
Walau Ines marah dan benci dengan Nicolas, ternyata ia masih mengingat pesan sang kakek. Pak Darto pernah berpesan kalau Gunawan dan Nicolas mampu menjalankan perusaan itu dengan baik. Malam itu sebelum Ines membuat keputusan besar di perusahaan, mereka berunding dulu.
Ines tadinya ingin Heru yang akan memimpin perusahaan, tidak ingin orang lain. Rupanya Heru mengajurkan Gunawan dan Nicolas. Keputusan yang diambil Heru ada benarnya juga, lebih baik ia jujur di awal, dari pada berambisi tinggi Namun tidak punya keahlian.
“Aku tidak ingin mereka,” ujar Ines menolak Nicolas .
“Nes, Pak Deon dan Duha sudah mengumpulkan semua karyawan untuk berdemo menolakku. Aku tidak ingin ada perebutan dan pertumbuhan darah. Sebenarnya Aku lebih senang tinggal di kampung mengurus perkebunan dan panti di sana pikiranku lebih tenang,” ujar Heru.
“Bibi juga Nes, tinggal di Jakarta Bibi suka stres dengan kebisingan dan kemacetan jalan di sini.”
“Lalu bagaimana dengan perusahaan? Apa Aku harus menyerahkan pada mereka?”
‘Mereka itu keluarga suamimu Nak, ayah mertuamu’ ucap Bu Narti dalam hati tapi ia tidak menyahut.
“Itu pesan Kakekmu Nak,” ujar Bu Narti dengan suara lembut.
Apapun yang berhubungan dengan Nicolas mereka akan bicara hati-hati pada Ines,
“Kenapa kakek memberikan perusahaan pada orang lain?”
Mereka semua saling menatap saat Ines menyebut Nicolas orang lain. Hendra hanya bisa menghela napas panjang saat kemarahan Ines belum reda pada Nicolas dan keluarganya yang lain. Jauh di dalam hatinya ia kasihan pada adiknya. Sampai saat itu ia belum menemukan cara bagaimana untuk menghilangkan kebencian Ines pada Nicolas.
“Kalau suamimu sendiri orang lain, lalu kami ini apa Bu Dokter,” ucap Hendra.
“Kalian keluargaku , tapi tidak dengan lelaki itu dan keluargamu yang lainnya,” sahut Ines dengan wajah datar.
“Jangan terlalu membenci suami. Terkadang kata-kata benci yang kita lontarkan itu justru kebalikannya,” ujar Hendra bergurau.
Heru masuk ke dalam kamar, membawa sebua kertas yang bertanda tangan, isi dalam surat tersebut Pak Darto menyerahkan kepemimpinan perusahaan pada Nicolas, jika, ia masih suami Ines.
“Oh, karena itu dia tidak mau menceraikan,” ujar Ines.
“Nes, Nicolas tidak tahu tentang ini … uang yang kamu berikan saat itu saja ditolak sama dia,” ucap Bu Narti.
“Duha dan papanya orang yang nekat Nes , mereka bukan tandingan Heru, kalau kamu memaksakan Heru yang memegang perusahaan dia akan jadi bulan-bulannya. Jangankan Heru abangnya sendiri dianggap musuh karena harta,” ucap Hendra.
__ADS_1
Ia memberi usulan pada Ines, karena ia sudah tahu bagaimana sifat Deon dan Duha, ia tahu semua tentang sifat tamak mereka, karena selama mereka tinggal satu atap . Duha dan Papanya selalu menganggap Gunawan dan Nicolas musuh yang harus disingkirkan.
“Jadikan Gunawan dan Nicolas yang memimpin perusahaan. Aku yakin semua karyawan akan menerima mereka. Dulu aat Gunawan memimpin perusahaan ada kemajuan,” ujar Bu Narti.
‘Baiklah Nes, lakukan saja … setelah kamu melakukan dan mengurus semuanya Aku akan pergi lagi’ Ines membatin.
“Baiklah, karena kalian semua mendukung Aku akan melakukannya.” Ines tidak bisa menolak karena Heru menolak jadi pemimpin perusahaan dan mereka mendukung Gunawan Ines akhirnya setuju.
“Aku yakin Oma, Duha dan papanya akan semakin gila saat melihat Nicolas yang jadi direktur perusahaan.
Ines benar-benar menunjukkan siapa dirinya yang sebenarnya, besok harinya benar-benar mengatasi semua masalah yang ada di perusahaan kakeknya.
Ia tidak main-main dengan ucapannya untuk menggantikan nama perusahaannya, walau Marisa dan keluarganya menolak untuk mengganti nama perusahaan, tapi ia melakukannya, Ines tidak mau tunduk pada Marisa.
“Apa kamu tahu bagaimana perjuangan kakekmu sama suamiku memilih nama itu?” tanya Marisa.
