulu ia juga sempat ada perasaan pada wanita itu, namun dia menyimpan perasaanya, karena keterlibatan Ayahnya Sonia di berbagai bisnis illegal, mulai penjualan organ manusia


Dimas juga mendapat kabar sudah sangat lama lelaki itu melakukan kejahatannya, mereka menjual organ tubuh anak- anak jalanan.  Karena itulah Dimas ikut kerja sama ingin menangkap Suroto.


 Dimas menyelidiki dan bekerjasama dengan Nicolas. Dimas orang yang Religius yang taat pada agamanya, mendengar anak jalanan korban penculikan dan pengambilan organ, dengan tidak manusiawi, membuat hatinya tergerak, apalagi salah satu anak jalanan yang di adopsinya  yang selalu datang mengaji padanya mendadak hilang satu tahun lalu.


Itu awal mulanya, ia menyelidiki keterlibatan Suroto dan orang- orangnya, karena itu juga Ia mengurungkan niatnya, melanjutkan perasaanya pada Sonia wanita yang sejak dari sekolah ia sukai.


"Benar kamu menikah wanita itu?" tanya Dimas lagi.


“Ya kami menikah di KUA.”


“Ha …! jadi beneran. Berarti dia juga istrimu, tadinya aku pikir hanya tunangan ,” ujar Dimas.


“Iya” Jawab Nikolas dengan tatapan mata kosong tidak bermakna.


“Kenapa perasaan orang jadi taruhannya, Jadi pernikahan itu hanya Modus?”


“Terus apa yang bisa ku perbuat, Jika saja Polisi tidak dibisa di beli dengan uang , saya tidak melakukan hal kejam seperti ini, kamu pikir saya suka mempermainkan dan mengorbankan perasaan Istriku , saya juga korban di sini! Jadi berhentilah mengintimidasiku,” kata Nikolas wajah itu benar- benar di puncak amarah.


“Apa kamu juga melibatkan Ines istrimu dalam rencana ini?” tanya Dimas.


“Aku tidak ada niat melibatkan dia. Aku hanya tidak ingin diteror Suroto terus menerus, Aku bahkan tidak tahu nasib Ines sekarang bagaimana. Ya Tuhan bagaimana cara menyelamatkan." Nicolas mengigit kepalan tangan dengan kuat ia ingin menangis rasanya memikirkan nasib istrinya.


“Apa Ines tahu dia Hendra palsu?” tanya Dimas.


”Ya, dia mungkin ingin menyelidiki Hendra palsu itu juga."


"Lalu bagaimana kalau ternyata Hendra palsu itu satu jaringan dengan Suroto,” ujar Dimas.


Mendengar Hendra palsu dari  jaringan Suroto wajah Nicolas semakin panik, ia memegang dada saat memikirkan Ines yang sedang hamil besar ada di tangan seorang penjahat. Mereka berdua sama-sama menderita.


‘Kamu harus kuat sayang … bertahanlah, aku akan menyelamatkanmu’ Nicolas bicara dalam hati.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2