Buka Hatimu Kembali Untukku

Buka Hatimu Kembali Untukku
Karena Merasa Bersalah.


__ADS_3

Ines bangun kesiangan setelah sepanjang malam ia tidak bisa tidur, ia buru-buru bangun setelah membasuh wajahnya ia turun ke lantai bawah , matanya menoleh kanan kiri mencari seseorang. Ia masih mengantuk dan niatnya akan berangkat siang ke rumah sakit. Rumah sakit impiannya sudah jadi dibangun dan Ines yang jadi kepala rumah sakit di sana. Apa yang dikatakan Pak Darto benar, perusahaan mereka akan maju jika Nicolas yang pegang dan bekerja sama dengan Ines.


‘Apa dia sudah berangkat ke kantor? Bagaimana  luka di kepalanya’ Ines sibuk bertanya dalam hati, ia menuju dapur, ternyata di meja makan ada Nicolas yang sudah duduk menikmati serapan bersama Keanu dan Amber.


“Selamat pagi Mommy,” sapa si cantik Amber.


“Selamat pagi sayang, sudah siap sekolah?”


“Sudah Dong Mi,” jawab anak perempuan berambut panjang itu dengan wajah ceria.


Amber dan Keanu sudah  masuk  PAUD, itu mereka lakukan agar Amber dan Keanu punya banyak teman lagi dan lebih mudah bersosialisasi dengan  seumurannya, awalnya Bu Narti menolak  karena ia merasa kesepian saat anak-anak sekolah dan orang tua mereka sibuk berkarier. Maka Ines meminta Bu Narti yang mengantar mereka ke sekolah, agar wanita paruh baya itu ada kegiatan tidak merasa kesepian lagi.


“Nes … apa kamu tidak kerja hari ini?” tanya Bu Narti, ia mengawasi kedua suster   menyajikan bekal untuk Keanu dan  Amber. Marta sama-sama sibuk berkarier, yang banyak mengurus anak-anak  mereka suster dan Bu Narti.


“Nanti siangan Bi,” jawab Ines  ia duduk di meja makan tepat di depan Nicolas, menatap wajah sang suami yang tiba-tiba berubah dingin.


“Apa Mami masih tidur?” tanya Ines, ia bertanya sama Amber tapi tatapan matanya sama Nicolas.


“Mami pagi-pagi sekali sudah berangkat,” jawab Amber.


“Dia ingin bertemu dokter  katanya,” sahut Bu Narti.


“Dokter untuk apa Bi, bukannya dia libur hari ini?


“Bibi tidak tau …  dia hanya bilang ada janji sama doker saja, tidak menjelaskan untuk apa,” tutur Bu Narti.


Marta jadi kepala perawat di rumah sakit mereka, ia menyibukkan dirinya dalam pekerjaan.


Ines duduk meraih roti dan mengoleskan selai  coklat ke roti, tatapan matanya sesekali tertuju pada Nicolas yang duduk dengan wajah datar,  perban putih masih menempel di kepalanya.


“Mbak nanti … tolong kamar mandi atas disikat yang  bersih , kasihan Daddy Keanu terjatuh di kamar mandi,” ujar Bu Narti.


Ines langsung terbatuk- batuk mendengar Nicolas terjatuh di kamar mandi padahal itu hasil perbuatanya.


“Kamu tidak apa-apa Nes?” Tanya Bu Narti, ia menahan senyum, sebenarnya saat Ines berlari mengambil kotak obat ke kamarnya, Bu Narti melihat, tapi saat ditanya Nicolas terpaksa berbohong, ia  mengatakan kalau ia jatuh di kamar mandi.


“Oh, tidak apa-apa Bi,” ucap Ines dengan wajah  memerah.


‘Harusnya kamu tidak pakai emosi menghadapi suamimu, apapun alasannya jangan melakukan kekerasan sama suami, itu salah’ ucap Bu Narti dalam hati.


“Ya, kasihan  Daddy kepalanya terluka,” ujar Amber juga.

__ADS_1


Anak perempuan itu akhirnya mau memanggil Nicolas dengan sebutan Daddy setelah mendengar Keanu memanggil  seperti itu.


Melihat wajah anak-anak pintar itu, menunjukkan rasa semati sama Nicolas  Ines semakin merasa bersalah, Ines  berdiri.


“Aku mau mandi dulu.”


“Eh, serapannya gak dihabisin dulu?” tanya Bu Narti.


“Nanti saja Bi, Aku merasa gerah.”