“Aku tidak tahu dan tidak mau tau. Saat ini detik ini nama perusahaan ini ‘Ines Pratama’ titik,” ujar Ines menandatangi dokumen pergantian nama perusahaannya.
“Aku yakin perusahaan ini akan hancur,” ujar Marisa dengan marah.
Nicolas, Heru Bu Narti sampai melongo mendengar Ines bicara seperti itu, selama ini, mereka mengenal Ines wanita yang selalu merendah dan tidak pernah memamerkan harta keluarganya. Tapi saat berhadapan dengan Marisa ia seakan-akan menunjukkan siapa dirinya. Marisa terdiam, ia akhirnya sadar wanita yang dulu ia jodohkan dengan cucunya sudah berubah, ia bukan wanita yang lemah lagi.
“Apa kamu pamer padaku?” tanya Marisa.
“Bukan hanya pamer, Aku juga ingin menunjukkan padamu harta yang dimiliki keluargaku. Harta peninggalan kakekku tidak akan habis tujuh turunan. Apa kamu punya harta sebanyak itu Nyonya?” tanya Ines berbisik di telinga Bu Marisa.
Wajah wanita itu seketika menegang karena menahan emosi.
“Dengar … jangan sombong, itu tidak ada apa-apanya bagiku.”
“Jangan marah. Orang tua seperti kamu seharusnya menikmati hidup dan bersenang-senang di rumah jika punya banyak harta,” ujar Ines dengan santai.
Apa yang dikatakan Ines mampu membakar hati Marisa, selama ini semua orang selalu tunduk dengan perintahnya, tak terkecuali anak dan cucunya. Bahkan Mami Nicolas memilih hidup terpisah karena tidak tahan dengan sikap ibu mertuanya.
“Lalu apa yang ingin kamu lakukan lagi? Apa kamu ingin menjadikan anak kecil itu untuk memimpin perusahaan sebesar ini?” tanya Marisa.
__ADS_1
“Apa menurut Ibu ada nama yang lebih baik dari itu?”
“Tentu, Deon dan Duha akan berusaha lebih baik lagi.”
“Aku rasa putra dan cucu kesayanganmu itu tidak bisa melakukan apa-apa, dia hanya bisa melakukan korupsi. Aku punya calon yang bisa memimpin perusahaan.”
Heru mendorong kursi roda Gunawan, wanita itu menatap anak tirinya tersebut dengan kaget, setelah keluarga mereka terpecah Ia akhirnya menunjukkan siapa dirinya sebenarnya. Selama Gunawan sakit ia tidak bertanya bagaimana keadaannya dan bagaimana biaya pengobatan yang dihabiskan anak sambungnya tersebut.
‘Kenapa harus dia! Tidak, tidak boleh. Deon dan Duha yang berhak atas perusahaan yang dibangun suamiku’ ucap wanita itu dalam hati.
“Kenapa kamu membawa Gunawan ke kesini, dia sedang sakit.”
“Hanya kakinya yang sakit, karena ulah seseorang yang mencoba meracuninya. Tapi kalau pemikirannya dan kemampuan sebagai pemimpin masih tetap sama,” ujar Ines.
“Apa kamu ingin orang yang duduk di kursi roda yang memimpin perusahaan besar ini?”
“Bukan, tapi dia yang akan memimpin perusahaan,” ujar Ines menunjuk Nicolas, “Kenapa? Mereka juga kan anakmu dan cucumu, kenapa terlihat kecewa apa terjadi sesuatu?” tanya Ines, tersenyum miring melihat Marisa yang gelagapan.
“Ti-tidak a-aku juga senang,” ucapnya terbata-bata.
Lalu Ines Kembali mendekatkan bibirnya ke kuping wanita itu.
“Kenapa tidak bilang saja kalau Anda hanya ibu tiri,” bisik Ines.
Wajah Marisa langsung memerah bagai tomat.
‘Dari mana dia tau?’ tanya wanita itu dalam hati menatap Ines dengan mata melotot.
Setelah menetapkan Nicolas dan papinya yang memimpin perusahaan, Ines meninggalkan ruangan tanpa menyapa Gunawan dan Linda, bahkan tidak mengucapkan kata selamat pada Nicolas dan papinya. Kalau bukan karena wasiat kakeknya, Ines tidak akan melakukan hal itu. Linda hanya bisa diam saat Ines menantunya pergi begitu saja tanpa menyapanya.
‘Aku berharap api kemarahan dalam hatimu padam Nes dan Kami semua bisa melihat senyum manismu lagi’ ucap Bu Atin, Ia dan Heru hanya bisa diam saat Ines meninggalkan ruangan itu setelah menandatangani semua berkasnya.
Bersambung.
Bantu like, Vote dan komen ya terimakasih
__ADS_1