Nicolas tertawa dalam hati saat melihat Ines gugup, ia tampak seperti pencuri yang tertangkap basah, di kamarnya Ines mondar- mandir seperti setrikaan.


“Aduh, apa yang Aku lakukan, harusnya Aku menahan amarah tadi malam,” ujar Ines mendumal sendiri di dalam kamar.


Setelah serapan  dan anak-anak sudah berangkat ke sekolah, Nicolas naik lagi  ke atas, ia sengaja membesarkan volume suaranya saat menelepon sektretaris agar Ines merasa bersalah.


 Nicolas  bicara dengan sekretarisnya untuk membatalkan rapat hari  itu, karena ia merasa pusing. Ines semakin merasa bersalah, ia keluar dan melihat Nicolas duduk di balkon lantai dua.


“Apa kamu tidak bekerja?” Nicolas kaget, karena Ines tidak pernah bicara padanya kalau bukan Nicolas sendiri yang mengajaknya bicara duluan.


“Ya, Aku merasa kurang enak badan,” jawab Nicolas.


“Aku bisa memeriksamu.”


‘Bu Ines, biasanya juga panggil pakai  nama saja tidak pernah pakai Bu, bu’ Wanita itu membatin.


“Tidak, Aku tidak akan repot, ayo ke kamarku Aku sudah  mempersiapkan obat dan Aku akan mengganti perban di kepalamu.”


Nicolas sangat senang, pada akhirnya sang istri memperbolehkannya masuk ke kamarnya, biasanya Ines paling tidak suka ada laki-laki masuk ke ke kamarnya walaupun itu Nicolas suaminya sendiri.


“Duduklah di sini,” ujar Ines meminta Nicolas duduk di sisi ranjang.


Mata lelaki itu menatap ke sekeliling kamar Ines, Ines  tipe orang yamg tidak suka dengan warna  cerah, ia lebih suka warna gelap mendominasi kamarnya.


“Aku akan mengganti perban, tahan sedikit.”


“Ini tidak begitu sakit sebenarnya, hanya pusing saja.”


“Setidaknya biarkan Aku memeriksa untuk memastikan lukanya.”


“Baiklah lakukan saja.” Nicolas diam, tapi matanya menatap wajah Ines begitu dekat, Ines tampak grogi saat wajahnya dilihatin seperti itu.

__ADS_1


“Apa kamu akan bersikap seperti itu kalau ada pasien laki-laki?” tanya Nicolas.


“Mereka tidak menatapku seperti yang kamu lakukan.”


“Aku melihat waja istriku, apa itu salah?”


Ines diam, ia tidak mengatakan apa-apa, ia melakukannya  dengan cepat.


“Apa waktu enam tahun tidak cukup menghukum ku? Sampai kapan kamu akan bersikap dingin seperti ini padaku. Apa nanti kata Keanu jika kia seperti ini.”


“Aku sudah pernah bilang padamu ayo kita  berpura-pura.”


“Apa hanya berpura-pura yang bisa kamu lakukan? Kenapa kamu tidak mencoba membuka hatimu?”


“Itu sulit bagiku,” ucap Ines ikut marah.


“Itu sulit bagimu, setidaknya lakukan demi Keanu dan Amber, selama ini mereka berdua melihat orang tua utuh dari Marta dan Hendra, lalu sekarang mereka melihat suami istri yang bermusuhan.”


“Lalu kamu ingin bagaimana?” Ines menatap wajah Nicolas  dengan marah.


“Aku ingin kita hidup bersama layaknya suami istri.”


“Kita kan sudah tinggal satu rumah, lalu apa yang kamu inginkan lagi?”


“Tidur satu kamar denganmu,” jawab Nicolas tegas.


“Baik mari lakukan itu kalau itu yang kamu inginkan.”


“Baik.” Nicolas tersenyum.


‘Kamu tidak akan aku lepaskan ‘ ucap Nicolas dalam hati.


“Baiklah, Aku sudah mengganti perbannya kamu boleh keluar.”


“Aku ingin tidur  dalam kamarmu di mulai dari sekarang.” Nicolas  naik ke ranjang lalu menarik selimut.


“Apa yang kamu lakukan, kenapa  harus sekarang ?”


“Diamlah, tadi malam Aku tidak bisa tidur kepalaku pusing karena pukulanmu sangat keras.” ujar Nicolas, ia mengambil kesempatan dalam  kemalangan yang ia terima tadi malam.


Apakah  kejadian ini akan jadi awal yang baik untuk hubungan mereka?

__ADS_1


Bersambung.


Kakkak yang baik  tolong bantu vote like komen ya terimakasih


__ADS_2